Jawaban Maman Suherman tentang Cara Mendapat Ide Tulisan

Artikel

Avatar

Beberapa waktu lalu penerbit Diva Press mengadakan webinar kelas menulis. Kalau kapan hari ada Mas Agus Noor yang jadi narasumbernya di live Instagram, kali ini pengisinya Kang Maman Suherman via aplikasi Zoom. Judul acaranya: “Seni Menangkap Ide ala Kang Maman”.

Beberapa dari kita mungkin mengenal Kang Maman Suherman dari notulensinya di acara Indonesia Lawak Klub. Beberapa lagi mengenal beliau dari buku-bukunya. Yang paling fenomenal tentu saja trilogi Re:.

Melihat produktivitas Kang Maman maka pantaslah kalau muncul pertanyaan: Dari mana semua ide itu muncul dan bagaimana cara untuk menangkapnya dengan tepat sasaran?

Yang pertama dipaparkan Kang Maman tentang ide itu sendiri. Menurutnya, beberapa penulis besar sepakat terkadang ide layaknya setan. Suka muncul tiba-tiba dan kalau kita lewatkan begitu saja, dia hilang tak berbekas. Triknya adalah saat kita lihat ide itu nongol, langsung tuliskan saja! Apa pun itu bentuknya, seberapa pun panjang-pendeknya. Pokoknya tulis dulu. Bila perlu atau takut nantinya lupa, beri tanda atau tagar pada tiap garis besar ide yang sudah kita tuliskan. Misalnya kita dapat ide untuk menulis tentang redaksi Mojok.co, maka bisa kita beri tanda #Mojok atau #CikPrima atau #MasSeno di situ. Nanti bila ide selanjutnya datang, kita tinggal menambahkan.

Kedua, Kang Maman adalah orang yang jarang atau bahkan tidak pernah menyediakan waktu khusus untuk menulis. Harus di jam kerja atau tengah malam, misalnya. Tidak. Kang Maman memilih untuk mengikuti saja maunya pikiran dan tubuh. Kalau lagi sreg menulis ya menulis saja. Dengan metode ini, buatnya ide-ide yang seliweran bisa tertangkap sempurna.

Ketiga, tentukan tenggat waktunya. Kang Maman bilang kita harus bisa pasang target untuk diri sendiri. Pastikan kapan tulisan kita harus selesai supaya waktu dan tenaga tidak meruah ke mana-mana.

Baca Juga:  Bahkan Karl Marx (yang Katanya Kiri) Akan Tertawa Terpingkal Melihat Karya-Karyanya Disita

Keempat, ide atau imajinasi itu sebenarnya bisa kita dapat dengan melatih kepekaan yang ada di diri kita. Misalnya, menggunakan mata atau indra penglihatan kita, bukan hanya untuk melihat, tapi juga menatap. Lalu menggunakan telinga atau indra pendengaran bukan hanya untuk mendengar, tapi menyimak. Dengan memaksimalkan indra yang ada di diri kita, rentang ide yang didapat bisa lebih luas.

Kang Maman membuka rahasia metode menulis yang beliau pakai selama ini, yaitu dengan 5W + 1H + 5R. Okelah, 5W dan 1H pasti sudah sangat sering kita dengar dan bahas selama ini, ya. What, Who, When, Where, Why, dan How. Tapi apa sih yang dimaksud dengan 5R ini? Ukuran cetak foto? Tentu tydac.

#1 R sebagai Read

Baca, baca, dan baca. Bahkan ini adalah anjuran dari Tuhan. Budayakan rajin membaca agar wawasanmu tidak selebar daun kelor, mungkin bisa disimpulkan begitu ya. Apa jadinya seorang penulis yang tidak rajin membaca?

#2 R sebagai Research

Riset. Jangan cuma percaya apa kata orang. Apa yang kita baca jangan ditelan mentah-mentah. Harus kita cari dan gali lagi lebih dalam. Sebagai mantan jurnalis, Kang Maman memegang teguh prinsip tidak boleh langsung percaya itu. Bagi Kang Maman, jurnalis itu tidak perlu apatis, tapi harus skeptis. Apa-apa yang masih bisa kita cari sumber lainnya, maka carilah. Prinsip jurnalis yang inilah yang juga digunakan Kang Maman dalam menulis. Penulis juga harus skeptis, katanya.

#3 R sebagai Reliable

Orang yang menulis haruslah presisi, begitu kata Kang Maman. Seorang penulis harus dapat diandalkan oleh pembacanya. Maka semua-muanya harus pas.

#4 R sebagai Reflecting

Menurut Kang Maman, penulis haruslah punya perspektif yang unik. Perspektif yang juga tidak bisa dipaksakan ke orang lain tapi bisa ditunjukkan lewat tulisan. Kenapa tidak bisa dipaksakan? Karena masing-masing orang tentu punya perspektif masing-masing. Dan perbedaan ini bukan berarti ada salah satu perspektif yang salah atau ada yang lebih benar.

Baca Juga:  Cara Gampang Mendapat Ide Tulisan Bermodal Kuota 100 MB

#5 R sebagai (w)Rite

(W)Rite di sini maksudnya menulis dengan benar. Lalu siapa yang benar? Sama seperti poin R yang keempat tadi, Kang Maman berpendapat bahwa tidak ada kebenaran yang absolut di muka bumi ini. Kang Maman lalu mengambil contoh perbedaan makna benar antara beliau dan Uda Ivan Lanin. Kang Maman bersahabat baik dengan Uda Ivan, tapi bukan berarti Kang Maman menyetujui semua yang Uda Ivan paparkan.

Misalnya: kalau dalam tulisan kita lebih nyaman menggunakan bahasa daerah atau diksi yang tidak baku, gunakan saja. Asalkan itu menjadikan tulisan kita lebih punya makna dan rasa.

Menyambung dari melatih kepekaan indra diri tadi, Kang Maman bilang tidak selamanya ide itu datang out of nowhere, makbedundug ada gitu. Tidak. Terkadang ide-ide brilian justru muncul dari diri kita yang mempertanyakan sesuatu. Contohnya: kenapa di malam hari masih ada orang yang naik motor kebut-kebutan?

Kesimpulannya: jangan menunggu ide datang, tapi ciptakanlah. Kalau kata Don Poynter, “If you wait for an inspiration to write, you’re not a writer. You’re a waiter.”

Sahih!

BACA JUGA Inilah Resep Rahasia untuk Menembus Mojok.Co dan tulisan Dini N. Rizeki lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
22


Komentar

Comments are closed.