Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Tumpukan Sampah di Jembatan Se’an Simbang Gagal Merepresentasikan Pekalongan Kota Santri

Elif Hudayana oleh Elif Hudayana
20 Juni 2025
A A
Tumpukan Sampah di Jembatan Se'an Simbang Gagal Merepresentasikan Pekalongan Kota Santri

Tumpukan Sampah di Jembatan Se'an Simbang Gagal Merepresentasikan Pekalongan Kota Santri (unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Jembatan Se’an Simbang Pekalongan penuh sampah. Apa mau dijadikan lokasi TPA baru?

Setelah artikel saya tentang cilok kuah yang “mati terbunuh” di Jalan Simbang Kabupaten Pekalongan tayang di Terminal Mojok, saya membagikan link-nya ke story WhatsApp. Tujuannya? Pertama, pamer punya karya baru. Kedua, berharap agar orang-orang akhirnya paham penderitaan saya. Ketiga, ya demi validasi juga.

Pucuk dicinta ulam pun tiba, seorang teman yang juga harus melewati jalan itu tiap hari turut mengamini keluhan saya. Beberapa jajanan yang dia beli juga sering jatuh tak terselamatkan. Tetapi penderitaannya nggak cuma soal jalan rusak. Katanya, ada pembunuh kedua yang menanti di sana dan lebih biadab, yakni sampah.

Tumpukan sampah ini tidak memakan korban seperti cilok kuah, es kopyor, indil kojek atau lainnya, melainkan kami para pengendara yang melewatinya. Bukan cuma lomba menghindari lubang nasional lagi, kali ini masuk ke cabor lain, kompetisi menahan napas se-Indonesia!

Jembatan Se’an Simbang Pekalongan, dari penghubung jalan jadi tempat menumpuk sampah

Kalau kamu jalan terus dari Simbang ke arah selatan, kamu bakal ketemu jembatan ikonik dan pemandangan spesial tumpukan sampah. Jembatan ini sebenarnya penghubung Simbang dan pertigaan Watusalam Kertoharjo Kabupaten Pekalongan. Tetapi sejak TPA Degayu Kota Pekalongan ditutup oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, jembatan ini seperti naik jabatan jadi TPA tidak resmi.

Tumpukan sampah di Jembatan Se’an Simbang Kabupaten Pekalongan itu mulai menampakkan eksistensinya. Rasanya, sampah tersebut seakan ikut tervalidasi dan bertambah kepercayaan dirinya sehingga nggak malu-malu lagi.

Padahal aneh ya, karena Kabupaten Pekalongan kan punya TPA sendiri, TPA Bojonglarang di Linggoasri Kajen. TPA ini juga terancam ditutup namun pada akhirnya berhasil selamat. Namun kabar baik ini nggak sepenuhnya melegakan, karena pihak Pemkab sendiri mengakui kalau TPA Bojonglarang sering overload. Maka muncul ide bikin TPA baru. Dan mungkin karena alasan itu juga, warga dengan kesadaran penuh Jembatan Se’an Simbang Pekalongan sebagai lokasi cadangan.

Kalau TPA pengganti masih direncanakan, mungkin ini TPA percobaan

Dilansir dari beberapa media lokal, Pemkab Pekalongan mempertimbangkan 3 lokasi TPA baru, yaitu Kajen, Kesesi, dan Bojong. Tapi saya kok curiga, diam-diam lokasi sebenarnya yang akan digunakan adalah Jembatan Se’an Simbang ini. Bagaimana tidak? Masalah ini sudah terjadi berbulan-bulan dan dikeluhkan warga di medsos, tapi nggak kunjung sirna.

Baca Juga:

Orang Pekalongan yang Pulang dari Merantau Sering Bikin Komentar yang Nyebelin, kayak Nggak Kenal Kotanya Sama Sekali!

Pekalongan (Masih) Darurat Sampah: Ketika Tumpukan Sampah di Pinggir Jalan Menyapa Saya Saat Pulang ke Kampung Halaman

Saya bahkan sempat lihat sendiri pengendara rapi dengan motor matik cakep berhenti, lalu menurunkan kantong hitam besar dan meletakkannya penuh percaya diri di pinggir jembatan. Jadi, apakah semua warga perlu disuruh piket mingguan di jembatan biar empati tumbuh? Kenapa publik semakin biasa dengan pemandangan yang luar biasa jorok?

Sebagai warga yang rajin lewat Jembatan Se’an Simbang untuk memangkas anggaran bensin, saya rasa perlu adanya inspeksi rutin agar bisa memastikan sampah ini dibuang oleh warga, bukan keajaiban mak bedundug yang susah sekali dikendalikan. Sebab, tidak hanya kesadaran masyarakat saja yang minim, fasilitas daur ulang dan edukasi yang diberikan di beberapa daerah juga minim.

Bagaimana pun kalau buang sampah sembarangan itu dosa kecil, ya lama-lama jadi dosa kolektif juga. Nggak cuma warga sekitar yang terdampak, pengendara macam saya pun harus turut merasakan kompetisi tahan napas tadi.

Tumpukan sampah di Jembatan Se’an Simbang yang gagal merepresentasikan Pekalongan Kota Santri

FYI, Pekalongan dijuluki Kota Santri. Tetapi itu bukan karena banyak pesantren, melainkan akronim: Sehat, Aman, Nyaman, Tertib, Rapi, dan Indah. Nah, jujur aja nih, saya nggak nemu satu pun unsur “santri” tadi yang cocok dengan pemandangan sampah di jembatan ini. Semuanya gugur di depan mata.

Tumpukan sampah yang tiada habisnya itu hanya menimbulkan bau yang memuakkan, memakan sebagian ruang jalan sehingga berbahaya untuk pengendara, bahkan membuat jalanan jauh dari kata nyaman, rapi apalagi indah.

Saking seringnya lewat di sana, saya kerap memperhatikan apa saja jenis sampahnya. Mulai dari popok sekali pakai, sisa makanan, karung misterius yang diikat kencang. Bayangin, karung!

Saya sering lewat Jembatan Se’an Simbang Pekalongan ini pagi dan sore. Pagi-pagi numpuk, sorenya agak mendingan. Entah ada yang membersihkan, terbang terbawa angin, atau sampah-sampah ini yang menyerahkan diri terjun ke sungai. Tapi ajaibnya, besok pagi tumpukan sampah itu akan kembali lagi. Kayak mantan susah move on!

Terima kasih sudah bertahan sejauh ini, sampah

Mungkin ya, sampah-sampah itu sebenarnya juga capek. Mereka ditaruh tanpa ditanya, nggak dibayar, nggak diusir, dan yang lebih menyedihkan: dianggap biasa. Sudah sepatutnya kita bersyukur karena sampah ini tidak mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai sendiri.

Kalau mereka bisa bicara, mungkin mereka juga pengin lompat ke sungai aja. Tapi air sungainya juga lelah menampung beban yang bukan bagiannya. Apalagi Sungai Simbang yang kerap berubah warna. Dan kita, warga yang setiap hari lewat tapi memilih tutup mata, adalah bagian dari beban itu.

Kadang saya juga mikir, sebenarnya sampah itu dibuang bukan karena nggak tahu tempat atau cara mengolahnya, tapi karena sudah nggak tahu diri saja. Saya cuma berharap, suatu hari Jembatan Se’an Simbang Pekalongan bisa kembali jadi penghubung antarsisi, bukan tempat nitip beban warga yang kelebihan ego dan kurang malu. Jadi kalau ini bukan kejahatan lingkungan, saya nggak tahu lagi namanya apa.

Penulis: Elif Hudayana
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Jalan Imam Bonjol Pekalongan Memaksa Saya Ganti Motor: Baru Ganti Motor Sebulan Udah Masuk Bengkel.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 20 Juni 2025 oleh

Tags: Jembatan Se'an SimbangKabupaten PekalonganpekalonganSimbang Pekalongan
Elif Hudayana

Elif Hudayana

Seorang content writer. Tertarik dengan isu kesehatan mental dan parenting.

ArtikelTerkait

Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

Es Barteh Pekalongan, Takjil Pelepas Dahaga yang Segernya Bikin Pedagang dan Petani Bahagia. #TakjilanTerminal12

18 April 2021
Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

Repotnya Orang Paninggaran Pekalongan di Perantauan karena Kerap Disalahpahami Orang-orang yang Nggak Paham Geografi

15 Februari 2024
Stasiun Pekalongan, Fasilitas Publik yang Seharusnya Wajib Disyukuri dan Dibanggakan Warga Pekalongan

Stasiun Pekalongan, Fasilitas Publik yang Wajib Disyukuri dan Dibanggakan Warga Pekalongan

2 November 2024
Petungkriyono, Surga Wisata di Pekalongan

Petungkriyono, Surga Wisata di Pekalongan

9 Februari 2022
Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi! Terminal Mojok

Panduan Membedakan Kota dan Kabupaten Pekalongan biar Nggak Salah Lagi!

22 Desember 2020
Derita Pemuda Pekalongan yang Nggak Merantau, Dikira Cupu hingga Nggak Bisa Pamer Gaji Mojok.co

Derita Pemuda Pekalongan yang Nggak Merantau, Dikira Cupu hingga Nggak Bisa Pamer Gaji

29 Juni 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

Bayar STNK Sudah Bikin Pusing, Sekarang Mau Ditambah Parkir Setahun, Selalu Ada Cara Baru Nambah Beban Rakyat

22 Februari 2026
Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja (Unsplash)

Mudik ke Jogja Itu Bukan Liburan tapi Kunjungan Kerja karena Semua Menjadi Budak Validasi, Bikin Saya Rindu Mudik ke Lamongan

24 Februari 2026
Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

Jangan Salah! Lebih dari 95% Penduduk Indonesia Tidak Mendukung Kemerdekaan

26 Februari 2026
Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

Susahnya Jadi Warga Bondowoso, Banyak Jalan Rusak, Jembatan pun Baru Dibenahi kalau Sudah Ambles

26 Februari 2026
Trio Senator AS Roma: Mancini, Pellegrini, Cristante

Trio Senator AS Roma

23 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Derita Punya Rumah Dekat Tempat Nongkrong Kekinian di Jogja: Cuma Bikin Emosi dan Nggak Bisa Tidur
  • Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman
  • Mudik ke Desa Naik Motor usai Merantau di Kota: Dicap Gagal, Harga Diri Diinjak-injak karena Tak Sesuai Standar Sukses Warga
  • Di Balik Tampang Feminin Yamaha Grand Filano, Ketangkasannya Bikin Saya Kuat PP Surabaya-Sidoarjo Setiap Hari Ketimbang BeAT
  • Meninggalkan Honda BeAT yang Tangguh Menaklukkan Jogja-Semarang demi Gengsi Pindah ke Vespa, Berujung Sia-sia karena Tak Sesuai Ekspektasi
  • Bapak Kerja Keras 60 Jam agar Keluarga Tak Hidup Susah, Ternyata bagi Anak Itu Tak Cukup untuk Disebut “Kasih Sayang”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.