Kenyamanan yang jauh dari ekspektasi
Enam jam perjalanan dengan KA Bengawan di kursi tengah yang berdempetan dengan formasi berenam itu benar-benar terasa panjang. Saya nggak bisa menikmati pemandangan karena ketutup dua orang di samping. Mau tidur pun susah karena kursinya tegak 90 derajat tanpa bisa diatur kemiringannya.
Bahkan sandaran kepalanya pun nggak ada. Jadi waktu ngantuk dan kepala jatuh ke samping, langsung kena bahu orang sebelah. Awkward banget.
AC di gerbong juga kurang merata. Bagian depan dingin banget sampai penumpang pada pakai jaket, sementara bagian belakang gerah. Kebetulan kursi saya di bagian yang gerah, jadi sepanjang jalan berasa pengap.
Stopkontak dan USB port? Jangan harap. Saya harus pasrah melihat baterai HP turun drastis tanpa bisa dicharge. Untung saya bawa powerbank, tapi tetap aja nggak sepraktis kalau ada colokan di dekat kursi.
Pelajaran berharga dari perjalanan bersama KA Bengawan
Setelah pengalaman naik KA Bengawan itu, saya jadi lebih menghargai kereta-kereta yang sudah upgrade fasilitasnya. Kereta ekonomi new generation dengan captain seat dan formasi 2-2 itu bukan cuma soal gengsi, tapi benar-benar soal kenyamanan dan hak setiap penumpang.
Soal drama kursi jendela yang diambil orang lain, saya belajar bahwa penting untuk tegas memperjuangkan hak kita. Ngalah itu baik, tapi kalau terus-terusan ngalah, kapan kita bisa menikmati sesuatu yang sudah kita bayar dengan benar?
Untuk KA Bengawan sendiri, saya berharap ke depannya bisa upgrade seperti kereta ekonomi lainnya. Formasi duduk berenam yang berdempetan ini sudah nggak relevan lagi di era modern. Penumpang butuh ruang pribadi, kenyamanan, dan yang paling penting, tempat duduk sesuai yang sudah mereka pesan.
Sampai KA Bengawan berubah, sepertinya saya akan cari alternatif kereta lain dulu kalau mau bepergian. Pengalaman sekali ini cukup buat jadi pelajaran kenyamanan perjalanan itu penting, dan kita berhak mendapatkan apa yang sudah kita bayar.
Penulis: Alifia Putri Nur Rochmah
Editor: Intan Ekapratiwi
BACA JUGA Ambarawa Ekspres, Kereta Api yang Menyesatkan Calon Penumpang.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















