Yang sering kita dengar cuma narasi optimisme: “Jogja sedang berkembang!”, “Investor mulai masuk!”, “Kota ini naik kelas!”. Sementara itu, kita yang kerja di sini justru tertahan di tempat. Mau beli rumah nggak mampu, mau dibilang miskin tapi punya iPhone (hasil cicilan pula). Akhirnya, kita terjebak dalam posisi ganjil: terlihat mapan, padahal cuma sekadar bertahan.
Jogja, kota untuk kehidupan atau sekadar kunjungan?
Jogja sekarang memang cantik kalau difoto. Gang-gangnya estetik, kafe-kafenya tematik, homestay-nya punya nama bahasa asing yang terdengar mahal. Tapi rumah-rumah baru yang berdiri rapi itu sering kali bukan untuk ditinggali oleh orang yang benar-benar butuh rumah.
Ironinya sederhana: semakin kota ini dipoles biar orang luar mau datang, semakin sulit bagi warga yang sudah ada untuk tetap tinggal. UMR nggak cukup buat beli tanah, pendidikan nggak menjamin kita naik kelas, dan pariwisata nggak otomatis bagi-bagi kesejahteraan ke semua orang.
Pertanyaan yang tersisa buat kita cuma satu: Jogja ini sebenarnya dibangun untuk kehidupan, atau cuma buat kunjungan?
Karena kalau tanah terus jadi arena spekulasi dan perlindungan buat pekerja bergaji tetap dianggap urusan pribadi masing-masing, jangan kaget kalau suatu saat nanti kita tetap tinggal di Jogja, tapi cuma sebagai tamu di rumah sendiri. Terlihat tinggal, padahal cuma numpang lewat.
Penulis: Faiz Al Ghiffary
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Jogja Itu Emang Romantis, tapi buat Pendatang dan Turis Aja
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















