Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Jangan Langsung Suuzan, Ini Alasan Bantuan Pemerintah Sering Nggak Tepat Sasaran

Andri Saleh oleh Andri Saleh
13 September 2021
A A
Share on FacebookShare on Twitter

Ngomong-ngomong, masalah bantuan pemerintah yang nggak tepat sasaran, nggak 100% salah mereka, loh. 

Fenomena ikoy-ikoyan di media sosial yang marak akhir-akhir ini bikin saya mikir. Kok bisa, ya, ada horang kayah yang kaya buanget, tapi di sisi lain ada orang miskin yang miskin buanget? Jangan-jangan, ada semacam ketimpangan sosial yang cukup parah di Indonesia. Kalau memang benar begitu, pemerintah yang harus tanggung jawab. Yang harusnya ikoy-ikoyan itu pemerintah, bukan selebriti. Idealnya begitu, kan, ya?

Eh, tapi, sebetulnya pemerintah sudah menjalankan program semacam ikoy-ikoyan sejak zaman dulu, loh. Bahkan, jauh sebelum munculnya fenomena ikoy-ikoyan selebriti saat ini. Sebut saja program bantuan pemerintah macam Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM), Bantuan Langsung Tunai (BLT), Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), dan sebagainya. Program-program ini ditujukan untuk memberikan bantuan buat penduduk Indonesia yang masuk kategori keluarga miskin atau rentan miskin.

Masalahnya, pelaksanaan ikoy-ikoyan ala pemerintah ini kadang nggak sesuai dengan yang diharapkan. Banyak yang bilang kalau program pemerintah ini sering nggak tepat sasaran. Ada orang berkecukupan tapi masih menerima bantuan, ada juga orang yang sudah lama meninggal tapi masuk dalam daftar penerima bantuan. Dan, kalau ditelusuri lagi, semua akar permasalahan ini bermuara pada data yang nggak akurat.

Ngumpulin data memang nggak gampang, sih. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia pengelolaan data, saya melihat seenggaknya ada 3 hal yang bikin data nggak akurat, di antaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, proses pendataan yang nggak sesuai SOP. Ini adalah kelakuan oknum petugas ketika melakukan pendataan di lapangan. Memang nggak bisa dimungkiri, masih ada oknum petugas pendataan yang bekerja nggak sesuai SOP. Misalnya, pendataan yang seharusnya dilakukan ke tiap rumah warga, ini malah cuma minta data ke RT/RW setempat. Padahal, data dari RT/RW belum tentu sesuai dengan kondisi terbaru.

Atau, ada juga yang menyalin dari data tahun sebelumnya. Jadi, nggak perlu keliling-keliling melakukan pendataan. Cukup nyalin data di atas meja, beres kerjaan. Ini, kan, bisa bikin data nggak valid dan nggak up-to-date.

Kedua, kesalahan input data. Data yang sudah diambil dari responden kemudian dikumpulkan. Tahapan selanjutnya adalah pengolahan data, yaitu proses input data ke dalam aplikasi komputer. Di tahap ini cukup rentan juga sebetulnya. Nggak menutup kemungkinan operatornya salah menginput data.

Baca Juga:

Program Donasi Rp1.000 Sehari Dedi Mulyadi Adalah Bentuk Nyata Pungli Berkedok Solidaritas Sosial

Hanya PNS yang Bisa Masuk Surga

Misalnya, penghasilan 10 juta malah terinput 1 juta, status kawin malah terinput status janda, dan sebagainya. Kalau sudah begini, sudah pasti data yang diolah jadi nggak valid.

Ketiga, jawaban responden. Data yang jadi sumber program-program pemerintah ini bersumber dari jawaban responden terpilih dalam sensus atau survei. Sayangnya, nggak semua responden itu kooperatif, loh. Responsnya macam-macam. Ada yang sama sekali nggak mau didata, ada yang ngomel-ngomel pas diwawancara petugas, ada juga yang mau diwawancara tapi jawabannya nggak jujur.

Selain itu, ada juga responden yang susah banget ditemui. Entah itu sibuk atau sengaja menghindar. Kalau sudah begini, ya pasti datanya jadi nggak lengkap dan nggak valid, dong.

Ketiga hal inilah yang menyebabkan data jadi nggak sesuai dengan kondisi yang sebenarnya. Makanya wajar saja kalau program bantuan pemerintah nggak tepat sasaran. Lah wong datanya saja begitu. Makanya kalau ada pendataan itu terima petugas dengan baik dan jawab pertanyaannya dengan jujur. Jangan sampai nggak mau didata tapi giliran nggak dapat bantuan pemerintah, malah misuh-misuh. Hih.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 13 September 2021 oleh

Tags: bantuan pemerintahdonasiIkoy-Ikoyan
Andri Saleh

Andri Saleh

Humas di salah satu instansi pemerintah. Tukang liput kegiatan pimpinan, tukang bikin konten medsos, desain baliho dan flyer, serta kegiatan lainnya yang bikin kelihatan sebagai orang paling sibuk di kantor.

ArtikelTerkait

Kirim Salam Lewat Program Radio Adalah Cara Mbribik Paling Romantis pada Masanya terminal mojok.co

Apa Harus Menjadi Penyiar Radio Dulu Baru Bisa Sukses

3 Agustus 2019
Hanya PNS yang Bisa Masuk Surga

Hanya PNS yang Bisa Masuk Surga

6 September 2024
Sebaiknya Bantuan Sosial dari Pemerintah Dihentikan Saja terminal mojok.co

Sebaiknya Bantuan Sosial dari Pemerintah Dihentikan Saja

24 November 2020
Tren Ikoy-ikoyan: Ngemis, tapi Kok Menolak Disebut Bermental Pengemis? terminal mojok.co

Tren Ikoy-ikoyan: Ngemis, tapi Kok Menolak Disebut Bermental Pengemis?

11 Agustus 2021
Cerita Prihatin yang Mungkin Dipahami Pedagang Pinggir Jalan Ketika Hujan terminal mojok.co

Kebiasaan ‘Noleh Tonggo’ Masyarakat Desa Saat Dapat Bantuan Pemerintah

21 September 2020
Donasi Bencana Alam Bukan Ajang Pembuangan Sampah Pakaian, Camkan! terminal mojok.co

Donasi Bencana Alam Bukan Ajang Pembuangan Sampah Pakaian, Camkan!

23 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali Mojok.co

Lawang Sewu, Destinasi Wisata Semarang yang Nggak Perlu Diulang Dua Kali

1 Februari 2026
5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata (Gil Ribeiro via Unsplash)

5 Cacat Pikir yang Orang Percayai tentang Cleaning Service, Pekerjaan yang Kerap Dipandang Sebelah Mata

30 Januari 2026
Sisi Gelap Mahasiswa Timur Tengah- Stempel Suci yang Menyiksa (Unsplash)

Sisi Gelap Menjadi Mahasiswa Timur Tengah: Dianggap Manusia Suci, tapi Jatuhnya Menderita karena Cuma Jadi Simbol

5 Februari 2026
5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Kemensos “Bersih-Bersih Data” Bikin Nyawa Pasien Cuci Darah Terancam, Tak Bisa Berobat karena Status PBI BPJS Mendadak Nonaktif
  • Blok M, Tempat Pelarian Pekerja Jakarta Gaji Pas-pasan, Tapi Bisa Bantu Menahan Diri dari Resign
  • Derita Punya Pasangan Hidup Sandwich Generation sekaligus Mertua Toxic, Rumah Tangga bak Neraka Dunia
  • Film “Surat untuk Masa Mudaku”: Realitas Kehidupan Anak Panti dan Lansia yang Kesepian tapi Saling Mengasihi
  • Lulusan Sarjana Nekat Jadi Pengasuh Anak karena Susah Dapat Kerja, Kini Malah Dapat Upah 450 Ribu per Jam
  • Krian Sidoarjo Dicap Bobrok Padahal Nyaman Ditinggali: Ijazah SMK Berguna, Hidup Seimbang di Desa, Banyak Sisi Jarang Dilihat

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.