Jurusan Sastra Rusia dan Stereotip Komunis yang Melekat di Dalamnya – Terminal Mojok

Jurusan Sastra Rusia dan Stereotip Komunis yang Melekat di Dalamnya

Artikel

“Kamu ini berani-beraninya masuk Sastra Rusia, Rusia itu kan komunis! Dulu Mbah Kakungmu itu ikut perang lawan PKI kok kamu malah masuk Sastra Rusia?”

Kira-kira begitu yang disampaikan pakdhe saya ketika saya bercerita bahwa saya melanjutkan studi saya di jurusan Sastra Rusia, Universitas Padjadjaran. Dalam acara kawinan saudara sepupu Ayah saya, pakdhe saya tiba-tiba menanyakan jurusan saya di Universitas Padjadjaran. Ketika saya jawab Sastra Rusia, beliau kaget dan mengatakan hal tersebut.

Beliau mencak-mencak juga bukan tanpa alasan, sebab apa yang beliau katakan itu ada benarnya. Mbah saya dulu ikut menumpas PKI di daerah Kedu, yang mana tentu saja tak akan saya bahas lebih detailnya karena saya bukan Tim Gabungan Pencari Fakta. Namun, beliau pun salah ketika menyebutkan “Rusia itu komunis” yang seakan-akan beliau menyuruh saya untuk ujian SBMPTN lagi tahun depan karena jurusan saya menyesatkan.

Stereotip orang terhadap jurusan Sastra Rusia memang tidak bisa dipisahkan dari Uni Soviet. Negara adidaya yang berideologi komunis yang punya sejarah yang cukup panjang dalam percaturan politik internasional. Yaaah, setidaknya cukup panjang untuk mencuci otak Pakdhe saya akan Rusia yang udah nggak komunis lagi, setidaknya sejak bubarnya Uni Soviet pada 1991.

Ketakutan masyarakat Indonesia terhadap komunisme tentunya tak lepas dari 2 peristiwa besar yaitu pemberontakkan PKI di Madiun pada 1948 dan G30S/PKI pada 1965. Kala itu, akhir pemerintahan Orde Lama memang sedikit condong ke Blok Timur yang dipegang Uni Soviet dan Cina, dua negara penganut komunisme terbesar di dunia. Agaknya sejarah akan komunisme tersebut berbekas kepada para sesepuh-sesepuh kita yang sedari kecil dididik oleh Departemen Penerangan untuk menyaksikan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer.

Angkatan 70-an hingga 90-an awal mungkin merasakan hal tersebut. Sepengalaman ibu saya, tiap kali Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, TVRI selalu menayangkan film tersebut. Penanaman pemahaman bahwa “PKI itu komunis, komunis itu ateis” agaknya juga berasal dari sini. Brainwash terselubung itulah yang membuat masyarakat di era tersebut mengamini klaim akan jahatnya komunisme di Indonesia. Nah, Pakdhe saya mungkin tidak tahu (atau menolak untuk tahu) bahwa Rusia sudah tidak lagi menerapkan komunisme. Pasca runtuhnya Uni Soviet, Rusia bertransformasi menjadi negara yang menganut ideologi liberal dan kapitalis, meskipun Rusia kala itu layak disebut “poser” alias mencoba agak lebih kapitalis meskipun nuansa komunisnya masih sangat terasa.

Usaha saya menjelaskan kepada pakdhe saya bahwa Sastra Rusia tidak mempelajari apalagi mengagendakan bangkitnya komunisme juga cukup berat. Beliau berujar, “Kamu ini nggak ngerasa aja bahwa kamu selama kuliah disusupi paham yang bertujuan untuk merongrong NKRI!”

Sebuah tuduhan yang cukup serius yang sebenarnya bisa saya tanggapi, “Lho, sakjane Pakdhe iki sing uwis di-brainwash karo Orba!!1!” tapi tidak saya katakan karena saya takut kualat.

Saya pun akhirnya menjawab “Pakdhe, saya ini belajar sastra dan linguistik Rusia. Bukan belajar tentang bagaimana melakukan kudeta terhadap NKRI”. Namun, jawaban tersebut sepertinya tidak memuaskan beliau karena beliau malah memasang raut muka yang seakan ingin menerkam saya. Karena situasi tatap-tatapan tanpa suara seperti di lagu Jamrud itu sangat tidak menyenangkan, saya kembali menambahkan “Kan Pakdhe tahu, saya dari kecil memang suka belajar bahasa”. 

Namun, beliau bukannya mengiyakan, malah menimpali saya dengan “Kan bahasa yang bagus banyak, kenapa nggak bahasa Arab aja?”

Saya yang lulusan Madrasah selama 12 tahun dan dalam-tanda-kutip mampu berbahasa Arab dengan baik pun ingin sekali membalas dengan “BAHASA YANG NGGAK BAGUS TUH GIMANA SIH PAKDHE”.

Untungnya, sebelum saya emosi karena harga diri jurusan kuliah saya dihina-hina oleh seseorang yang bahkan (setelah saya telusuri) tidak kuliah, ibu saya datang dan menyelamatkan saya dari mulut toksik saudara yang ternyata benar adanya. Ibu saya kemudian membahas hal lain seperti bagaimana kans juara MU di tangan Ole Gunnar Solksjaer  kabar keluarga di kampung dan pertanyaan basa-basi template lainnya.

Saat kami pulang, ibu saya bilang bahwa Pakdhe  merupakan orang yang sering membagikan berita-berita provokatif seperti propaganda anti-Cina di grup WhatsApp keluarga. Saat itu pula saya merasa kasihan terhadap pakdhe saya ini karena beliau dicuci otaknya dua kali. Satu oleh rezim Orde Baru, yang kedua oleh broadcast grup WhatsApp bapak-bapak.

BACA JUGA Mewakili Kesalnya Vanuatu kepada Negara Saya Sendiri

Baca Juga:  Ketika Prof. Mahfud MD Membual Soal Pelanggaran HAM

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Baca Juga:  Anak Magang Perlu Dibayar Nggak, Sih?

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.




Komentar

Comments are closed.