Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Kampus

Ternyata Label Islami Tak Bisa jadi Jaminan: Pengalaman Pahit Jadi Guru Honorer Serasa Jadi Pegawai Serabutan

Anita Aprilia oleh Anita Aprilia
21 September 2025
A A
Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash) dapodik

Guru Honorer Minggat, Digusur Negara dan Guru P3K (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Begitu selesai wisuda, saya diterima sebagai guru honorer di salah satu SMPIT paling favorit di Riau. Sekolah ini terkenal elit, langganannya anak pejabat dan pebisnis. Tidak heran jika keluarga besar turut berbahagia karena hal itu. Apalagi, tingkat kesulitan menjadi salah satu bagian dari sekolah tersebut sudah tersebar di mana-mana. Harus siap interview, micro teaching, hingga tes keagamaan. 

Sebagai lulusan sarjana agama, saya bisa melewati serangkaian tes yang diberikan. Walau hanya berbekal pengalaman mengajar TPA waktu kuliah. Begitu diterima, saya menaruh banyak harapan. Bisa mengajar agama sesuai keilmuan, mendapatkan lingkungan kerja yang Islami, dan hidup secara layak. Sayangnya, satu pun dari harapan itu tidak terwujud.

Gaji paling sedikit, tapi jadi guru paling sibuk satu sekolah

Sebagai guru honorer satu-satunya, saya bergaji satu juta sebulan. Saat interview, kepala sekolah sudah menjelaskan job desc-nya secara gamblang. Saya hanya perlu ke sekolah sesuai jam operasional layaknya guru dan pegawai lain. Kemudian, duduk di bangku piket saat pagi hari, mencatat anak-anak yang terlambat, kembali duduk di bangku piket, mengajar ekstrakurikuler sesuai jadwal, mengikuti kegiatan yang dilakukan sekolah dan menggantikan guru yang tidak bisa hadir.

Awalnya saya pikir jadi guru pengganti itu ringan. Cukup masuk kelas, kasih tugas, atau mengajar seadanya. Tapi, justru inilah beban paling berat. Banyak guru senior yang kerap “titip absen” dengan alasan tidak jelas, termasuk dua guru agama yang sudah lama mengajar.

Sejak minggu kedua, saya sudah kebanjiran kelas pengganti. Dari kelas 7 sampai 9, dari putra sampai putri, dari PAI sampai matematika dan biologi. Jadwal saya nyaris penuh setiap hari, melebihi guru senior yang gajinya enam hingga tujuh kali lipat. Meski hanya memberi tugas atau mengajar tipis-tipis, energi terkuras habis. Apalagi harus menghadapi siswa-siswa yang sering bikin kelas gaduh.

Kesibukan itu tak berhenti di hari kerja. Sabtu dan Minggu pun kerap tersita untuk kegiatan sekolah. Rasanya benar-benar seperti pegawai serabutan.

Gaji paling kecil, tapi dibayar paling akhir dan harus ditagih

Selain memiliki kesibukan yang luar biasa meski hanya guru honorer, di balik gaji saya yang kecil, saya juga harus menerima kenyataan pahit lain. Yakni, gaji tersebut dibayarkan paling akhir, dan harus ditagih. 

Berdasarkan informasi dari salah satu teman saya, gajian di sekolah akan dibayarkan secara cash. Gaji tersebut dibagikan tiap tanggal 1. Jika tanggal 1 jatuh pada Sabtu atau Ahad, maka akan dibayarkan di Senin berikutnya. Tiap kali gajian, guru-guru akan dipanggil oleh pihak keuangan ke ruangan khusus. Ruangan tersebut adalah ruangan kepala sekolah, TU, sekaligus bendahara sekolah. 

Baca Juga:

PPG dan Dapodik, Kombo Maut Penentu Nasib Guru Honorer yang Meresahkan dan Menakutkan 

Bantuan untuk Guru Honorer Memang Sering Ada, tapi Dapodik Bikin Segalanya Jadi Ribet dan Guru Nasibnya Makin Sengsara

Biasanya, TU akan mengirim pesan ke guru satu per satu. Isinya semacam panggilan untuk segera ke TU. Sayangnya, saya tidak pernah merasakan hal tersebut. Tentu, ini menyakitkan. Apabila sudah tanggal 3 dan tidak ada kabar, salah satu teman menyarankan untuk ke TU dan menanyakannya. Dengan enggan dan merasa tidak enak hati, saya ikuti saran tersebut. 

Sebab keuangan belum stabil, dan kehidupan bergantung pada gaji satu-satunya. Selama tujuh bulan, saya bertahan. Meminta hak saya yang seharusnya tidak perlu ditagih. Idealnya, sekolah harus memberikan hak pegawai sesuai aturan. Apalagi sekolah dengan embel-embel agama. 

Bayar sebelum keringatnya kering

Dalam hal ini, gaji (harusnya) tidak dibayar terlambat dan tanpa harus ditagih. Di dalam Islam, jelas bahwa membayar karyawan harus disegerakan begitu pekerjaan sudah selesai. Dan menunda pembayaran upah atau pemberian gaji termasuk hal yang dzhalim.

Pengalaman pahit ini akhirnya menjadi pelajaran berharga bagi saya. Bahwa tidak semua sekolah dengan label Islami mampu benar-benar menjalankan nilai-nilai yang mereka bawa. Saya belajar, betapa pentingnya menjaga hak dan kewajiban secara adil, karena sejatinya kesejahteraan guru bukan hanya soal gaji, tetapi juga penghargaan terhadap dedikasi mereka.

Penulis: Anita Aprilia
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Saatnya Pemilik Lembaga Pendidikan Swasta Meminta Maaf pada Guru karena Menggaji Mereka Tidak Layak!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 September 2025 oleh

Tags: Guru HonorerSarjana agamasekolah islamSMP ITyayasan pendidikan
Anita Aprilia

Anita Aprilia

Seorang pengangguran yang berusaha produktif

ArtikelTerkait

Camat Baito Dicopot Bupati Imbas Kasus Supriyani, Blunder yang Amat Tak Perlu

Camat Baito Dicopot Bupati Imbas Kasus Supriyani, Blunder yang Amat Tak Perlu

31 Oktober 2024
3 Mitos tentang Mahasiswa Jurusan PGSD yang Telanjur Dipercaya Orang Banyak

3 Mitos tentang Mahasiswa Jurusan PGSD yang Telanjur Dipercaya Orang Banyak

28 Januari 2024
Suka dan Duka Menjadi Guru Laki-laki di SD Negeri (Unsplash.com)

Guru Laki-laki di SD Negeri: Banyak Duka, Senang Sewajarnya

16 September 2022
Konten Kreator Pendidikan Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer. Sebuah Peringatan Sebelum Terjebak Terlalu Dalam Mojok.co

Konten Kreator Pendidikan Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer. Sebuah Peringatan Sebelum Terjebak Terlalu Dalam

7 April 2024
Guru SD Cuma Manusia Biasa tapi Dituntut Serba Bisa. Jangan Menaruh Ekspektasi Berlebihan pada Kami

Kalau Mau Cari Uang Jangan Jadi Guru, Terus Mereka Mau Makan Apa? Tenaga Dalam?

7 September 2025
PPG Prajabatan Bikin Saya Menunda Cita-cita Bahagiakan Ortu (Unsplash)

Cita-cita Membahagiakan Orang Tua Harus Tertunda karena Kewajiban Ikut PPG Prajabatan: Tips dari Peserta yang Berharap Segera Lulus

1 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Imlek 2026 Kenangan Simbah Mensyukuri Dodol sebagai Rezeki (Wikimedia Commons)

Imlek 2026 Menjadi Kenangan Manis akan Usaha Simbah Menurunkan Kasta Dodol sebagai Upaya Berterima Kasih kepada Rezeki

17 Februari 2026
Wisata Wonosobo Enak Dinikmati, tapi Tidak untuk Ditinggali (Unsplashj)

5 Wisata Wonosobo Selain Dieng yang Tak Kalah Indah untuk Dinikmati, meski Nggak Enak untuk Ditinggali

14 Februari 2026
Al Waqiah, Surah Favorit Bikin Tenang Meski Kehilangan Uang (Unsplash)

Al Waqiah, Surah Favorit yang Membuat Saya Lebih Tenang Meski Kehilangan Uang

20 Februari 2026
Lumpia Semarang Cerita Cinta yang Dibungkus Kulit Tipis (Wikimedia Commons)

Lumpia Semarang: Cerita Cinta Lelaki Tionghoa dan Perempuan Jawa yang Dibungkus Kulit Tipis

14 Februari 2026
4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang Mojok.co

4 Hal yang Wajar di Tegal, tapi Nggak Lazim dan Bikin Bingung Pendatang

20 Februari 2026
Alas Purwo Banyuwangi Itu Nggak Semenyeramkan Itu kok, Kalian Aja yang Lebay alas roban

Alas Roban Terkenal Angker, tapi Alas Purwo Lebih Misterius dan Mencekam

19 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=FgVbaL3Mi0s

Liputan dan Esai

  • Muak Buka Bersama (Bukber) sama Orang Kaya: Minus Empati, Mau Menang Sendiri, dan Suka Mencaci Maki bahkan Meludahi Makanan
  • Salut dengan Ketahanan Yamaha Mio Sporty 2011, tapi Maaf Saya Sudah Tak Betah dan Melirik ke Versi Baru
  • Mall Kokas, Tempat Paling Membingungkan di Jakarta Selatan: Bikin Pekerja “Mati” di Jalan, tapi Diminati karena Bisa Cicipi Gaya Hidup Elite
  • Mobil Pribadi Pilihan Terbaik Buat Mudik Membelah Jawa: Pesawat Terlalu Mahal, Sementara Tiket Kereta Api Ludes Dibeli “Pejuang War” KAI Access
  • Pemilik Kos di Jogja Muak dengan Tingkah Mahasiswa Jakarta: Tak Tahu Diri dan Ganggu Banget, Ditegur Malah Serba Salah
  • Niat Daftar LPDP Berujung Kena Mental, Malah Diserang Personal oleh Pewawancara dan Tak Diberi Kesempatan Bicara

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.