Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Otomotif

Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Budi oleh Budi
25 Maret 2026
A A
Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Share on FacebookShare on Twitter

Tahun 2017 menjadi pelajaran paling mahal dalam hidup saya sebagai pengguna motor. Saya yang saat itu tinggal di Kudus dan harus bolak-balik ke Rembang, Jepara, serta Demak setiap hari, memilih jalan pintas berhemat dengan beli ban motor murah.

Pikir saya, buat apa beli ban mahal? Semua ujungnya juga cuma ngelindes aspal. Akhirnya saya beli ban motor murah. Tak disangka-sangka, belum genap setahun, ban yang masih tebal tiba-tiba benjol dan hampir membuat saya celaka.

Pengalaman membeli ban motor murah demi berhemat

Setiap pagi pukul 05.30 saya sudah meluncur dari rumah di Kudus menuju Rembang untuk urusan kerja. Siangnya balik ke Jepara ambil barang, kadang, kalau urgent sorenya kudu ke Demak, malam baru pulang. Jarak tempuh mungkin bisa 100-an kilometer di jalan kabupaten yang kadang rusak, kadang licin karena hujan deras khas Pantura.

Motor bebek kesayangan saya waktu itu New Shogun 110, tapi ban depan dan belakang sudah botak setelah dua tahun pemakaian. Saya mampir ke toko ban daerah perempetan Jember di Kudus. Harganya menggiurkan untuk ban depan dan ban belakang, lengkap pasang cuman Rp200 ribu saja.

Coba bandingkan dengan ban merek ternama yang waktu itu sebijinya saja bisa Rp250 ribuan. “Eman banget,” pikir saya. Pun, penjualnya bilang, “Ini kualitas bagus kok, Mas. Kembangan tebal, kuat.” Saya percaya begitu saja. Toh, saya bukan pembalap dan Suzuki Shogun tak mungkin bisa speeding 300 km/jam.

Saya cuma butuh ban yang bisa muter. Selepas pasang ban baru, rasanya lega. Motor juga lebih enteng, getarannya berkurang. Saya bangga karena berhasil menghemat hampir Rp 300 ribuan.

Tiga bulan pertama semuanya mulus. Saya lewati jalan berlubang di Demak, genangan air di Jepara, dan jalanan panas di Rembang tanpa masalah. “Lihat kan? Hemat itu pintar,” saya bilang ke diri sendiri.

Enam bulan berlalu, ban motor masih terlihat tebal. Kembangan belum habis 30 persen. Saya semakin yakin keputusan saya benar. Teman-teman yang pakai ban mahal malah sering ganti lebih cepat katanya. “Mereka cuma buang-buang duit,” kata saya dalam hati. Padahal, saat itu saya tidak tahu bahwa kualitas karet, tali ban, dan proses vulkanisasi pada ban murah jauh berbeda.

Baca Juga:

4 Parts Sepeda Motor yang Baiknya Diganti Saat Musim Hujan agar Tetap Aman Saat Berkendara

Sering Ganti Ban Motor Nggak Bikin Pusing Lagi dengan Cara Ini

BACA JUGA: Pengalaman Mengajarkan Saya untuk Tidak Berharap Banyak pada Ban Tubeless

Kejadian yang hampir menyebabkan kecelakaan

Hari itu matahari terik sejak pagi. Saya mau pindah dari Jepara ke Kudus jam 12.00. Jalanan terasa mendidik, tapi saya sudah terbiasa. Di kilometer 12, tepat di tikungan menuju Pecangaan, Jepara, tiba-tiba motor terasa mendul-mendul. Stang bergetar, seperti ada yang menarik ke kanan. Saya kira ban kempes, tapi tekanan masih normal. Saya berhenti di bahu jalan, turun, dan memeriksa.

Di ban belakang, tepat di sisi kanan, muncul benjolan sebesar telur bebek. Kembangan masih tebal, tapi dinding ban menggembung keluar seperti bisul. Saya sentuh—panas sekali, meski baru 20 menit jalan. Hati saya langsung ciut. Bayangkan kalau benjolan itu pecah saat saya ngebut 60 km/jam di tikungan tadi. Motor pasti oleng, saya terpelanting ke aspal, dan bisa-bisa bertabrakan dengan truk yang sering lewat jalur itu.

Lantas, saya memutuskan lanjut jalan pelan-pelan 30 km/jam saja, keringat dingin bercucuran. Setiap lubang jalan terasa seperti bom. Sampai tukang tambal ban, mekanik langsung geleng-geleng kepala. “Ini ban palsu, Mas. Karetnya murahan, tali benangnya tipis. Panas dikit langsung benjol. Untung belum meledak.” Biaya ganti ban baru (kali ini yang bagus) Rp250 ribu. Dari kejadian ini saya sadar mau berhemat itu boleh, tapi jangan di keselamatan.

Mengapa ban murah abal-abal sangat berbahaya dan cara menghindarinya

Selidik punya selidik, ternyata ban motor murah abal-abal bukan sekadar “kurang bagus”. Mereka mengandung bahaya nyata yang bisa merenggut nyawa. Pertama, kualitas karetnya rendah. Ban asli menggunakan campuran karet alam dan sintetis khusus yang tahan panas hingga 120 derajat Celsius. Ban murah pakai karet daur ulang atau campuran murahan yang cepat mengeras dan retak.

Di cuaca Pantura yang panas dan hujan tiba-tiba, ban ini mudah overheat, grip hilang, dan licin seperti oli. Kedua, konstruksi tubuh ban lemah. Ban berkualitas punya lapisan tali baja atau nylon yang rapat dan seimbang. Ban abal-abal hanya pakai benang tipis atau bahkan tidak ada. Alhasil? Tekanan angin normal saja sudah membuat dinding ban “bernapas” tidak rata. Itulah yang menyebabkan benjol, gelembung, atau bahkan meledak mendadak.

Di Indonesia, data kepolisian dan bengkel besar menyebutkan hampir 15-20 persen kecelakaan motor tunggal disebabkan ban rusak mendadak—dan mayoritas dari ban motor murah. Ketiga, umur pakai yang tidak bisa diandalkan walau lihat kembangan masih tebal, tapi sebenarnya sudah rapuh di dalam. Saya mengalami sendiri, meski kembangan ban masih 70 persen tapi sudah tidak layak pakai. Ditambah lagi, ban murah sering tidak lulus standar SNI atau DOT. Artinya, tidak ada jaminan uji lab untuk daya tahan, ketahanan air, dan kestabilan di kecepatan tinggi.

Bahaya lain yang sering diabaikan adalah ban murah membuat sistem pengereman dan suspensi bekerja lebih keras. Rem jadi kurang maksimal, suspensi lebih cepat rusak, dan bensin lebih boros karena gesekan tidak rata. Ujung-ujungnya, Anda bukan hemat—malah rugi besar: biaya perbaikan, rumah sakit, bahkan kehilangan nyawa.

Lalu bagaimana cara menghindarinya? Pertama, jangan pernah tergiur harga di bawah 60 persen dari harga resmi merek ternama. Kedua, beli di toko resmi atau bengkel besar yang punya garansi. Ketiga, cek tanda-tanda keaslian: ada kode DOT, SNI, ukuran ban yang jelas, dan pola kembangan simetris. Keempat, selalu periksa tekanan angin minimal seminggu sekali. Kelima, kalau motor dipakai harian seperti saya dulu, pilih ban tubeless yang lebih aman daripada tubetype alias ban biasa yang pakai ban dalam.

Sekarang, setiap kali saya ganti ban, saya tidak lagi berpikir “murah atau mahal”. Saya cuman berpikir “berapa nyawa saya dan keluarga?” Ban mahal bukan pengeluaran melainkan investasi keselamatan. Sebab tidak semua yang murah itu hemat. Kadang, yang Anda hemat justru nyawa sendiri. Jadi, sebelum naik motor besok pagi, lihat ban Anda. Kalau masih ragu kualitasnya, ganti sekarang juga. Lebih baik keluar uang daripada keluar nyawa.

Penulis: Budi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Jenis Ban yang Harus Diketahui dan Dipahami Supaya Tak Tertipu Kualitasnya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 25 Maret 2026 oleh

Tags: bahaya ban motor bekasban motorban motor murahharga ban motor bekasstandar SNI
Budi

Budi

Seorang montir tinggal di Kudus yang juga menekuni dunia kepenulisan sejak 2019, khususnya esai dan fiksi. Paling suka nulis soal otomotif.

ArtikelTerkait

4 Parts Sepeda Motor yang Baiknya Diganti Saat Musim Hujan agar Tetap Aman Saat Berkendara

4 Parts Sepeda Motor yang Baiknya Diganti Saat Musim Hujan agar Tetap Aman Saat Berkendara

11 November 2024
Pengalaman Mengajarkan Saya untuk Tidak Berharap Banyak Pada Ban Tubeless mojok.co/terminal

Pengalaman Mengajarkan Saya untuk Tidak Berharap Banyak pada Ban Tubeless

7 Maret 2021
Sering Ganti Ban Motor Nggak Bikin Pusing Lagi dengan Cara Ini (Unsplash.com)

Sering Ganti Ban Motor Nggak Bikin Pusing Lagi dengan Cara Ini

9 Oktober 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya Mojok.co

Kapok Naik Bus Harapan Jaya Surabaya-Blitar, Niat Bepergian Nyaman Berakhir Berdesakan karena Sopir Maruk Angkut Penumpang Sebanyak-banyaknya

20 Maret 2026
Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

25 Maret 2026
Jerat Motor Kredit Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat (Unsplash)

Motor Kredit Menciptakan Kabut Tebal yang Menyembunyikan Wajah Asli Kemiskinan, Terlihat Mengilat tapi Fondasinya Melarat

20 Maret 2026
Pertama Kali Mencicipi Swike: Makanan Berbahan Dasar Kodok yang Terlihat Menjijikan, tapi Bikin Ketagihan Mojok.co

Katak dalam Soto, Ternyata Swike: Pengalaman yang Membuat Saya Kini Tak Mudah Percaya dan Meragukan Segalanya

21 Maret 2026
Lirik Lagu Narsis Sheila on 7 Perisai Terbaik dari Patah Hati (sheilaon7.com)

Mendengarkan Lirik Narsistik Sheila on 7 Adalah Cara Terbaik Menghibur Diri Setelah Berkali-kali Ditolak Cinta

22 Maret 2026
Lebaran Kedua Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati Mojok.co

Lebaran Jauh dari Indonesia: Homesick, tapi Terobati oleh Orang-orang Turki yang Hangat dan Baik Hati

19 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Ketika Orang Jogja Dibuat Menyesal Sarapan Gudeg Jogja karena Jadi Korban Nuthuk Rega
  • Kapok Naik Kereta Eksekutif karena Turun di Stasiun Tugu Jogja, Keluar Stasiun Langsung Disuguhi “Ujian Nyata”
  • Derita Pekerja Jogja Pindah Jakarta: Gaji Lebih Tinggi, tapi Semua Serba Cepat dan Nggak Pakai Hati
  • 4 Oleh-Oleh Khas Bantul yang Sebaiknya Dipikir Ulang Sebelum Dijadikan Buah Tangan
  • Penyakit Kronis Pemuda di Desa yang Bikin Hidup Susah: Utang Bank untuk Hal Tak Penting, Gaji Tak Pasti tapi Cicilan Pikir Keri buat Ortu Terbebani
  • Dosa Mahasiswa Interior di Surabaya: Memuja Garis Presisi di Studio, tapi Menyembah Kue Lembek di Dapur

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.