Mesin 160 cc yang bikin berkendara lebih nikmat
Salah satu alasan mengapa Honda Stylo terasa spesial adalah mesinnya. Motor ini menggunakan mesin 160 cc eSP+ yang terkenal responsif, halus, dan cukup bertenaga di tiap putaran grip gas.
Di jalanan kota, tenaga mesin ini terasa sangat cukup bahkan cenderung berlebih. Tarikan awalnya responsif, akselerasinya enteng, dan tetap stabil ketika dipakai di kecepatan menengah. Bagi sebagian orang, mesin seperti ini mungkin terasa “overkill” untuk sekadar motor harian. Tapi, bagi mereka yang paham soal rasa berkendara, di situlah letak kenikmatannya.
Motor bertenaga membuat perjalanan terasa lebih santai. Tidak perlu memaksa mesin, tidak perlu gas terlalu dalam, tapi motor sudah melaju dengan ringan.
Orang yang memahami hal ini biasanya tidak hanya membeli motor karena murah atau sekadar fungsional. Mereka membeli motor karena ingin menikmati pengalaman berkendara.
Harganya bukan untuk golongan mendang-mending
Honda Stylo bukan motor murah. Di Indonesia, harga motor ini berada di kisaran lebih dari Rp30 juta. Jika dibandingkan dengan skuter entry-level seperti Honda BeAT atau Honda Scoopy, selisihnya cukup jauh.
Dengan uang segitu, banyak orang sebenarnya akan memilih motor yang lebih rasional untuk kantong mereka. Misalnya, motor yang lebih murah tetapi tetap bertenaga dan teruji durabilitasnya.
Akan tetapi, orang yang membeli Stylo biasanya punya pertimbangan lain. Mereka tidak sekadar membeli kendaraan, tetapi juga membeli rasa. Motor ini memang lebih dekat dengan selera. Orang yang memilih Stylo biasanya adalah mereka yang memperhatikan desain, performa, dan pengalaman berkendara secara bersamaan.
Mereka tidak sekadar mencari motor yang bisa membawa dari titik A ke titik B. Mereka mencari kendaraan yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Karena itu tidak berlebihan jika ada yang mengatakan bahwa pengguna Honda Stylo biasanya adalah orang kaya yang tahu menikmati mesin powerful.
Mereka tidak selalu miliarder, tapi cukup mapan untuk memilih sesuatu yang memberi rasa puas ketika melihat motornya nongkrong di bengkel sambil pesan rangka baru. Dan, dalam dunia otomotif, selera seperti itu sering kali menjadi pembeda paling jelas antara orang yang uangnya luweh-luweh serta ikhlas membuang begitu saja.
Penulis: Budi
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















