Sudah dua kali saya melihat motor Honda PCX 160 dengan bentuk ceper mengaspal di jalanan. Saya tahu betul itu hasil modifikasi pemiliknya. Sebab, produsen mana yang cukup gila mendesain motor berbodi besar dengan ceper seperti itu. Selain merusak mata, terlihat membahayakan untuk dikendarai.
Modifikasi motor bukanlah hal yang baru. Saya paham, memodifikasi motor bisa menimbulkan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. Namun, tetap saja, untuk motor Honda PCX 160 dibuat ceper, saya harap ide ini tidak pernah ada.
Ada yang bilang, kendaraan ini dibuat ceper supaya pemiliknya tidak perlu repot-repot jinjit ketika menggunakannya. Namun, saya tetap saja menolak modifikasi ini. Menurut saya, Honda PCX 160 dibuat ceper lebih banyak mengundang ancaman keselamatan daripada manfaatnya.
Risiko gasruk saat melintasi polisi tidur
Honda PCX 160 adalah motor yang mahal. Sudah seyogyanya pemilik motor menjaga dengan baik agar kondisi motor selalu baik. Memendekkan motor justru akan membawa risiko yang cukup serius. Namun, saya tidak yakin hal ini bakal digubris oleh para pemilik motor. Sebab, mengotak-atik motor sudah menjadi kesenangan tersendiri.
PCX 160 yang dibuat ceper membuat bagian bawah motor hampir mencium jalan. Kalau jalan mulus seperti di sirkuit MotoGP ya oke-oke saja, tapi kan kita tahu jalanan aspal di Indonesia seperti apa. Banyak polisi tidur yang kadang mengagetkan si pengendara. Belum lagi menghadapi jalan yang berlubang.
Memang siapa yang mau mendengar gesekan bodi motor dengan polisi tidur? Mendengarnya saja sudah menjadi siksaan kuping. Para desainer motor sudah menghitung dengan baik bagaimana memberikan kenyamanan dalam berkendara. So, pemilik motor nggak perlu melakukan hal yang aneh-aneh lagi.
Suspensi Honda PCX 160 jadi tidak nyaman
Salah satu bagian vital dalam kenyamanan berkendara adalah suspensi. Downsize atau membuat ceper pada PCX 160 sudah pasti bakal membuat kenyamanan berkurang. Lha bayangkan saja untuk membuat ceper, shock bagian belakang maupun depan harus diganti yang lebih pendek.
Misalnya ngomongin shock bagian depan motor. Jika menggunakan shock standar pabrikan, masih ada jarak yang cukup bagian depan motor dengan spakbor. Adanya jarak ini, suspensi bisa mantul secara optimal. Kalau dibuat lebih pendek, jarak tersebut bakal menjadi berkurang dan suspensi menjadi keras karena mentok dengan spakbor depan.
Tentu hal ini bakal menyiksa bagi pengendara dan yang membonceng. Alih-alih berharap bisa duduk dengan tenang, malah jadinya kapok. Apalagi jika kamu sebagai pemilik motor mempunyai pacar, bisa-bisa karena hal ini menyebabkan pertengkaran.
Buang jauh-jauh ide untuk menggunakan ban ramping
Biasanya saya melihat ban juga termasuk bagian komponen motor yang diganti jika ingin downsize PCX 160. Ban akan diganti dengan ban yang lebih ramping, berbeda dengan ban pabrikan Honda yang lebih gendut. Padahal mengganti ban yang lebih ramping, merusak estetika motor itu sendiri.
Selain itu, masalahnya juga terletak pada bodi motor PCX 160 yang cukup besar. Ban seramping itu disuruh membawa beban sebesar itu tentu akan mempengaruhi keseimbangan. Stabilitas dalam berkendara jelas menurun. Beneran deh kalau soal motor PCX 160, modif ban seperti ini benar-benar tidak masuk di akal.
Jika membandingkan dengan motor Satria FU150 yang dibuat ceper, saya masih bisa memahaminya. Sebab bodi motor Suzuki tersebut kecil, bahkan ada yang melepas bodinya sehingga tinggal rangkanya saja. Secara keseimbangan bisa lebih terjaga daripada PCX 160.
Itu tadi adalah bahaya-bahaya yang bisa terjadi jika menjadikan Honda PCX 160 ceper atau downsize. Hal ini agar pengendara maupun yang membonceng bisa lebih selamat saat berkendara. Sebab lebih baik mencegah daripada mengobati.
Penulis: Nafiuddin Fadly
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA Tanpa Motor Supra, Honda Tidak Akan Menjadi Brand Motor Terbaik yang Pernah Ada di Indonesia.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.


















