Banyak orang mengidam-idamkan motor Honda Win 100. Motor lawas ini memang tak pernah lekang oleh zaman. Tidak heran kalau sedang banyak dicari di pasaran.
Selain body-nya yang mencuri perhatian, motor satu ini memang super irit. Bahkan, banyak orang bilang, 2 liter bensin cukup membawa motor ini sampai Makkah. Tentu itu candaan saja untuk menggambarkan betapa irit kendaraan lawas ini.
Akan tetapi, di balik semua puja-puji tentang motor ini ada satu catatan. Anak kos jangan sekali-kali naik Honda Win 100. Terlebih kaum mendang-mending, hidup kalian akan repot dan repot banget.
Honda Win 100 motor tua yang ada saja penyakitnya
Honda Win 100 itu motor tua. Perlu perawatan dan peremajaan khusus untuk merawat motor ini. Sebagai penggunanya, saya punya 1001 cerita soal merawat motor ini. Honda Win 100 milik saya itu repot.
Masalahnya pun macam-macam, ada yang sling kopling putus, karbu yang bermasalah, hingga ass rem belakang yang patah. Kalau bukan karena keadaan alias terpaksa, nggak akan saya pakai motor ini di tanah perantauan.
Sudah sering rewel, ternyata tidak semua bengkel paham akan Honda Win 100. Dan, ini jadi tantangan khusus bagi anak rantau, khususnya ketika awal merantau.
Soal bengkel, saya sempat benar-benar dibikin pusing. Tahun pertama membawa motor lawas ini ke perantauan saya sempat kena scam. Motor malah tambah rewel setelah masuk bengkel. Salah satu yang paling membekas, karbu ori motor saya malah ditukar karbu motor lain.
Setelah kejadian itu saya lebih berhati-hati mencari bengkel. Persoalannya, di Denpasar, tempat saya merantau, tidak banyak bengkel yang paham dengan motor lawas satu ini. Sampai akhirnya saya mencari komunitas motor Honda Win 100 dan menanyakan bengkel yang paham memperbaikinya.
Suku cadang yang sulit didapat
Selain bengkel, spare part atau suku cadang motor tua ini sungguh langka terlebih secara offline. Sekalipun ada, harganya bisa berkali-kali lipat menguras kantong anak rantau.
Suku cadang memang lebih mudah ditemukan secara online. Namun, pembeli biasanya perlu menunggu waktu yang lumayan lama. Dengan kata lain, selama masa menunggu itu, motor saya harus menganggur. Terus, mobilitas saya sehari-hari naik apa? Ingat, tidak semua daerah di Indonesia punya transportasi publik yang mumpuni ya.
Itulah kerepotan-kerepotan yang saya alami gara-gara bawa Honda Win 100 saat merantau. Bagi perantau yang masih merintis, jelas bawa kendaraan satu ini jadi tantangan sendiri. Mungkin beda ceritanya kalau kalian perantauan yang sudah stabil, motor ini bisa saja jadi hobi yang menyenangkan.
Penulis: Irfan Maulana Azizy
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
