Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Di Balik Wajah Kota yang Modern: Kehidupan Kelam di Labirin Gang Sempit dan Hilangnya Estetika Kota Malang

Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati oleh Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati
29 Maret 2026
A A
Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Hilangnya Estetika Kota Malang Makin Kelam dan Menyedihkan (Unsplash)

Share on FacebookShare on Twitter

Merantau di Kota Malang selalu menjadi incaran para calon mahasiswa. Termasuk saya sendiri.

Minggu-minggu awal saat menetap di Kota Malang, rasa ingin tahu saya tentang kondisi lingkungan sekitar sangatlah besar. Maka, suatu pagi, saya dan seorang teman memutuskan untuk jalan-jalan, menelusuri tiap gang yang ada di sekitar. 

Kami tidak ingin dijuluki sebagai manusia “nolep” karena tidak mengetahui ada apa saja di lingkungan sekitar Kota Malang. Dan tentu saja, berbekal pengetahuan yang sangat sedikit, kami tersesat. 

Bukan rasa takut atau kebingungan yang kami rasakan saat itu. Justru rasa penasaran yang semakin membara. Saat itu kami membayangkan sedang berada di sebuah permainan labirin. Tanpa bantuan Google Maps, kami harus bisa mencari jalan sendiri.

Sesekali, kami menertawakan kebodohan ini. Terkadang merasa kesal dan resah saat mencium bau tidak sedap saat menelusuri labirin gang sempit.

Kondisi ini tak terhindarkan. Sebab, banyak masyarakat Kota Malang memanfaatkan lahan yang mereka punya untuk membangun kos-kosan. Bahkan, tak jarang dari mereka yang memaksa rumahnya sendiri menjadi kos. 

Memang, sih, hitung-hitung menambah pemasukkan keuangan. Tapi mereka mengabaikan fungsi lahan terbuka hijau hanya untuk kepentingan ekonomi pribadi.

BACA JUGA: Sisi Gelap Malang Hari ini: Masih Cantik, tapi Semakin Toxic

Baca Juga:

Merantau ke Malang Menyadarkan Saya Betapa Payah Hidup di Bojonegoro

Meski Keras dan Bisa Kejam, Faktanya Jakarta Bisa Bikin Rindu. Tapi Maaf, Saya Memilih Tidak Lagi Merantau dan Pulang ke Surabaya

Ledakan urbanisasi Kota Malang

Sebagai kota pendidikan yang menampung berbagai mahasiswa dari berbagai daerah, setiap tahunnya, Kota Malang mengalami lonjakan urbanisasi. Selain untuk sekolah, banyak pendatang juga mencari pekerjaan. 

Maka, kebutuhan tempat tinggal ini mendesak masyarakat di Kota Malang berlomba memaksakan lahan yang mereka punya. Demi memenuhi kebutuhan ekonomi pribadi mereka, fungsi lahan terbuka hijau tak pernah terpedulikan. Akibatnya, banyak rumah yang berdiri berdesakan sehingga menimbulkan rasa pengap.

Labirin gang sempit

Gang-gang ini bukan hanya jalan pintas. Namun, salah satu bukti betapa sesaknya Kota Malang dalam bernapas. Pancaran sinar UV dari mentari pagi yang seharusnya memberikan jutaan manfaat seakan enggan masuk ke dalam labirin di gang sempit. Aroma masakan tak hanya tersebar di satu rumah. Namun bisa menyebar ke berbagai rumah. 

Lima rumah yang berhimpitan terasa seperti berada di satu rumah. Adanya peraturan mengenai pengemudi kendaraan yang diwajibkan turun saat akan memasuki labirin gang itu. 

Banyak masyarakat Kota Malang yang harus berjalan keluar gang terlebih dahulu untuk menunggu penjemputan di pinggir jalan besar. Serta aroma drainase yang tersumbat oleh sampah menjadi aroma khas saat melewati gang-gang tersebut. Semua ini membuktikan betapa sesaknya kondisi lingkungan yang jarang tersorot oleh mata.

BACA JUGA: Nestapa Perantau di Kota Malang, Tiap Hari Cemas karena Banjir yang Kian Ganas

Hilangnya estetika Kota Malang

Di balik tembok-tembok minimalis kafe tersimpan beton-beton lembab yang berdiri berhimpitan. Kota Malang memang bisa menyajikan pemandangan indah. Namun, di balik itu, kamu akan terdiam ketika melihat kondisi masyarakat. Hanya berjarak beberapa meter dari wajah kota yang penuh estetika, terdapat sisi lain yang tersimpan. 

Banyak rumah yang dulunya memiliki sedikit lahan sebagai daerah resapan air, kini hilang hanya karena memaksakan tempat tinggalnya sebagai sebuah kos-kosan. Tak hanya itu, kabel listrik yang semrawut menjadi keresahan banyak pihak. 

Hilangnya estetika di Kota Malang bukan hanya permasalahan drainase atau kabel semrawut di sepanjang jalan. Akan tetapi, hilangnya Lahan Terbuka Hijau hanya karena ambisi ekonomi juga salah satunya. 

Masyarakat yang harus membayar mahal kelak. Hilangnya fungsi lahan menyimpan bencana masa depan. Ah, tak perlu membayangkan masa depan karena “bencana” itu sudah terjadi. Salah satunya adalah banjir yang kerap terjadi ketika hujan turun.

Dulu, saya mengagumi keindahan Kota Malang. Namun kini, saya tahu kehidupan yang sebenarnya di balik estetika salah satu Kota Pendidikan ini. Dan estetika itu, nyatanya, sudah hilang.

Penulis: Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati

Editor: Yamadipati Seno

BACA JUGA Kota Malang Itu Bukan Kota Slow Living, tapi Slow Motion

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 29 Maret 2026 oleh

Tags: banjir kota malangbanjir malangjawa timurkota malangMalangmalang kota pendidikan
Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati

Dhivia Felsy Tsabitah Nugrahwati

Mahasiswa semester 2 Universitas Negeri Malang. Memiliki ketertarikan terhadap isu lingkungan.

ArtikelTerkait

Jember di Mata Orang Bangkalan Madura: Bikin Minder dan Ingin Pindah Domisili Mojok.co

Jember di Mata Orang Bangkalan Madura: Bikin Minder dan Ingin Pindah Domisili 

3 Januari 2024
3 Toko Baju Andalan Mahasiswi di Malang Terminal Mojok

3 Toko Baju Andalan Mahasiswi di Malang

16 Juni 2022
Kabupaten Pasuruan, Kabupaten yang Sibuk, Serba Ada, dan Cukup Humble, tapi Amat Monoton

Kabupaten Pasuruan, Kabupaten yang Sibuk, Serba Ada, dan Cukup Humble, tapi Amat Monoton

30 Mei 2025
Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan (Unsplash)

Sidoarjo Menyimpan Peluang Bisnis yang Menggiurkan

12 Maret 2023
Surabaya dan Sidoarjo Makin Erat. Saatnya Melebur Jadi Satu? (Pexels)

Surabaya dan Sidoarjo Semakin Tak Terpisahkan. Apakah Kelak Keduanya Akan Melebur Menjadi Satu Daerah?

10 Maret 2025
Wisma Tumapel Malang, Hotel Elite di Zaman Kolonial Belanda yang Kini Jadi Destinasi Pencinta Misteri

Wisma Tumapel Malang, Hotel Elite di Zaman Kolonial Belanda yang Kini Jadi Destinasi Pencinta Misteri

10 Januari 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

WFA ASN, Kebijakan yang Bikin Negara Hemat tapi Pengeluaran ASN Membengkak Parah

27 Maret 2026
Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

Jangan Tergiur Ban Motor Murah: Kisah Nyata Hampir Celaka di Jalan Pantura

25 Maret 2026
7 Kesalahan Kecil dalam Pengerjaan Skripsi yang Sering Bikin Mahasiswa Dapat Banyak Revisi, Baca Baik-baik biar Nggak Makin Stres

Alasan Saya Memilih Tugas Akhir Skripsi meski Pilihan Lain Terlihat Lebih “Waras”

22 Maret 2026
Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo Mojok.co

Plesir ke Telaga Sarangan Magetan Cuma Bikin Emosi, Mending ke Telaga Ngebel Ponorogo

26 Maret 2026
Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living Mojok.co

Kulon Progo Terkesan Santai karena Warlok Tidak Punya Banyak Pilihan Hidup, Bukan karena Menganut Slow Living

27 Maret 2026
9 Derita Profesi Sales Boleh Nangis, tapi Tetap Kudu Target (Unsplash)

9 Derita Profesi Sales, Sosok yang Katanya Bermental Baja padahal Semua Terjadi karena Terpaksa

24 Maret 2026

Youtube Terbaru

https://youtu.be/AXgoxBx-eb8?si=Oj6cw-dcHSgky7Ur

Liputan dan Esai

  • Diajar Dosen “Absurd” saat Kuliah UIN: Isi Matkul Paksa Sesatkan dan Mengafirkan, Ujian Akhirnya Praktik Wudu yang Berakhir Nilai C
  • Peringatan untuk Gen Z si Paling Soft Saving: Boleh Nabung Sambil Menikmati Hidup di Masa Kini, tapi Masa Tua Jangan Sampai Jadi Beban
  • Realitas Pahit Film “Tunggu Aku Sukses Nanti” yang Bikin Gen Z Menangis: Susah Cari Kerja dan Dihina Saat Kumpul Keluarga
  • Dibanding Stasiun Lempuyangan, Saya Lebih Pilih Stasiun Tugu Jogja yang Mahal dan Ramai asal Tak Harus Menahan Emosi Menunggu Jemputan
  • 5 Kuliner Sekitar Stasiun Tugu Jogja yang Sudah Teruji Lidah Warlok, Layak Dicoba Sebelum atau Sesudah Naik Kereta
  • ‘Na Willa’, Merangkul Inner Child dan Kebutuhan akan Film Anak dari Muaknya Komodifikasi Ketakutan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.