Hector Bellerin: Diminati Bayern Munchen dan Sebuah Perayaan Tak Terduga

Akhir Februari 2020 saya pernah menulis, mungkin sudah saatnya Arsenal menjual Hector Bellerin. Saya tahu pendapat ini terdengar tak enak di telinga fans.

Artikel

Avatar

Akhir Februari 2020 saya pernah menulis bahwa mungkin sudah saatnya Arsenal menjual Hector Bellerin. Saya tahu kabar ini terdengar bising di telinga banyak fans. Namun di sepak bola, terkadang, yang “kuat” memakan yang “lemah”.

Terkadang? Atau memang justru sering terjadi?

Sepak bola sudah sangat sering dibaca sebagai sebuah cermin kehidupan. Terutama tentang perasaan yang muncul dari lapangan hijau. Dan kenyataan yang tidak bisa kita tampik begitu saja adalah: zaman berubah. Seiring perubahan itu, mereka yang tidak siap, harus ikhlas ditinggal. Tidak bisa beradaptasi berarti titik buntu yang tidak bisa dihindari.

Sepak bola juga bisa menjadi gambaran dunia yang kejam. Hukum alam berlaku di sini: yang kuat akan selalu memakan yang lemah. Yang lemah, akan selalu ada di bawah rantai makanan, takluk oleh mereka yang bercolok di puncak. Ketika waktunya tiba, Hector Bellerin, yang kita kasihi bersama, akan lesap juga.

Selain Aaron Ramsey dan Jack Wilshere, bagi saya hanya Hector Bellerin, pemain yang matang di akademi Arsenal, yang tidak bisa saya benci. Kesal karena mereka bermain buruk adalah lumrah. Namun, ketika tiba saatnya untuk berpisah, ada saja rasa sesal di dada, bahkan membuat malam-malam menjadi gelisah.

Kita semua tahu Bellerin datang di saat yang tepat. Ketika Arsenal krisis pemain karena cedera, terutama untuk pos bek kanan. Bahkan, saya yakin kamu tahu, di laga debut Bellerin bersama Arsenal, dia bermain sebagai gelandang sentral.

Pada titik tertentu, kita akan sangat menghargai orang yang datang di saat yang tepat. Terutama ketika kita sedang kesusahan. Dan untuk kemudian, orang tersebut berhasil masuk ke hati, mau berkorban, mewakafkan energinya untuk hidup kita. Tepat pada saat itu, orang tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan.

Baca Juga:  Deddy Corbuzier dan Lahirnya Tiga Golongan yang Membuat Kita Geleng Kepala

Bellerin adalah sosok seperti itu. Masih sangat muda, tetapi mental profesionalnya sangat menonjol. Aman untuk dikatakan bahwa bek asal Spanyol itu hampir selalu konsisten. Performa yang bisa diandalkan, dekat dengan fans, ceria, berdedikasi, dan tentu saja membenci Tottenham Hotspur.

Sayangnya, sepak bola tidak hanya soal nostalgia dan hal-hal romantis lainnya. Sepak bola itu seperti sosok yang sangat menuntut. Terkadang, ia bisa sangat egois. Bahkan dengan mudah membenci mereka yang gagal berkembang dan beradaptasi. Pada titik tersebut, hukum alam mulai berlaku.

Perlu saya tegaskan sekali lagi, saya tidak membenci Hector Bellerin. Sudah gila, apa. Namun, sebagai fans, sebaiknya memang kita melebarkan cara pandang. Kondisi skuat dan kebutuhan pelatih mutlak harus dipikirkan. Yah, paling tidak kita tahu kondisi skuat lewat berpikir secara jernih.

Kita juga harus jernih memandang sosok Bellerin. Sejak kembali dari cedera parah, dia sudah bukan Bellerin yang dulu. Padahal, meski memang menyedihkan tetapi harus diutarakan, skill set mantan pemain akademi Barcelona itu memang terbatas. Di usia muda, vitalitas, akselerasi, dan speed Bellerin adalah alasan dia begitu dicintai.

Heroiknya Bellerin di usia muda dengan skill set seperti itu, sukses menutupi banyaknya kelemahan. Teknik crossing hanya rata-rata saja, teknik 1v1 yang belum sempat matang sebelum cedera, dan pengambilan posisi yang juga belum berbuah. Ketika skill set-nya direnggut oleh cedera, Hector Bellerin tidak bisa menawarkan banyak hal untuk Arsenal.

Faktanya, Mikel Arteta memandang Ainsley Maitland Niles sebagai bek kanan utama Arsenal. Meskipun ironisnya, si pemain seperti enggan “dikonversi” sebagai bek kanan. Arsenal bahkan harus mendatangkan Cedric Soares sebagai bek kanan dengan status backup. Harapan kepada Bellerin semakin redup dan tinggal menunggu waktu saja sebelum api itu padam.

Baca Juga:  Mencari Keseimbangan Skuat Arsenal di FM 2020

Memahami yang terburuk, terkadang, menjadi modal terbaik untuk menghadapi badai. Membuat kita sigap. Mitigasi akan datangnya badai membuat kita siap menghadapi kehidupan “setelah badai berlalu”.

Dan terkadang, keberhasilan melewati badai, menjadi tanda datangnya kehidupan baru. Oh, fans Arsenal pasti akrab betul dengan falsafah ini. Ketika Bacary Sagna pergi, Mathieu Debuchy datang. Ketika Debuchy tumbang karena cedera, Hector Bellerin menyelamatkan Arsenal. Siklusnya seperti itu.

Mohon maaf jika saya menulis seperti ini:

Sepak bola adalah sosok kejam. Dia akan menyingkirkan mereka yang tidak siap. Meskipun kejam, sepak bola tahu yang terbaik. Regenerasi, muka baru, kebutuhan baru. Adalah hal-hal yang kelak akan kita rayakan. Sebuah perayaan tidak terduga, yang biasanya, diawali oleh keprihatinan dan penyesalan.

BACA JUGA Pernikahan Perak Inul Daratista dan Adam Suseno, Ketika Cowok Jadi Diri Sendiri di depan Pasangan dan tulisan Yamadipati Seno lainnya. Follow Twitter Yamadipati Seno.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pengin gabung grup WhatsApp Terminal Mojok? Kamu bisa klik link-nya di sini.

---
5


Komentar

Comments are closed.