Saya pengguna KA Sri Tanjung sejak dahulu. Kereta api kelas ekonomi PSO (subsidi pemerintah) ini jauh lebih nyaman dibanding belasan tahun lalu. Dahulu, gerbong kereta itu terasa seperti pasar tumpah. Pedagang bebas lalu lalang menjajakan makanan dan minuman. Bahkan, dahulu saya sempat melihat penumpang membawa hewan peliharaan ke dalam gerbong kereta.
Iya suasana KA Sri Tanjung belasan tahun lalu memasang chaos. Namun, sekarang kondisinya berbeda, jauh lebih nyaman dan tertata. Tidak ada lagi pedagang lalu lalang dan tiap penumpang pasti dapat tempat duduk. Harga tiketnya pun masih ramah di kantong. Bayangkan, harga tiket rute terjauh, Stasiun Lempuyangan (Jogja) ke Stasiun Ketapang (Banyuwangi) yang berjarak lebih dari 600 km itu hanya Rp94.000.
Akan tetapi, walau sudah dirombak total, ada suasana chaos yang rasa-rasanya tidak pernah hilang dari KA Sritanjung. Ada-ada saja hal unik yang terjadi ketika naik kereta ekonomi ini.
#1 Penumpang KA Sri Tanjung ngobrol dengan suara keras
Kereta itu tempat umum. Setiap orang yang duduk di gerbong punya hak yang sama untuk merasa nyaman. Sayangnya, tidak semua penumpang KA Sri Tanjung menyadari hal itu.
Pengalaman saya akhir tahun lalu misalnya, saat menempuh perjalanan Jember ke Solo. Ada 2 penumpang yang tidak henti-hentinya ngobrol dari Jember hingga Solo. Padahal perjalanan yang panjang lho itu, bisa hampir 10 jam. Kok ya nggak capek-capek ngobrol.
Sekadar ngobrol sih sebenarnya nggak masalah ya. Persoalannya suara dua orang ini benar-benar memenuhi gerbong. Saya sampai tahu topik apa saja yang mereka obrolkan, mulai dari pengalaman hidup, keluarga, teman, pekerjaan, dan banyak hal remeh lain.
Uniknya nih, dua penumpang ini awalnya tidak saling kenal. Mereka baru berkenalan ketika duduk berhadapan. Mungkin, desain kursi yang berhadapan dan adu dengkul membuat mereka mau tidak mau saling sapa. Eh, malah akhirnya jadi akrab.
#2 Rebutan rak bagasi sering terjadi di KA Sri Tanjung
Pelayanan KA Sri Tanjung mungkin sudah banyak berubah, tapi tidak dengan penumpangnya. Penumpang kereta api ekonomi ini punya ciri khas sendiri sejak dahulu yakni membawa barang kelewat banyak.
Ujung-ujungnya, ada saja penumpang yang meletakkan barangnya di jatah rak bagasi penumpang lain. Yang paling sial adalah penumpang seperti saya yang naik kereta tidak dari stasiun awal keberangkatan Lempuyangan atau Ketapang. Saya naik biasanya naik dari Solo dan turun Jember atau sebaliknya.
Saya pernah mengalaminya ketika terakhir kali naik KA Sri Tanjung dari Jember. Ternyata bagasi yang menjadi hak saya sudah dipenuhi barang penumpang lain (satu koper besar dan 2 kardus besar). “Mas ini nomor kursi kami sekeluarga 9DE dan 10 DE. Berarti bagasi yang ada di atas kursi ini hak saya untuk menaruh barang saya, mengapa anda yang nomor tiketnya 6C meletakkan seluruh barang anda disini?” saya menjelaskan.
Bukannya sadar, penumpang ini malah membantah. “Saya naik kereta lebih dulu, makanya saya bebas meletakkan barang dimana saja,” sergahnya sok kuasa. Hadeh!
Sayapun keukeuh agar barang milik penumpang itu harus dipindah. Pikiran saya saat itu, kalau kita sungkan atau mengalah kepada orang yang tidak tertib, maka kejahatan akan menang. Dan saya nggak mau hal itu terjadi.
#3 Mesti ekstra sabar pada orang tua yang membawa bocil
Saya tidak menyalahkan orang tua yang bepergian naik kereta bersama anak-anak. Kalau ada kesempatan dan pilihan lain yang lebih nyaman, mereka pasti akan memilihnya demi anaknya. Saya tidak pernah tahu kondisi sedang mereka alami sehingga naik kereta ekonomi Sri Tanjung.
Sayangnya, banyak orang tua bak tidak peduli kalau anaknya berperilaku merugikan penumpang lain. Mereka diam saja ketika anaknya teriak-teriak, lari-lari, loncat-loncat dan mereka tetap diam. Bahkan, tidak ada ungkapan atau gesture merasa bersalah soal itu. Celana saya pernah kotor gara-gara diinjak sepatu anak kecil yang berlompatan dari bangku satu ke bangku yang lain.
#4 Rawan salah naik kereta
Penumpang yang kurang teliti bisa saja salah naik KA Sri Tanjung di Stasiun Surabaya Gubeng. Beberapa penumpang keblasuk salah naik kereta, antara Sri Tanjung rute Lempuyangan-Ketapang (arah ke timur) dengan Sri Tanjung rute Ketapang- Lempuyangan (arah ke barat).
Dua KA Sri Tanjung yang berlawanan arah itu memang bertemu (bersilang) di Surabaya. Selisih waktu kedatangan dan keberangkatan yang berhimpitan ini menyebabkan sering terjadi calon penumpang salah masuk kereta di Stasiun Gubeng.
Pada Februari lalu saya pernah ketemu suami istri yang akan pergi ke Pelabuhan Ketapang dan akan lanjut ke Bali. Selepas Stasiun Wonokromo, mereka kaget bukan kepalang setelah mengetahui kereta yang ditumpangi itu berbelok mengarah ke Yogyakarta.
Itulah kelakuan-kelakuan “aneh” penumpang KA Sri Tanjung. Unik ya, walau kondisi dan fasilitas keretanya sudah jauh lebih baik, tipe penumpangnya masih mirip-mirip.
Akan tetapi, di balik perilaku “aneh” itu, ada satu hal yang bikin saya senang naik kereta ekonomi satu ini. Penumpang biasanya saling kenal selama perjalanan sehingga tercipta suasana guyub rukun. Kadang banyak ilmu bisa saya dapat dari obrolan di kereta. Beruntung juga jika kita ketemu satu keluarga yang naik KA dengan membawa banyak makanan. Kita akan kecipratan makanan yang mereka bawa. Bahkan, dengar-dengar ada yang bisa ketemu jodoh juga. “Betul pak, teman saya itu ketemu jodohnya waktu naik kereta ini. Saling sapa saling akrab, tukar nomor HP, akhirnya jadian deh,” cerita salah satu penumpang yang duduk di sebelah saya.
Penulis: Erdy Priharsono
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Sisi Gelap KA Feeder Whoosh, Fasilitas Gratis yang Bikin Penumpang Whoosh Merasa Miris.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.













