Ini Talkshow dan Akhir Titi Mangsa Tayangan Komedi

Featured

Gusti Aditya

 

Komedi sifatnya mendunia, mengisi seluruh bingkai alam semesta, di mana pun tempatnya. Namun, ada sebuah catatan bahwa komedi sifatnya relatif, tiap manusia punya definisi lucu tersendiri dan tidak ada satu pun komedi yang bisa dinikmati seluruh golongan. Selalu ada yang menganggapnya lucu, maupun sebaliknya.

Pemaknaan tawa dihasilkan dari bahasa dan pengalaman kolektif yang tentunya berbeda. Mereka boleh tertawa terbahak-bahak oleh komedi tunggal Panji Pragiwaksono yang melemparkan lelucon politiknya, namun sebagian orang pasti ada yang mengernyitkan dahi dan bertanya, “lucunya di mana?” bahkan, lawakan tentang kucing yang menurut saya lucu-lucu saja, sebagian orang merasa komedi tersebut tidak pantas disampaikan.

Kesalahan fatal adalah menyamaratakan selera komedi. Kritikus film yang dipilih, menurut saya justru tidak melambangkan bagaimana lelucon sebuah film bisa digali. Apa lagi stigmasi warga Australia suka komedi mesum, India suka komedi ringan dan Cina suka dengan komedi settingan, itu adalah kesalahan fatal. Komedi tidak bisa diwakilkan maupun mewakilkan.

Komedi juga sebuah kebutuhan, bukan sebuah pemaksaan. Perbedaan jaman, menentukan bagaimana cara kita mengolah sebuah konsumsi komedi. Sebagian dari kita tentu akan terbahak-bahak melihat Mr. Bean, namun sebagian orang itu belum tentu nyaman menonton film komedi bisu klasik. Seperti pengalaman pribadi saya, beberapa tahun lalu saya tertawa ngakak baca bukunya Raditya Dika, dan setelah beberapa tahun berlalu kemudian saya baca ulang, rasanya hambar biasa saja.

Lantas, perbincangan menjadi seru jika membicarakan komedi layar kaca Indonesia. Warkop DKI, Srimulat, Bagyo Group adalah hanya sekian dari jutaan senjata andalan TVRI pada saat itu yang mengorbit naiknya dunia lawak di televisi Indonesia. Atau Johny Gudel, Benyamin S, Dono, Kasino dan Indro di masa lalu, tidak memiliki lawan sepadan di masa kini. Televisi sekarang, kita tidak banyak diberi pilihan, jika tidak ingin melihat komedi yang berbalut dengan merusak benda yang katanya “properti terbuat dari bahan yang tidak berbahaya” kalau tidak, ya, komedi yang menyerang ketubuhan.

Kita sempat bernapas lega dengan hadirnya Stand Up Comedy Indonesia dalam skena tayangan komedi di televisi. Artinya, pilihan pemirsa bisa semakin luas. Namun, acara model seperti ini langsung bertekuk lutut kala banyak stasiun televisi yang mengadopsi gaya kompetisi serupa, namun kuantitas komentatornya lebih lama ketimbang inti acarnya. Ah, barangkali inti acara tersebut adalah tawa Soimah yang terus menggema ketimbang stand up pesertanya.

Candaan model stand up comedy juga banyak menemukan pertentangan. Banyak materi stand up menarik yang tidak lolos sensor. Itu tandanya, komisi tidak mengijinkan kita mengolah sebuah komedi menggunakan pikiran. Namun mereka lebih mempersilakan mata kita untuk menonton dua orang saling olok mengolok, membanting styrofoam dan menghardik fisik.

Patut diakui, tayangan komedi di Indonesia telah banyak mengalami perubahan, terutama mengejar para konsumen di luar sana. Arah tayangan komedi bergerak dari yang semula mengedepankan sketsa seperti Ekstravaganza dan Opera Van Java, berbarengan dengan naiknya acara berformat variety show. Kita bisa melihat para pelawak masuk dalam acara DahSyat, Inbox, Yuk Keep Smile dan Pesbukers.

Opera Van Java versi lama memang menarik versi terbaik dari jamannya dan juga jika dibandingkan dengan acara komedi lainnya. Namun, tetap saja, olok-olok berupa objek semisal sule dengan hidung peseknya, tetap menjadi gacoan dalam acara ini. Dan sejak acara ini cerai, dan dua personilnya diajak oleh stasiun televisi baru bernama Net TV, acara komedi menjadi semakin luas, dan Opera Van Java versi baru terjebak dalam nostalgia format variety show.

Andre Taulany dan Sule membuat tayangan baru, yakni acara talkshow dengan nama Ini Talkshow dan enggan mereka sebut dengan tayangan komedi. Tayangan yang mulai mengudara pada 2014 lalu mengusung sebuah hal yang fresh, walau sebenarnya di stasiun tersebut juga ada proyek yang sama, yakni Tonight Show yang kala itu digawangi oleh Arie Untung pada 2013.

Baca Juga:  Meragukan Kekayaan Keluarga McCallister, Orang Tua Kevin ‘Home Alone’

Tidak ada sketsa, hanya gelar wicara antara host dan bintang tamu yang sedang diundang. Terma komedi, mereka ubah menjadi “menghibur”. Karena komedi hanya terpatok dengan kelucuan (walau sebenarnya bisa memasukan sisi emosi, edukasi dan hal lain) sedangkan sisi menghibur bisa lahir dari para bintang tamunya, bukan hanya berpangkutangan pada host-nya.

Namun, acara ini beberapa kali mengalami modifikasi. Entah karena mengejar komoditi, atau memang sudah berada dalam senjakala di televisi. Memasang label bukan acara komedi, seakan menjadi blunder kala acara ini dianggap para pemirsanya mulai membosankan dengan pola yang begitu-begitu saja. Dapat kita lihat, bahwa mau tidak maunya melibatkan komedi, unsur ini tetap menjadi hal yang untuh dan penting.

Bulan lalu, Instagram resmi Ini Talkshow mengucapkan pamit kepada pemirsanya. Namun, asumsi para penikmat acara ini adalah Ini Talkshow hanya berubah menjadi acara Ini Ramadhan sekaligus menggeser Tonight Show yang “direhatkan” terlebih dahulu. Dan setelah Bulan Ramadhan, acara Ini Talkshow akan kembali lagi.

Lantas, beberapa pekan yang lalu, asumsi bahwa Ini Talkshow tidak akan ada lagi pun mencuat. Dalam laman Instagram pribadinya, Sule mengunggah sebuah acara baru di stasiun televisi yang pernah menjadi “rumah”-nya dan membesarkan grub lawaknya, SOS. MNC TV sepertinya tidak akan mengusung tema talkshow, namun sketsa lawak.

Hal ini dirasa logis karena beberapa faktor. Pertama, seperti yang kita bahas di atas, komedi memiliki batas waktu tertentu. Duo Sule – Andre memang pernah berjaya dan tidak ada yang meragukan bahwa mereka adalah legenda. Namun, mereka bukanlah Warkop atau Benyamin Sueb, keabsahan komedi yang masih bertahan sampai sekarang, belum tentu terjadi kepada komedi gaya mereka.

Baca Juga:  Tidak Ada yang Salah dengan Keraton Agung Sejagat

Kedua, Ini Talkshow tak ubahnya menjadi acara membosankan. Sebagai seorang penikmat, mengucapkan hal ini amatlah berat. Namun, konsep acara yang begitu-begitu saja, Sule dan Andre yang berparodi dan dipatahkan oleh hadirnya Haji Bolot, Nunung dan Mang Saswi menjadi formula yang tidak bisa dipertahankan lama. Semakin mereka menjauh dari terma komedi, semakin terjerat pula mereka mencari formula acara.

Ketiga, ketika datang Rafi Ahmad sebagai bagian Ini Talkshow, terlihat jelas masalah mereka adalah rating. Sedangkan kita ketahui sendiri, bahwa Rafi Ahmad adalah magnet bagi para konsumen televisi. Pertaruhan dimulai, bayaran yang tidak mungkin sedikit pun menjadi salah satu gambling yang dimasukan dalam dadu. Bermaksud survive untuk persaingan eksternal dengan acara lain, nyatanya formula ini tidak berjalan dengan baik. Kita tahu, komedi Rafi Ahmad berbeda dengan Andre, Sule, Nunung dan para cast lainnya.

Ketiga, persaingan internal. Hadirnya Tonight Show dan MalamMalam Net yang berhasil mengambil tempat pemirsa di jagad maya, membuat hegemoni acara ini terus tergusur. Ketika mangsa pasar dua acara ini adalah generasi yang lebih muda, lantas menyisakan Ini Talkshow yang harus berhadapan langsung dengan acara prime time seperti sinetron dan acara kuis yang berderai air mata.

Kini, Tonight Show yang acaranya dimajukan menjadi jam 7, saya rasa memiliki problem yang sama dengan Ini Talkshow, yakni mengeruk ceruk-ceruk mangsa pasar. Masalah rating yang dialami mereka bukanlah faktor jam tayang, namun banyaknya penikmat ketiga acara ini—Ini Talkshow, Tonight Show dan Malam-Malam Net—yang berbasis di sosial media, namun enggan kembali ke televisi. Ya, kita ketahui bersama, tolok ukur kesuksesan sebuah acara ada di tangan AC Nielsen.

Tumbangnya Ini Talkshow, sebagai acara yang turut menjadi tulang punggung Net TV beberapa tahun belakangan dan menjadi rujukan komedi yang baik dalam meminimalisasi gaya komedi Indonesia ala variety show, adalah bukti lain kekejaman industri televisi. Entah mundurnya mereka berlangsung selamanya atau temporer, yang jelas banyak yang akan merindukan Sule dan Andre ketika melepaskan komedi template yang masih saja lucu.

Sule dan Andre selalu mewanti-wanti para pemirsanya ketika hendak iklan, kata mereka, “jangan kemana-mana, di sini saja.” Padahal, yang terjadi adalah kami (para pemirsanya) yang di sini saja, dan mereka yang justru kemana-mana.

Sumber Gambar: YouTube Netmediatama

BACA JUGA Perspektif Mantan Produser Acara TV pas Nonton Acara yang Nampilin Kehidupan Orang Miskin dan tulisan Gusti Aditya lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
42


Komentar

Comments are closed.