Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Hujatan pada Kasus Plagiarisme Pamungkas Mengisyaratkan Hal-hal Baik Ini

Fadlir Nyarmi Rahman oleh Fadlir Nyarmi Rahman
4 Februari 2021
A A
Hujatan pada Kasus Plagiarisme Pamungkas Mengisyaratkan Hal-hal Baik Ini terminal mojok.co

Hujatan pada Kasus Plagiarisme Pamungkas Mengisyaratkan Hal-hal Baik Ini terminal mojok.co

Share on FacebookShare on Twitter

Pamungkas, musisi indie idola masa kini kedapatan mencomot ilustrasi milik orang lain untuk desain kacamata di cover album musik terbarunya, Guys!

Kasus plagiat dalam bidang apa pun sering terjadi dan kita dapati bersama. Tak terkecuali pada desain dan ilustrasi, malah cenderung lebih sering terjadi dibanding pada karya di bidang lainnya. Sering pula pelaku plagiat ini adalah public figure atau influencer yang kebanyakan sama-sama hidup dalam lingkup industri kreatif.

Awkarin adalah contoh influencer yang beberapa kali ketahuan melakukannya, meski saya nggak tahu apa kerja kreatifnya, sih. Dan, yang paling heboh adalah kasusnya yang memplagiat karya seorang komikus bernama Nadiyah Rizki. Masih ingat, kan?

Nah, belum lama ini, salah satu musisi-indie-kecintaan-muda-mudi alias Pamungkas, kedapatan melakukannya juga. Ia ketahuan mencomot ilustrasi milik orang lain untuk desain kacamata di cover album musik terbarunya. Sebelum ketahuan, melalui story IG-nya ia bilang bahwa cover itu terinspirasi dari musiknya.

Edan, Mbok. Layaknya maling mobil terus langsung memamerkannya ke warga sekampung dan bilang ia membeli dengan keringatnya. Martul, marvelous betul.

Ya, meskipun ia sudah klarifikasi dan minta maaf, sih. Namun, tetap saja, omong besarnya itu patut dipertimbangkan, terutama pada orientasi Mas Pam soal hak cipta suatu karya. Hal ini mengisyaratkan niat untuk mengklaim bahwa desain itu miliknya penuh.

Untungnya, sepandai-pandai tupai melompat, ia akan jatuh pula. Sepandai-pandai Mas Pam plagiat, pasti akan dihujat warganet juga. Namun, ini merupakan hujatan yang baik, kalau saya boleh bilang begitu. Pasalnya, hujatan ini adalah sebuah isyarat yang mulai tumbuh, setidaknya secara perlahan dan tanpa disadari, terhadap beberapa hal baik ini.

#1 Menjunjung tinggi hak cipta

Melalui hak cipta, sejelek apa pun karya tentu dilindungi dan dihargai proses penciptaannya. Orang lain tak bisa asal comot, gitu gampangnya. Ada aturan hukum dan etik yang melandasi ini.

Baca Juga:

Deretan Alat Gambar yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kalangan Mahasiswa Jurusan DKV

Seniman AI Tidak Usah Sok Keren, Bikin Prompt AI Itu Nggak Sesusah Itu!

Maka kesadaran akan hak cipta begitu penting bagi siapa pun. Dengan mengetahui ada hal ini dan menerapkannya saja, saya kira, bolehlah seseorang sudah dianggap bisa mengapresiasi si pencipta karya tersebut dan tentu karya itu sendiri.

Melihat hujatan warganet terhadap plagiarisme yang dilakukan Pamungkas, saya pikir juga mengindikasikan apresiasi tersebut. Lagipula, mereka bukan hanya menghujat seperti mengoblok-gobloki, melainkan lebih kepada gugatan yang dilandasi kesadaran yang baik ini.

Sabda Armandio Alif, penulis novel 24 Jam Bersama Gaspar, me-retweet dengan quote video klarifikasi Mas Pam, yang salah satu poinnya berisi bahwa mengatasnamakan kesalahpahaman atas kasus ini merupakan tanda mental kolektif yang menganggap gampang kerja (kreatif) desainer dan ilustrator.

#2 Menghargai pekerjaan

Kalau mau ditarik mundur lebih jauh, mengutip Bang Dio lagi, kasus ini berhulu pada tuntutan untuk terus produktif bagi pekerja sehingga budaya kerja yang kompetitif, saling sikut, dan nyuri pun terbangun. Pasalnya, hanya dengan itulah seseorang bisa bertahan di dalamnya, mencapai target tuntutan.

Dalam hal ini, saya pun percaya bahwa hujatan terhadap plagiarisme sedikit banyak berangkat dari pemahaman ini. Tanpa disadari mereka tahu bahwa untuk mendapat satu karya dan laku, butuh keringat darah sebagai persembahannya. Oleh karena itu, mereka tidak suka jika ada yang melakukan plagiarisme

Dengan kata lain, mereka bisa menghargai pekerja seni itu melebihi Pamungkas yang bekerja di bidang seni, tapi beranggapan bahwa membuat desain itu mudah sehingga boleh asal comot. Padahal, mungkin pekerjaan mereka ini tidak sesenti pun mendekati dunia itu.

#3 Menghindari mental penindas

Berangkat dari kedua poin di atas, mari sekarang giliran kita melihatnya jauh ke depan. Bahwa mereka yang menggugat plagiarisme Pamungkas kalau (semoga, ya) bisa jadi bos, mereka nggak akan saklek dan menindas.

Lantaran dua hal ini: satu, mereka mengetahui hak-hak para pekerjanya; dua, mereka memahami perihal beban kerja dan tetek bengeknya.

Berangkat dari pemikiran itu, mana ada, sih, sikap keras yang, menuntut dan menghalalkan banyak cara demi meraup keuntungan, akan muncul dari sana? Saya ragu. Kecuali, mereka benar-benar jahat-mampus-bangsat-terkutuk.

Berdasarkan semua itu, hujatan mereka tidak berhenti hanya hujatan. Sekali lagi, tanpa disadari mereka sedang menumbuhkan kesadaran yang baik. Pasalnya, plagiarisme pun tidak berhenti sebagai nyolong karya orang saja. Ini juga mengindikasikan kegoblokan pura-pura terhadap hak cipta, kultur kerja industri kreatif yang menyengsarakan, dan eksploitasi terhadap pelaku di dalamnya.

Sebagai penutup, FYI aja nih, album Pamungkas yang bermasalah ini namanya “Solipsism 0.2”. Kalau mau diartikan menjadi: pandangan bahwa kesadaran seseorang hanya tahu akan dirinya sehingga tak dapat mengerti yang di luar dirinya. Istilah ini juga digunakan untuk menunjuk sikap egois.

Maka, benarlah pernyataannya yang bilang desain itu terinspirasi dari musiknya. Ya, dari solipsisme. Di mana ia hanya tahu bahwa dirinya bisa melakukan apa saja tanpa memedulikan hak cipta dan orang lain. Paripurna, lah. Padahal cuma sepersepuluh, belum penuh.

BACA JUGA Saling Berebut Titel Paling Indie, Buat Apa sih? atau tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 4 Februari 2021 oleh

Tags: karya senimusisi indiplagiarisme pamungkas
Fadlir Nyarmi Rahman

Fadlir Nyarmi Rahman

Seorang radiografer yang sedikit menulis, lebih banyak menggulir lini masa medsosnya. Bisa ditemui di IG dan Twitter @fadlirnyarmir.

ArtikelTerkait

Deretan Alat Gambar yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kalangan Mahasiswa Jurusan DKV

Deretan Alat Gambar yang Menduduki Kasta Tertinggi di Kalangan Mahasiswa Jurusan DKV

10 Januari 2024
Menerka Jalan Pikiran Orang yang Merusak Instalasi Seni Demi Potret Anjingnya terminal mojok

Menerka Jalan Pikiran Orang yang Merusak Seni Instalasi demi Potret Anjingnya

24 Mei 2021
panduan mengunjungi art gallery mojok

Panduan Menjadi Pengunjung Art Gallery yang Baik dan Tidak Norak

16 Juni 2021
Seniman AI Tidak Usah Sok Keren, Bikin Prompt AI Itu Nggak Sesusah Itu!

Seniman AI Tidak Usah Sok Keren, Bikin Prompt AI Itu Nggak Sesusah Itu!

7 Januari 2024
NFT Adalah Konsep yang Nggak Masuk Akal Bagi Kita terminal mojok.co

NFT Adalah Konsep yang Nggak Masuk Akal Bagi Kita

18 Januari 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak di Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd Mojok.co

Warga Tangerang Orang Paling Sabar Se-Jabodetabek, Sehari-hari Terjebak Tol Jakarta-Tangerang yang Absurd

5 April 2026
Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

Dilema Lulusan D4: Gelar Sarjana Terapan, tapi Dianggap D3 yang “Magang” Kepanjangan dan Otomatis Ditolak HRD karena Bukan S1

8 April 2026
4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Nggak Nafsu Makan (Wikimedia Commons)

4 Ciri Nasi Uduk Redflag yang Bikin Kecewa dan Nggak Nafsu Makan

11 April 2026
Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup Pola Pikir Pecundang (Unsplash)

Gaji Jakarta 8 Juta Nggak Cukup untuk Hidup dan Berpotensi Bikin Pekerja Tetap Miskin Adalah Pola Pikir Pecundang yang Nggak Tahu Cara Bertahan Hidup

6 April 2026
Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.