Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Ini Talkshow dan Akhir Titi Mangsa Tayangan Komedi

Gusti Aditya oleh Gusti Aditya
3 Juni 2020
A A
3 Pertanyaan Basa-basi Busuk yang Seharusnya Nggak Perlu Ada di Talkshow terminal mojok.co

3 Pertanyaan Basa-basi Busuk yang Seharusnya Nggak Perlu Ada di Talkshow terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

 

Komedi sifatnya mendunia, mengisi seluruh bingkai alam semesta, di mana pun tempatnya. Namun, ada sebuah catatan bahwa komedi sifatnya relatif, tiap manusia punya definisi lucu tersendiri dan tidak ada satu pun komedi yang bisa dinikmati seluruh golongan. Selalu ada yang menganggapnya lucu, maupun sebaliknya.

Pemaknaan tawa dihasilkan dari bahasa dan pengalaman kolektif yang tentunya berbeda. Mereka boleh tertawa terbahak-bahak oleh komedi tunggal Panji Pragiwaksono yang melemparkan lelucon politiknya, namun sebagian orang pasti ada yang mengernyitkan dahi dan bertanya, “lucunya di mana?” bahkan, lawakan tentang kucing yang menurut saya lucu-lucu saja, sebagian orang merasa komedi tersebut tidak pantas disampaikan.

Kesalahan fatal adalah menyamaratakan selera komedi. Kritikus film yang dipilih, menurut saya justru tidak melambangkan bagaimana lelucon sebuah film bisa digali. Apa lagi stigmasi warga Australia suka komedi mesum, India suka komedi ringan dan Cina suka dengan komedi settingan, itu adalah kesalahan fatal. Komedi tidak bisa diwakilkan maupun mewakilkan.

Komedi juga sebuah kebutuhan, bukan sebuah pemaksaan. Perbedaan jaman, menentukan bagaimana cara kita mengolah sebuah konsumsi komedi. Sebagian dari kita tentu akan terbahak-bahak melihat Mr. Bean, namun sebagian orang itu belum tentu nyaman menonton film komedi bisu klasik. Seperti pengalaman pribadi saya, beberapa tahun lalu saya tertawa ngakak baca bukunya Raditya Dika, dan setelah beberapa tahun berlalu kemudian saya baca ulang, rasanya hambar biasa saja.

Lantas, perbincangan menjadi seru jika membicarakan komedi layar kaca Indonesia. Warkop DKI, Srimulat, Bagyo Group adalah hanya sekian dari jutaan senjata andalan TVRI pada saat itu yang mengorbit naiknya dunia lawak di televisi Indonesia. Atau Johny Gudel, Benyamin S, Dono, Kasino dan Indro di masa lalu, tidak memiliki lawan sepadan di masa kini. Televisi sekarang, kita tidak banyak diberi pilihan, jika tidak ingin melihat komedi yang berbalut dengan merusak benda yang katanya “properti terbuat dari bahan yang tidak berbahaya” kalau tidak, ya, komedi yang menyerang ketubuhan.

Kita sempat bernapas lega dengan hadirnya Stand Up Comedy Indonesia dalam skena tayangan komedi di televisi. Artinya, pilihan pemirsa bisa semakin luas. Namun, acara model seperti ini langsung bertekuk lutut kala banyak stasiun televisi yang mengadopsi gaya kompetisi serupa, namun kuantitas komentatornya lebih lama ketimbang inti acarnya. Ah, barangkali inti acara tersebut adalah tawa Soimah yang terus menggema ketimbang stand up pesertanya.

Candaan model stand up comedy juga banyak menemukan pertentangan. Banyak materi stand up menarik yang tidak lolos sensor. Itu tandanya, komisi tidak mengijinkan kita mengolah sebuah komedi menggunakan pikiran. Namun mereka lebih mempersilakan mata kita untuk menonton dua orang saling olok mengolok, membanting styrofoam dan menghardik fisik.

Baca Juga:

Tonight Show dan Rating Televisi yang Menggerogotinya

Patut diakui, tayangan komedi di Indonesia telah banyak mengalami perubahan, terutama mengejar para konsumen di luar sana. Arah tayangan komedi bergerak dari yang semula mengedepankan sketsa seperti Ekstravaganza dan Opera Van Java, berbarengan dengan naiknya acara berformat variety show. Kita bisa melihat para pelawak masuk dalam acara DahSyat, Inbox, Yuk Keep Smile dan Pesbukers.

Opera Van Java versi lama memang menarik versi terbaik dari jamannya dan juga jika dibandingkan dengan acara komedi lainnya. Namun, tetap saja, olok-olok berupa objek semisal sule dengan hidung peseknya, tetap menjadi gacoan dalam acara ini. Dan sejak acara ini cerai, dan dua personilnya diajak oleh stasiun televisi baru bernama Net TV, acara komedi menjadi semakin luas, dan Opera Van Java versi baru terjebak dalam nostalgia format variety show.

Andre Taulany dan Sule membuat tayangan baru, yakni acara talkshow dengan nama Ini Talkshow dan enggan mereka sebut dengan tayangan komedi. Tayangan yang mulai mengudara pada 2014 lalu mengusung sebuah hal yang fresh, walau sebenarnya di stasiun tersebut juga ada proyek yang sama, yakni Tonight Show yang kala itu digawangi oleh Arie Untung pada 2013.

Tidak ada sketsa, hanya gelar wicara antara host dan bintang tamu yang sedang diundang. Terma komedi, mereka ubah menjadi “menghibur”. Karena komedi hanya terpatok dengan kelucuan (walau sebenarnya bisa memasukan sisi emosi, edukasi dan hal lain) sedangkan sisi menghibur bisa lahir dari para bintang tamunya, bukan hanya berpangkutangan pada host-nya.

Namun, acara ini beberapa kali mengalami modifikasi. Entah karena mengejar komoditi, atau memang sudah berada dalam senjakala di televisi. Memasang label bukan acara komedi, seakan menjadi blunder kala acara ini dianggap para pemirsanya mulai membosankan dengan pola yang begitu-begitu saja. Dapat kita lihat, bahwa mau tidak maunya melibatkan komedi, unsur ini tetap menjadi hal yang untuh dan penting.

Bulan lalu, Instagram resmi Ini Talkshow mengucapkan pamit kepada pemirsanya. Namun, asumsi para penikmat acara ini adalah Ini Talkshow hanya berubah menjadi acara Ini Ramadhan sekaligus menggeser Tonight Show yang “direhatkan” terlebih dahulu. Dan setelah Bulan Ramadhan, acara Ini Talkshow akan kembali lagi.

Lantas, beberapa pekan yang lalu, asumsi bahwa Ini Talkshow tidak akan ada lagi pun mencuat. Dalam laman Instagram pribadinya, Sule mengunggah sebuah acara baru di stasiun televisi yang pernah menjadi “rumah”-nya dan membesarkan grub lawaknya, SOS. MNC TV sepertinya tidak akan mengusung tema talkshow, namun sketsa lawak.

Hal ini dirasa logis karena beberapa faktor. Pertama, seperti yang kita bahas di atas, komedi memiliki batas waktu tertentu. Duo Sule – Andre memang pernah berjaya dan tidak ada yang meragukan bahwa mereka adalah legenda. Namun, mereka bukanlah Warkop atau Benyamin Sueb, keabsahan komedi yang masih bertahan sampai sekarang, belum tentu terjadi kepada komedi gaya mereka.

Kedua, Ini Talkshow tak ubahnya menjadi acara membosankan. Sebagai seorang penikmat, mengucapkan hal ini amatlah berat. Namun, konsep acara yang begitu-begitu saja, Sule dan Andre yang berparodi dan dipatahkan oleh hadirnya Haji Bolot, Nunung dan Mang Saswi menjadi formula yang tidak bisa dipertahankan lama. Semakin mereka menjauh dari terma komedi, semakin terjerat pula mereka mencari formula acara.

Ketiga, ketika datang Rafi Ahmad sebagai bagian Ini Talkshow, terlihat jelas masalah mereka adalah rating. Sedangkan kita ketahui sendiri, bahwa Rafi Ahmad adalah magnet bagi para konsumen televisi. Pertaruhan dimulai, bayaran yang tidak mungkin sedikit pun menjadi salah satu gambling yang dimasukan dalam dadu. Bermaksud survive untuk persaingan eksternal dengan acara lain, nyatanya formula ini tidak berjalan dengan baik. Kita tahu, komedi Rafi Ahmad berbeda dengan Andre, Sule, Nunung dan para cast lainnya.

Ketiga, persaingan internal. Hadirnya Tonight Show dan Malam–Malam Net yang berhasil mengambil tempat pemirsa di jagad maya, membuat hegemoni acara ini terus tergusur. Ketika mangsa pasar dua acara ini adalah generasi yang lebih muda, lantas menyisakan Ini Talkshow yang harus berhadapan langsung dengan acara prime time seperti sinetron dan acara kuis yang berderai air mata.

Kini, Tonight Show yang acaranya dimajukan menjadi jam 7, saya rasa memiliki problem yang sama dengan Ini Talkshow, yakni mengeruk ceruk-ceruk mangsa pasar. Masalah rating yang dialami mereka bukanlah faktor jam tayang, namun banyaknya penikmat ketiga acara ini—Ini Talkshow, Tonight Show dan Malam-Malam Net—yang berbasis di sosial media, namun enggan kembali ke televisi. Ya, kita ketahui bersama, tolok ukur kesuksesan sebuah acara ada di tangan AC Nielsen.

Tumbangnya Ini Talkshow, sebagai acara yang turut menjadi tulang punggung Net TV beberapa tahun belakangan dan menjadi rujukan komedi yang baik dalam meminimalisasi gaya komedi Indonesia ala variety show, adalah bukti lain kekejaman industri televisi. Entah mundurnya mereka berlangsung selamanya atau temporer, yang jelas banyak yang akan merindukan Sule dan Andre ketika melepaskan komedi template yang masih saja lucu.

Sule dan Andre selalu mewanti-wanti para pemirsanya ketika hendak iklan, kata mereka, “jangan kemana-mana, di sini saja.” Padahal, yang terjadi adalah kami (para pemirsanya) yang di sini saja, dan mereka yang justru kemana-mana.

Sumber Gambar: YouTube Netmediatama

BACA JUGA Perspektif Mantan Produser Acara TV pas Nonton Acara yang Nampilin Kehidupan Orang Miskin dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 2 Juni 2020 oleh

Tags: Ini Talkshowkomedi di indonesiatayangan komedi
Gusti Aditya

Gusti Aditya

Pernah makan belut.

ArtikelTerkait

Meninjau Jam Tayang Baru Tonight Show Setelah Vakum Satu Bulan Tonight Show dan Rating Televisi yang Menggerogotinya Tidak Merindukan Televisi Karena Ada Vincent Desta Show

Tonight Show dan Rating Televisi yang Menggerogotinya

29 Mei 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Perguruan Tinggi Swasta Terbaik di Bandung dari Kacamata Orang Lokal, Nggak Kalah dari Kampus Negeri Mojok.co PTN

Tradisi Tahunan Datang, Sekolah Kembali Sibuk Merayakan Siswa Lolos PTN, sementara yang Lain Cuma Remah-remah

23 April 2026
3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia (Unsplash)

3 Hal Sederhana yang Membuat Kami Cleaning Service Bahagia

25 April 2026
Yamaha Aerox 155 Connected Nggak Cocok Dijadikan Motor Ojol, Bikin Resah Penumpang Mojok.co honda air blade

Honda Air Blade, Produk yang Bakal Gagal Total Menantang Dominasi Yamaha Aerox

22 April 2026
Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal Mojok.co

Tulungagung Perlu Banyak Belajar dari Pacitan agar Wisata Pantainya Tidak Makin Tertinggal

22 April 2026
Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan (Unsplash)

Film Horor “Songko” Memberi Kesegaran yang Menakutkan dari Cerita Rakyat Minahasa dan Membebaskan Kita dari Kebosanan Horor Jawa

23 April 2026
4 Alasan Samarinda Ideal untuk Bekerja, tapi Tidak untuk Menua

Curahan Mahasiswa Baru Samarinda: Harus Mencicil Motor karena Tak Ada Kendaraan Umum di Samarinda, padahal Bukan Orang Berduit

22 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=smSJ4KOJ5ac

Liputan dan Esai

  • Merenungi Tragedi KRL Cikarang usai Peristiwa Daycare Jogja, Potret Nyata Perempuan yang Tetap Berjuang di Tengah Stigma
  • YUHU. Rilis Single Baru “Bertemu Di Sini”: Definisi Rindu Itu Bersifat Universal
  • Magang di Jakarta Terkesima Terima Gaji 2 Kali UMR saat Kerja di Jogja, Hidup Bisa Foya-foya dan Tak Menderita
  • Klaten International Cycling Festival 2026: Gowes Asyik Sepeda Klasik di Klaten bareng Pencinta Sepeda Mancanegara
  • Tidak Diakui, Harga yang Harus Saya Bayar karena Menolak Keinginan Orang Tua untuk Jadi PNS
  • Membiasakan Ngasih Tip Kurir ShopeeFood meski Kita Bukan Orang Mapan: Uang 5 Ribu Nggak Bikin Jatuh Miskin, Tapi Sangat Berarti buat Mereka

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.