Jokowi yang Suka Musik Keras Perlu Dengerin Lagu 'Post Human: Survival Horror' dari BMTH – Terminal Mojok

Jokowi yang Suka Musik Keras Perlu Dengerin Lagu ‘Post Human: Survival Horror’ dari BMTH

Artikel

Gusti Aditya

Post Human: Survival Horror adalah tajuk EP terbaru yang dikeluarkan oleh Bring Me The Horizon. Melalui rentetan single sedari Ludens hingga Teardrops, EP mereka hadir dalam menyambut Halloween 2020 ini. Namun, alih-alih mengangkat tema-tema seperti klenik, Oli Sykes, vokalis BMTH menegaskan bahwa pandemi lebih menyeramkan dari demit dan semacamnya.

Tentu hal ini bikin saya manggut-manggut mengiyakan. Barangkali, pandemi adalah bentuk demit paling baru menurut Oli. Jika pocong dan kuntilanak itu versi beta, pandemi adalah bentuk nyata sebuah evolusi final form manunggal dari bentuk-bentuk yang segalanya.

Oli banyak menjelaskan makna lagu-lagu dalam EP terbaru BMTH melalui NME, namun dalam tulisan ini, izinkan saya memberi rekomendasi kepada Pakde Jokowi. Berhubung blio suka musik-musik cadas seperti ini, saya pun akan mengimplementasikan arti per lagunya dengan tafsir saya pribadi.

Beneran deh, Pakde, ini EP Post Human: Survival Horror yang memuat lagu-lagu bagus banget.

Pertama, “Dear Diary”. BMTH seakan mengingatkan kita kembali ke masa-masa di awal pandemi, ketika menteri-menteri Jokowi guyon tentang pandemi. Nasi kucing lah, akses masuk ke Indonesia sulit lah, perbanyak doa lah.

“The sky is falling, it’s fucking boring. I’m going braindead isolated.” 

Bosen, malesi, penginnya muntab, misuh teros, perasaan inilah yang dirasakan masyarakat Indonesia ketika awal swakarantina. Bebarengan dengan jajaran Jokowi yang ngelawak mulu.

Kedua, “Parasite Eve”. Saya sudah membahas banyak mengenai lagu ini dalam tulisan “Parasite Eve, Cara BMTH Menyentil Mas-mas Penganut Teori Konspirasi”. Intinya, kondisi yang digambarkan oleh Parasite Eve adalah sebuah masa saat mulai muncul orang-orang bajingan di masa krisis.

Misalkan orang yang dipercaya menjabat untuk mengusir pandemi, justru mulutnya mengeluarkan statemen yang nggak mashoook blas. Puncaknya, sisi egois itu digambarkan dalam lirik yang penuh ketegasan sekaligus komikal ini.

“I’ve got a fever, don’t breathe on me
I’m a believer of nobody
Won’t let me leave ‘cause I’ve seen something
Hope I don’t sneeze, I don’t…*sneeze.”

Mengapa masyarakat asu ini muncul? Sebab kita sudah nggak tahu harus percaya kepada siapa. Pemerintah? Bahkan dalam lagu di album Post Human ini dijelaskan dengan sempurna. Seakan, melalui dialog masa, “pihak pemerintah” berbicara dengan lirik berikut.

“Please, remain calm, the end has arrived
We cannot save you, enjoy the ride.”

Sampai titik ini kita sadar, yang dapat menyelamatkan nyawa kita ya hanya diri masing-masing. Pemerintah sudah seperti bertindak autopilot dan melepaskan tanggungannya.

Ketiga, “Teardrops”. Jika ada orang gila karena menyebarkan konspirasi, ada juga yang depresi karena sunyi. “Teardrops” mewakili segala perasaan orang-orang yang rela melakukan swakarantina sampai segalanya menjadi runyam. Kerjaan, pertemanan, hingga masalah prinsipil seperti percintaan. Sampai-sampai, kita teriak, Oh, God, everything is so fucked, but I can’t feel a thing!”

Keempat, “Obey” (feat. YUNGBLUD). Ketika masyarakat seakan terbelah menjadi dua kubu, pemerintah pun makin ngawu-ngawu dalam menerapkan aturan. Nyawa atau ekonomi? Ya, jelas, apa pun problematikanya, ekonomi menjadi pilihan utama. Sebab apa? Sebab we’re only gambling with your soul!”

Mimpi buruk yang berjalan secara sistematik, begitu yang dikatakan oleh Oli dan YUNGBLUD dari EP Post Human: Survival Horor ini. Atau secara jelasnya sih begini, Whatever you do, just don’t wake up and smell the corruption. Another day, another systematic nightmare.” Tikus itu bukan hanya mengorupsi uang kita, namun juga nyawa dan jiwa malang kita.

Yang dikorup ndilalah bantuan sosial. Jiamput!

Kelima, “Itch For The Cure” (“When Will We Be Free?”). Kalau mau mengartikan secara liar dan gothak-gathuk, gara-gara “Obey”, banyak sesuatu yang dikerjakan secara gesit, irit, dan penuh diam dan senyap. Apa itu? UU Cipta Kerja jawabannya.

Dengan lucu, liriknya bilang begini, “Something is coming unplugged” atau sesuatu datang dicabut. Apa yang dicabut? Mikrofon! Astaga, lucu sekali negeri ini, eh, lagu bikinan BMTH di EP Post Human: Survival Horor ini ding.

Keenam, “Kingslayer” (feat. BABYMETAL). Sosok Kingslayer pun muncul. Sosok yang menjadi bahan omongan dan selalu menjadi objek media. Kekayaannya meningkat pesat, sedangkan masyarakat mengalami krisis. Demonstrasi besar di tengah pandemi muncul guna mempertanyakan kebijakan si “Kingslayer” ini. King dari segala King. Atau maharaja dari raja-raja.

“System failure
Life is encrypted, genome modified
Like a virus in a lullaby
Artificial ‘til the day you die, silly program
You’re corrupted.”

Begitu kata lirik di lagu ini, kegagalan sistem, hidup dienkripsi, dan genom dimodifikasi.

Ketujuh, “1×1” (feat Nova Twins). Ketika huru-hara terjadi, akan datang satu tokoh di tengah badai pandemi seperti ini. Semakin seru saja, namun begitulah keadaannya. Tokoh spesial ini seakan berkata, “Disconnected from the world again. And no, the sun don’t shine in the place I’ve been. So why you keep acting like I don’t exist? Akhirnya, ia bisa merasakan matahari bersinar dengan sewajarnya.

Yap, benar, feels like an archenemy, can’t look me in the eyes. Sungguh menyenangkan menanti tokoh yang bisa mengumpulkan massa sebanyak tujuh juta ini. Akhirnya blio pulang juga. Oleh-olehnya masalah.

Kedelapan, “Ludens”. Titik ini adalah sebuah tebak-tebakan penuh tanda tanya. Masa depan adalah hal yang abu-abu, namun Ludens merasakan pesimis jika pandemi saja tidak bisa dihadapi, bagaimana ketika melawan masa depan yang masih banyak problematika tak terduga. Sedikit berlebihan, namun saya suka lirik ini, “I need a new leader, we need a new Luden.”

Kesembilan, “One Day The Only Butterflies Left Will Be In Your Chest As You March Towards Your Death” (feat. Amy Lee). Sangat cocok didengarkan sembari membayangkan mau bagaimana negara ini ke depannya. Korup sudah menggila, huru-hara di sana-sini, bantuan tidak tepat sasaran, yang malang makin malang, yang berjaya makin jaya. Pandemi berlangsung selamanya?

Masih dibutuhkankah individu-individu “kalah” untuk negara? Masih didengarkah suara sumbang dan tak terdengar dari masyarakat akar rumput? Ah, I thought we had a future, but we ain’t got a chance in hell.

Selamat mendengarkan Post Human: Survival Horror, Pakde Jokowi. Saya sarankan liriknya dihayati betul biar bisa diresapi sampai ke sumsum tulang. Besoknya masih bisa kerja, kerja, kerja.

BACA JUGA Jika Saya Mewakili Bantul Ikut Kompetisi MasterChef dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Baca Juga:  Lagu 'To The Bone' Pamungkas Enak, Asalkan Nggak Diperdengarkan Terus-Menerus
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
21


Komentar

Comments are closed.