Jangan Asal Klaim, Ketoprak Itu Warisan Kuliner Betawi Jakarta, Bukan Cirebon

5 Dosa Penjual Ketoprak Jakarta yang Membuat Pembeli Tidak Nafsu Makan Mojok.co cirebon

5 Dosa Penjual Ketoprak Jakarta yang Membuat Pembeli Tidak Nafsu Makan (unsplash.com)

Sudah terlalu lama telinga ini berisik mendengar klaim asal-usul ketoprak. Setiap kali duduk di pinggir jalan, menunggu abang-abang meracik bumbu kacang, obrolan ngawur sering muncul. Ada saja orang sok tahu yang bersikukuh bahwa ketoprak adalah kuliner asli Cirebon. Entah dari mana mitos konyol itu beranak-pinak, yang jelas, narasi tersebut sudah sangat menyesatkan dan membuat saya ingin meluruskan bersumber dari literatur-literatur kuliner yang ada.

Padahal, jika ditarik garis sejarahnya, kuliner ini adalah entitas yang lahir dari rahim Jakarta. Perpaduan harmonis antara bihun, tahu, tauge, dan siraman bumbu kacang yang kental, sejak dulu menjadi santapan wajib warga Betawi. Mengklaimnya milik daerah lain bukan cuma soal salah alamat, tapi juga bentuk pengabaian terhadap identitas kuliner lokal yang nyata-nyata berakar di ibu kota.

Mari luruskan perkara ini sekali untuk selamanya. Memang, banyak pedagang ketoprak yang merantau dari Jawa Barat, tapi itu tidak lantas mengubah asal-usul makanan ini. Berhenti menyamakan latar belakang penjual dengan identitas makanannya adalah langkah bijak agar kita tidak terus-terusan terjebak dalam disinformasi yang memuakkan ini.

Salah kaprah ketoprak yang terstruktur

Kegemaran orang mengaitkan ketoprak dengan Cirebon biasanya berangkat dari stereotip bahwa setiap penjual makanan kaki lima yang berbahasa Sunda pasti membawa resep dari daerah asalnya. Ini adalah logika malas. Secara historis, ketoprak justru dikenal luas sebagai makanan rakyat khas Jakarta yang populer sejak tahun 1970-an. Beberapa literatur kuliner lokal mencatat bahwa kuliner muncul dari kreativitas warga Jakarta yang memadukan bahan-bahan sederhana agar mudah dijajakan berkeliling menggunakan pikulan.

Nama “ketoprak” sendiri diyakini berasal dari singkatan bahan-bahannya yaitu ketupat dan toge digeprak alias dihaluskan bumbunya. Tidak ada kaitan historis yang valid antara ketoprak dengan tradisi kuliner Cirebon yang lebih dominan menggunakan kaldu atau rempah khas daerah pesisir.

Identitas yang terabaikan

Masalah utama dari klaim sepihak ini adalah hilangnya apresiasi terhadap sejarah Betawi. Jakarta, dengan segala hiruk pikuknya, telah melahirkan banyak varian kuliner yang seringkali diakuisisi secara serampangan. Ketika ketoprak dianggap sebagai makanan luar, secara tidak langsung kita sedang mengikis warisan budaya yang seharusnya dilindungi.

Ketoprak adalah bukti nyata bagaimana warga Jakarta mampu mengolah bahan-bahan sederhana menjadi hidangan yang tidak hanya mengenyangkan, tapi juga ikonik. Jangan biarkan pergeseran narasi ini membuat kita lupa bahwa kuliner ini lahir dari tangan-tangan warga Jakarta yang kreatif dalam memadukan bumbu kacang dengan tahu dan bihun.

Berhenti menjadi orang sok tahu

Menjadi pembeli yang cerdas berarti juga harus tahu apa yang dimakan. Jangan asal manggut-manggut saat ada kawan yang bercerita bahwa ketoprak adalah makanan khas Cirebon. Sanggah dengan data, dan tegaskan bahwa Jakarta punya sejarah panjang di balik sepiring ketoprak.

Tidak perlu merasa paling benar, tapi setidaknya jujurlah pada sejarah. Mempertahankan kebenaran soal asal-usul ketoprak adalah bentuk kecil dari penghargaan terhadap kebudayaan lokal. Kita tidak butuh mitos untuk membuat ketoprak terasa lezat. Rasanya sudah cukup membuktikan bahwa ketoprak adalah identitas yang berdiri sendiri.

Pada akhirnya, ketoprak tetaplah ketoprak, sebuah mahakarya kuliner dari Betawi Jakarta yang tidak perlu lagi diperdebatkan asal-usulnya oleh mereka yang hanya sekadar ikut-ikutan tanpa mau mencari kebenaran.

Jangan sampai kita menjadi bangsa yang kehilangan jati diri sendiri hanya karena terlalu malas untuk sekadar melakukan verifikasi sejarah.

Penulis: Muhammad Bima Raihan Al Masyhur
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Ketoprak Indomie, Perpaduan Kuliner yang Gagal di Lidah dan Bikin Begah

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version