Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Jika Saya Jadi Wali Kota Jogja, Street Coffee Kotabaru Tidak Akan Digusur Begitu Saja

Janu Wisnanto oleh Janu Wisnanto
10 Maret 2025
A A
Efek Negatif Penertiban Street Coffee Kotabaru Jogja yang Pemerintah Mungkin Tidak Sadari

Efek Negatif Penertiban Street Coffee Kotabaru Jogja yang Pemerintah Mungkin Tidak Sadari

Share on FacebookShare on Twitter

Sudah lama saya memimpikan Jogja menjadi kota yang benar-benar hidup, di mana warganya bisa nongkrong, berdiskusi, dan menikmati kopi tanpa harus takut diusir. Namun, kenyataannya, justru banyak ruang-ruang yang seharusnya bisa dimanfaatkan malah disterilkan dengan alasan ketertiban. Yang terbaru adalah penertiban street coffee di Kotabaru.

Sebagai orang yang sering ngopi di pinggir jalan, saya tidak bisa diam saja melihat ini. Saya mulai membayangkan, jika saya seandainya menjadi Wali Kota Jogja, bagaimana saya menangani fenomena ini? Apakah saya akan ikut-ikutan menggusur dengan dalih ketertiban, atau mencari solusi yang lebih manusiawi dan masuk akal?

ADVERTISEMENT

Kotabaru dan Fenomena Street Coffee

Kotabaru adalah kawasan yang unik. Ia punya daya tarik tersendiri karena nuansa kolonial yang masih kental, jalanan yang tenang, dan atmosfer yang nyaman untuk nongkrong. Anak muda Jogja yang bosan dengan hiruk-pikuk Malioboro sering memilih Kotabaru sebagai tempat pelarian.

Namun, sayangnya, ruang publik yang benar-benar layak untuk duduk santai dan berdiskusi itu minim. Akhirnya, anak-anak muda menciptakan ruang mereka sendiri: nongkrong di pinggir jalan sambil menyeruput kopi dari kedai street coffee yang semakin menjamur.

Ini bukan sekadar tempat ngopi biasa. Street coffee di Kotabaru telah menjadi ekosistem sosial. Orang-orang bertemu, berbincang, berbagi ide, bahkan kadang-kadang berdebat soal politik, budaya, atau masa depan negara.

Tapi tiba-tiba, pemerintah datang dengan aturan khas birokrat: street coffee dianggap mengganggu, lalu ditertibkan.

Saya paham, pemerintah pasti punya alasan. Mereka mungkin melihat aspek ketertiban, tata kota, atau keluhan dari sebagian warga. Tapi apakah solusinya harus langsung menggusur? Apa tidak ada cara lain yang lebih adil?

Jika seandainya saya Wali Kota Jogja, ini yang akan saya lakukan

Sebagai wali kota, saya tidak akan langsung mengambil tindakan yang reaktif tanpa melihat akar masalahnya. Menertibkan bukan sekadar membersihkan jalanan dari pedagang, tetapi harus mencari solusi yang adil untuk semua.

Baca Juga:

Cerita orang Muhammadiyah di tengah kultur NU Tegal yang kental: awalnya syok, lama-lama bisa ambil hikmahnya

3 kebiasan warga Tegal yang dahulu saya anggap aneh, tapi kini malah saya tiru

Langkah pertama yang akan saya lakukan adalah mendengarkan. Saya akan mengundang para pedagang street coffee, komunitas anak muda yang sering nongkrong di sana, dan juga warga sekitar yang merasa terganggu. Kita duduk bersama, berdiskusi, dan mencari jalan tengah.

Dari diskusi ini, saya yakin kita bisa menemukan solusi yang lebih baik dibanding sekadar penggusuran. Misalnya:

Menata ulang zona street coffee. Saya akan menetapkan area khusus di Kotabaru yang bisa digunakan untuk street coffee tanpa mengganggu lalu lintas atau warga sekitar.

Mengatur jam operasional. Mungkin ada yang merasa terganggu dengan aktivitas street coffee hingga larut malam. Maka, bisa dibuat aturan jam operasional yang adil, misalnya tutup pukul 23.00.

ADVERTISEMENT

Menyediakan fasilitas publik yang memadai. Selama ini, anak muda nongkrong di street coffee karena tidak ada alternatif lain. Maka, saya akan mengubah taman-taman di sekitar Kotabaru menjadi ruang publik yang layak, dengan bangku, penerangan yang cukup, dan bahkan WiFi gratis.

Dengan solusi seperti ini, semua pihak bisa diuntungkan. Street coffee tetap hidup, warga tidak terganggu, dan Kotabaru tetap menjadi ruang yang nyaman untuk semua.

Jogja butuh ruang publik yang nyata, bukan sekadar wacana

Jogja sering disebut sebagai kota budaya, kota pendidikan, kota kreativitas. Tapi apakah ruang-ruang publiknya sudah benar-benar mencerminkan itu? Anak muda butuh tempat untuk berekspresi, berdiskusi, dan sekadar bersosialisasi tanpa harus selalu mengeluarkan uang banyak.

Kalau pemerintah tidak menyediakan ruang yang cukup, jangan heran kalau mereka menciptakan ruangnya sendiri—entah itu di trotoar, di parkiran minimarket, atau di emperan jalanan Kotabaru.

Sebagai wali kota, saya tidak akan menutup mata terhadap kebutuhan ini. Saya akan membangun lebih banyak ruang-ruang publik yang benar-benar bisa diakses oleh siapa saja.

Misalnya, mengaktifkan kembali taman-taman kota yang selama ini dibiarkan sepi dan tidak menarik. Membuka lebih banyak ruang diskusi di berbagai titik kota, di mana orang bisa duduk santai tanpa takut diusir. Membangun kebijakan yang mendukung ekonomi kreatif berbasis komunitas, termasuk street coffee yang sudah menjadi bagian dari budaya nongkrong di Jogja.

Saya ingin memastikan bahwa Jogja tidak kehilangan rohnya sebagai kota yang hidup dan ramah bagi siapa saja.

Seandainya saya menjadi wali kota

Jadi jika saya seandainya menjadi wali kota, bukan hanya soal mengatur lalu lintas atau membangun infrastruktur fisik. Lebih dari itu, tugas seorang wali kota menurut saya adalah memastikan bahwa kota ini bisa dinikmati oleh semua warganya.

Saya tidak ingin Jogja menjadi kota yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang yang punya banyak uang. Saya ingin Jogja tetap menjadi kota yang ramah bagi mahasiswa, pekerja kreatif, komunitas seni, dan semua orang yang ingin hidup dengan nyaman di sini.

Jadi, jika saya seandainya menjadi Wali Kota Jogja, saya tidak akan menggusur street coffee di Kotabaru begitu saja. Saya akan mencari solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Karena saya percaya, kota ini bisa lebih baik jika dikelola dengan hati, bukan hanya dengan aturan kaku yang tidak memahami kebutuhan warganya.

Jogja tidak boleh kehilangan ruhnya. Dan seandainya sebagai wali kota, saya akan memastikan bahwa Jogja tetap menjadi kota yang benar-benar istimewa—bukan hanya dalam slogan, tapi dalam tindakan nyata.

Penulis: Janu Wisnanto
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Efek Negatif Penertiban Street Coffee Kotabaru Jogja yang Pemerintah Mungkin Tidak Sadari

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 10 Maret 2025 oleh

Tags: Jogjaruang terbukastreet coffee kotabaru
Janu Wisnanto

Janu Wisnanto

Mahasiswa semester akhir Universitas Ahmad Dahlan, jurusan Sastra Indonesia. Pemuda asli Sleman. Penulis masalah sosial di Daerah Istimewa Yogyakarta.

ArtikelTerkait

4 Perbedaan Mencolok Angkringan di Pekalongan, Jogja, dan Solo

4 Perbedaan Mencolok Angkringan di Pekalongan, Jogja, dan Solo

26 Agustus 2022
Krisis Etika di KRL Jogja Solo Relasi Stasiun Palur (Unsplash)

Krisis Etika di KRL Jogja Solo Relasi Stasiun Palur: Ketika Gen Z Tidak Paham Kursi Prioritas dan Berani “Melawan” Petugas

23 Januari 2024
Sisi Gelap Malioboro Jogja, Jalan Kebanggan Orang Jogja yang Diam-diam Jadi Tempat Buang Sampah dan Tempat Tinggal Gelandangan Mojok.co

Banyak Wisatawan Nggak Tahu, Malioboro Jogja Diam-diam Jadi Tempat Buang Sampah dan Tempat Tinggal Gelandangan

26 Juni 2024
Hal-hal yang Lumrah di Jogja, tapi Tidak Biasa di Semarang Mojok.co

Hal-hal yang Lumrah di Jogja, tapi Tidak Biasa di Semarang

29 Maret 2025
Awas! 2030 Harga Properti di Jogja Berpotensi Hancur Bersama Rakyatnya!

Awas! 2030 Harga Properti di Jogja Berpotensi Hancur Bersama Rakyatnya!

20 November 2024
6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar Mojok.co

6 Waktu dan Cara yang Tepat Membunyikan Klakson di Jogja, Sebuah Panduan untuk Pengendara Luar

26 Januari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa (Unsplash)

Sebagai orang Sunda, jujur saya iri banget sama orang Jawa

10 Agustus 2026
Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

Daerah Ngagel penuh coffee shop, menunjukkan minimnya ruang publik di Surabaya

16 Agustus 2026
Orang Kampung yang Sekolah Tinggi Malah Paling Jarang Srawung Mojok.co

Ra srawung rabimu suwung adalah jokes tongkrongan yang sudah tidak relevan dan sebaiknya tidak usah disampaikan

16 Agustus 2026
5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri, bukan di Indonesia Mojok.co

5 jurusan S2 ini mending dipelajari di luar negeri karena lingkungan akademis Indonesia belum siap

14 Agustus 2026
Gudeg Sagan duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis (Wikimedia Commons)

Gudeg Sagan adalah duta gudeg Jogja untuk lidah-lidah yang skeptis

11 Agustus 2026
Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma Mojok.co

Harapan Jaya dan Pelita Indah, duo maut bus Tulungagung yang bikin banyak penumpang trauma

10 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.