Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game Terminal

Tidak Sekadar Mengajar, Guru Les Online Wajib Menghibur agar Tidak Ditinggal Murid-muridnya Main Game (unsplash.com)

Jadi guru les online itu berat …

Sebagai lulusan Jurusan Pendidikan, menjadi guru bak keniscayaan atau mutlak. Pilihan hidup yang terbentang di depan mata kian sempit, kalau tidak jadi guru di sekolah, ya jadi guru les online maupun offline. Walau begitu, menjalani pekerjaan sebagai guru apapun itu butuh keberanian dan tekad yang teguh. Setidaknya itulah yang saya rasakan setelah lulus dari Jurusan Pendidikan.

Saya mencoba jadi guru karena tak ingin menganggur lama setelah lulus. Saya bergabung menjadi guru les online di salah satu platform bimbel. Pengalaman inilah yang menyadarkan saya bahwa jadi guru les online itu susah. Dari luar mungkin tampak mudah dan sepele, kenyataannya tiak demikian. Guru les online jelas bukan pekerjaan untuk orang lemah.

Baca juga Dosa Jurusan Pendidikan yang Membuat Hidup Mahasiswanya Menderita.

Guru les online tidak sekadar educator, tapi juga edutainer

Di dunia digital, batasan antara belajar dan menikmati konten sangat tipis. Siswa zaman sekarang, seperti Gen Z dan Gen Alpha, terbiasa dengan visual yang dinamis dan komunikasi yang cepat. Sebagai lulusan Jurusan pendidikan yang masih terus memperdalam ilmu pendagogi terapan, ini jadi tantangan sendiri. 

Tuntutan untuk dinamis pun dihadapi oleh guru les online maupaun guru sekolah pada umumnya. Guru jadi punya kewajiban menguasai dan menyampaikan materi belajar semaksimal mungkin sekalipun melalui platform digital. Tidak hanya itu, guru juga harus bisa  komunikatif, memiliki pembawaan yang ceria, dan mampu memanfaatkan fitur interaktif agar kelas tetap hidup.

Mau tak mau, bekerja sebagai guru les online memaksa saya untuk beradaptasi lebih cepat. Tidak ada bimbingan dari rekan kerja atau senior, semua dilakukan sendiri sekalipun saya fresh graduate.

Secara otodidak saya meningkatkan kapasitas saya sebagai edutainer dari pertemuan demi pertemuan. Menjadi guru les online membuat saya harus pandai-pandai memisahkan mood dan kehidupan pribadi dengan pekerjaan. Mau selelah apapun, guru mesti tampil ceria dan komunikatif setiap jam bimbel dimulai. Benar-benar menguras tenaga dan emosi. 

Tantangan guru les online menghadapi siswa yang mengalami kelelahan layar

Siswa yang mengikuti bimbel online biasanya baru saja menyelesaikan sekolah formal secara daring atau luring sejak pagi. Di sinilah letak tantangan saya sebagai guru les online. Sebab, para siswa lebih rentan mengalami screen fatigue atau kelelahan layar ketika les online berlangsung, 

Ketika kelelahan layar terjadi, saingan saya adalah segala macam bentuk distraksi pada gawai mereka. Misa, game, WhatsApp, hingga medsos. Jika penyampaian materi terasa monoton bagi mereka, distraksi gawai akan lebih cepat terasa. Mereka akan mudah kehilangan fokus. 

Untuk mencegahnya, sebagai guru les online saya harus memutar otak dan mengkreasikan berbagai macam media pembelajaran. Saya dituntut berpikir cepat dalam memecahkan masalah, jika siswa mulai terlihat bosan atau tidak fokus. Sementara, penyelesaian masalah yang dilakukan dari jarak jauh, sering kali tidak sepenuhnya berhasil dalam mengatasi kebosanan siswa.

Hilangnya “ikatan emosional” dan respons real-time

Berbeda dengan guru di kelas tatap muka yang dapat membaca bahasa tubuh siswa, di kelas platform bimbel online yang menaungi saya, siswa diperbolehkan mematikan kamera. Tidak ada peraturan yang melarang siswa mematikan kamera dan mikrofon sehingga ketika saya menerangkan materi, saya merasa seperti berbicara dengan dinding. Saya kesulitan mengukur kemampuan mereka secara akurat, sebelum atau setelah kuis diberikan. Kegiatan belajar yang demikian justru terasa sangat kurang berarti terutama bagi gurupemula.

Pembelajaran tatap muka jauh lebih baik karena guru dapat mengetahui respon siswa untuk menilai pemahaman siswa. Selain itu, guru juga dapat membangun ikatan emosional yang baik dengan siswa, satu hal yang sulit saya lakukan selama menjadi guru les online. 

Baca juga Menyesal Kuliah Jurusan Pendidikan, Tiga Tahun Mengajar di Sekolah Nggak Kuat, Sekolah Menjadi Ladang Bisnis Berkedok Agama.

Guru les online mesti siap terhadap kendala teknis yang menghantui kapan saja

Jika kalian adalah seseorang yang tidak terlalu paham soal teknologi, menjadi guru les online jelas tidak direkomendasikan. Pembelajaran yang dilakukan secara daring, tidak menutup kemungkinan gangguan teknis dapat terjadi kapan saja.

Sebagai guru les online saya tentu pernah mengalaminya. Ketika asyik menjelaskan materi, tiba-tiba terjadi pemadaman listrik bergilir. Tiba-tiba saya tak bisa mengandalkan Wi-Fi. Terpaksa saya mengaktifkan paket data ponsel yang jaringannya tak terlalu bagus. Akhirnya, kelas daring saya akhiri lebih awal dengan penugasan mandiri untuk siswa. 

Itu baru persoalan jaringan ya. Bagaimana kalau terjadi masalah juga pada perangkat laptop atau ponsel? Tentu kendala teknis itu akan berbuntut panjang, terlebih jika kita tidak bisa menangani dengan baik. Reputasi sebagai guru les online akan menurun dan bukan tidak mungkin dipecat oleh manajemen bimbel. 

Berdasarkan pengalaman saya, bekerja sebagai guru les online kurang cocok untuk fresh graduate. Pengajar mesti beradaptasi dengan tantangan teknologi yang terus berubah adalah sebuah keharusan. Para sarjana pendidikan idealnya terus memperbarui kapasitas diri agar lebih siap menghadapi tantangan zaman. Dan, semua itu tantangan itu harus dihadapi sendiri. 

Penulis: Ade Vika Nanda Yuniwan
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Menjamurnya Bimbel Bukan karena Pendidikan Kita Ampas, tapi karena Mengajar di Bimbel Memang Lebih Mudah.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version