Hujatan pada Kasus Plagiarisme Pamungkas Mengisyaratkan Hal-hal Baik Ini – Terminal Mojok

Hujatan pada Kasus Plagiarisme Pamungkas Mengisyaratkan Hal-hal Baik Ini

Artikel

Pamungkas, musisi indie idola masa kini kedapatan mencomot ilustrasi milik orang lain untuk desain kacamata di cover album musik terbarunya, Guys!

Kasus plagiat dalam bidang apa pun sering terjadi dan kita dapati bersama. Tak terkecuali pada desain dan ilustrasi, malah cenderung lebih sering terjadi dibanding pada karya di bidang lainnya. Sering pula pelaku plagiat ini adalah public figure atau influencer yang kebanyakan sama-sama hidup dalam lingkup industri kreatif.

Awkarin adalah contoh influencer yang beberapa kali ketahuan melakukannya, meski saya nggak tahu apa kerja kreatifnya, sih. Dan, yang paling heboh adalah kasusnya yang memplagiat karya seorang komikus bernama Nadiyah Rizki. Masih ingat, kan?

Nah, belum lama ini, salah satu musisi-indie-kecintaan-muda-mudi alias Pamungkas, kedapatan melakukannya juga. Ia ketahuan mencomot ilustrasi milik orang lain untuk desain kacamata di cover album musik terbarunya. Sebelum ketahuan, melalui story IG-nya ia bilang bahwa cover itu terinspirasi dari musiknya.

Edan, Mbok. Layaknya maling mobil terus langsung memamerkannya ke warga sekampung dan bilang ia membeli dengan keringatnya. Martul, marvelous betul.

Ya, meskipun ia sudah klarifikasi dan minta maaf, sih. Namun, tetap saja, omong besarnya itu patut dipertimbangkan, terutama pada orientasi Mas Pam soal hak cipta suatu karya. Hal ini mengisyaratkan niat untuk mengklaim bahwa desain itu miliknya penuh.

Untungnya, sepandai-pandai tupai melompat, ia akan jatuh pula. Sepandai-pandai Mas Pam plagiat, pasti akan dihujat warganet juga. Namun, ini merupakan hujatan yang baik, kalau saya boleh bilang begitu. Pasalnya, hujatan ini adalah sebuah isyarat yang mulai tumbuh, setidaknya secara perlahan dan tanpa disadari, terhadap beberapa hal baik ini.

#1 Menjunjung tinggi hak cipta

Melalui hak cipta, sejelek apa pun karya tentu dilindungi dan dihargai proses penciptaannya. Orang lain tak bisa asal comot, gitu gampangnya. Ada aturan hukum dan etik yang melandasi ini.

Maka kesadaran akan hak cipta begitu penting bagi siapa pun. Dengan mengetahui ada hal ini dan menerapkannya saja, saya kira, bolehlah seseorang sudah dianggap bisa mengapresiasi si pencipta karya tersebut dan tentu karya itu sendiri.

Melihat hujatan warganet terhadap plagiarisme yang dilakukan Pamungkas, saya pikir juga mengindikasikan apresiasi tersebut. Lagipula, mereka bukan hanya menghujat seperti mengoblok-gobloki, melainkan lebih kepada gugatan yang dilandasi kesadaran yang baik ini.

Sabda Armandio Alif, penulis novel 24 Jam Bersama Gaspar, me-retweet dengan quote video klarifikasi Mas Pam, yang salah satu poinnya berisi bahwa mengatasnamakan kesalahpahaman atas kasus ini merupakan tanda mental kolektif yang menganggap gampang kerja (kreatif) desainer dan ilustrator.

#2 Menghargai pekerjaan

Kalau mau ditarik mundur lebih jauh, mengutip Bang Dio lagi, kasus ini berhulu pada tuntutan untuk terus produktif bagi pekerja sehingga budaya kerja yang kompetitif, saling sikut, dan nyuri pun terbangun. Pasalnya, hanya dengan itulah seseorang bisa bertahan di dalamnya, mencapai target tuntutan.

Dalam hal ini, saya pun percaya bahwa hujatan terhadap plagiarisme sedikit banyak berangkat dari pemahaman ini. Tanpa disadari mereka tahu bahwa untuk mendapat satu karya dan laku, butuh keringat darah sebagai persembahannya. Oleh karena itu, mereka tidak suka jika ada yang melakukan plagiarisme

Dengan kata lain, mereka bisa menghargai pekerja seni itu melebihi Pamungkas yang bekerja di bidang seni, tapi beranggapan bahwa membuat desain itu mudah sehingga boleh asal comot. Padahal, mungkin pekerjaan mereka ini tidak sesenti pun mendekati dunia itu.

#3 Menghindari mental penindas

Berangkat dari kedua poin di atas, mari sekarang giliran kita melihatnya jauh ke depan. Bahwa mereka yang menggugat plagiarisme Pamungkas kalau (semoga, ya) bisa jadi bos, mereka nggak akan saklek dan menindas.

Lantaran dua hal ini: satu, mereka mengetahui hak-hak para pekerjanya; dua, mereka memahami perihal beban kerja dan tetek bengeknya.

Berangkat dari pemikiran itu, mana ada, sih, sikap keras yang, menuntut dan menghalalkan banyak cara demi meraup keuntungan, akan muncul dari sana? Saya ragu. Kecuali, mereka benar-benar jahat-mampus-bangsat-terkutuk.

Berdasarkan semua itu, hujatan mereka tidak berhenti hanya hujatan. Sekali lagi, tanpa disadari mereka sedang menumbuhkan kesadaran yang baik. Pasalnya, plagiarisme pun tidak berhenti sebagai nyolong karya orang saja. Ini juga mengindikasikan kegoblokan pura-pura terhadap hak cipta, kultur kerja industri kreatif yang menyengsarakan, dan eksploitasi terhadap pelaku di dalamnya.

Sebagai penutup, FYI aja nih, album Pamungkas yang bermasalah ini namanya “Solipsism 0.2”. Kalau mau diartikan menjadi: pandangan bahwa kesadaran seseorang hanya tahu akan dirinya sehingga tak dapat mengerti yang di luar dirinya. Istilah ini juga digunakan untuk menunjuk sikap egois.

Maka, benarlah pernyataannya yang bilang desain itu terinspirasi dari musiknya. Ya, dari solipsisme. Di mana ia hanya tahu bahwa dirinya bisa melakukan apa saja tanpa memedulikan hak cipta dan orang lain. Paripurna, lah. Padahal cuma sepersepuluh, belum penuh.

BACA JUGA Saling Berebut Titel Paling Indie, Buat Apa sih? atau tulisan Fadlir Nyarmi Rahman lainnya.

Baca Juga:  Panduan Menjadi Pengunjung Art Gallery yang Baik dan Tidak Norak
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.