Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Hasil Kerja Nggak Terlihat, Dikritik Ngamuk, Maumu Apa Sebenarnya?

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
16 April 2023
A A
Hasil Kerja Nggak Terlihat, Dikritik Ngamuk, Maumu Apa Sebenarnya?

Hasil Kerja Nggak Terlihat, Dikritik Ngamuk, Maumu Apa Sebenarnya? (Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Kerjaan nggak jelas hasilnya, tapi kalau dikritik ngamuk, njalukmu opo e, Lur?

Bayangkan seperti ini. Anda punya rekan kerja yang pemalas, tak becus dalam mengerjakan job desc-nya, pun tak sudi mengeluarkan tenaga jika mengerjakan sesuatu. Sialnya, posisi dia vital dalam perusahaan dan gajinya amat besar. Masa depan perusahaan, yang tentunya jadi masa depanmu juga, tergantung pada rekan kerjamu yang tak becus itu.

Sialnya lagi, jika kinerjanya dikritik, dia akan mengamuk. Mengutuki apa saja macam bocah yang keranjingan Cocomelon. Dan dia akan membuatmu celaka, dengan kekuasaan yang dia punya, hanya karena kau mengkritik kinerjanya.

Sudah bisa bayangin betapa mengerikannya hidup jika punya rekan kerja seperti itu? Itulah gambaran rasanya hidup di sebuah daerah yang pemimpinnya mendatangi orang-orang dekat pengkritiknya. Saya nggak mau sebut nama daerahnya, kalian sudah tahu. 

Tidak ada hal selain simpati yang saya bisa berikan pada penduduk daerah tersebut. Apa yang dikritik, buktinya bisa dilihat dengan mata telanjang. Tapi ketika kritikan akan hal-hal tersebut viral, mereka tidak terima. Dan orang-orang macam itu yang bikin saya terheran-heran, terlebih pemimpin.

Disclaimer dulu, tulisan ini tidak menyasar ke pemimpin daerah yang sedang viral. Kalian baiknya jangan pede-pede amat. Anggap saja tulisan ini jadi refleksi untuk kita semua, apakah kita, sudah menjalankan tugas kita sebaik-baiknya.

Kita semua adalah karyawan

Kecuali Anda pebisnis, mau setinggi apa pun jabatan kalian—pimpinan sekalipun, kalian pasti punya bos. Bahkan pebisnis pun punya bos, jika usaha dia disuntik investor. Bos di sini bisa cair definisinya. Yang jelas sih, bos dari segala bos adalah uang. Sebagai pekerja, yang harus Anda lakukan adalah mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh bos kalian, dan mereka jugalah yang menilai bagaimana kinerja kalian.

Nah, pemimpin, macam bupati, wali kota, gubernur, bahkan presiden sekalipun itu punya bos. Dan bos mereka itu ya kita-kita ini, rakyat biasa. Hayo, kalian pasti mikirnya bos mereka adalah ketua partai kan? Ngawur.

Baca Juga:

7 Kota dan Provinsi di Indonesia yang Selalu Apes Dapat Pemimpin Korup Terjerat KPK

3 Keuntungan Punya Lurah Milenial dan Jomblo

Jadi, kinerja mereka—para pemimpin itu, ya yang menilai rakyat. Mereka tidak bisa menolak untuk dinilai oleh rakyat. Memberikan penjelasan dan pembelaan tentu saja bisa, tapi untuk menolak, tentu nggak bisa. Dan kritik, itu adalah salah satu (cara) penilaian.

Lalu, jika hasil kerja mereka nggak mau dikritik, terus bagaimana? Ya mudah saja: nggak usah kerja sekalian. Mundur, dan biarkan orang lain (yang becus) menggantikan mereka. Sederhana.

Betapa pentingnya kritik 

Kritik itu jelas diperlukan agar seseorang atau organisasi atau apalah itu berkembang. Tanpa kritik, Anda akan jadi seseorang yang lebih bodoh dari keledai, jatuh ke lubang yang sama berkali-kali dan tetap bahagia. Dan cara kritik itu disampaikan ke kalian pun harusnya nggak jadi soal. Mau dikritik dengan makian, satir, lemah lembut, semuanya sama saja: ada kekurangan yang baiknya kalian perhatikan.

Makanya, bos kalian di kantor itu kerap kali memberikan kritik. Dari kritik-kritik itulah kalian tersentak, dan akhirnya bergerak. Ya memang beginilah dunia bekerja, kalau mau sejahtera, memang harus punya kulit yang lebih tebal ketimbang badak.

Tapi kalau Anda tak mau dikritik, itu masalah yang amat, sangat, besar. Saya sampai sengaja melakukan kesalahan penulisan hanya untuk memberikan penekanan tentang hal tersebut.

Masalahnya adalah, ketika Anda tak mau dikritik, Anda menghambat kerja besar yang ada dalam sistem kerja Anda. Ambil contoh saya saja, biar mudah. Jika saya tak mau menerima kritikan atas kualitas editan saya, bisa jadi orang-orang akan malas membaca Mojok. Ketika orang tak lagi semangat membaca Mojok, maka lambat laun Mojok akan gulung tikar karena tak lagi menarik.

Terlihat berlebihan? Wo ya tidak. Sudah terlalu banyak contoh perusahaan besar yang bangkrut hanya karena bebal.

Kalau saya, karyawan yang tak berada dalam hierarki tertinggi saja bisa membuat kelangsungan bisnis terancam, apalagi pemimpin yang tak becus yang tak mau dikritik.

Maumu apa sih?

Saya sampai terheran-heran dengan pemimpin-pemimpin yang tak mau dikritik dan memberikan sejuta alasan tentang kritikan tersebut. Hasil kerja nggak keliatan, dikritik ngamuk, lha maumu itu apa sebenarnya?

Wong ya kerja untuk rakyat, sudah tahu bos mereka rakyat (itu jika mereka paham, sih), kok ngamuk ketika dinilai rakyat. Misal penilaiannya ngawur, ya lakukan selayaknya karyawan biasa ketika menghadapi bos yang agak laen. Tinggal nggih, lalu lanjutkan pekerjaan. Lak yo begitu to?

Jangan lupa, kalian itu karyawannya rakyat lho. Mentang-mentang punya jabatan njuk bertingkah seperti raja, lalu kebal dari hukum? Ha rumangsamu koe ki Raja Inggris?

Misal kritikan dari bos itu nggak disertai solusi, ya nggak apa-apa. Sejak kapan kritik harus disertai solusi? Masak ya nggak bisa melihat solusi dari kritikan tersebut? Lha kalau nggak bisa ya berarti situ yang goblok. Sana ambil kejar paket, ngulang lagi dari SD tapi.

Indonesia Gelap

Jika polah-polah pemimpin yang tantrum ketika dikritik ini tak dihentikan, alih-alih Indonesia Emas, kita akan menghadapi Indonesia Gelap 2045. Apa yang Anda harapkan dari pemimpin yang bahkan nggak tahu esensi dasar kepemimpinan?

Jika Anda, para pemimpin, masih tidak bisa memahami kenapa kalian harus legowo dan menerima kritik tanpa menyerang balik si pemberi kritik, saran saya sih cuman satu: resign. Coba tekuni bisnis lain, misal, budi daya ikan gabus. Katanya sih cuannya gede.

Sebagai penutup, saya mau sedikit pede. Saya agak yakin kalau ada yang merespons tulisan ini dengan “lha situ aja yang jadi pemimpin, biar tahu seberapa susahnya memimpin!”. Misal beneran ada, saya sih bakal jawab nggak mau. Saya tahu kapasitas diri saya. Kalian tahu kapasitas diri kalian nggak, by the way?

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Kritik Harus Sopan Itu Aturan dari Mana?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 16 April 2023 oleh

Tags: antikritikpemimpin
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Kita Nggak Butuh Pemimpin Melek Korea, Kita Butuh Pemimpin yang Beneran Peduli dengan Rakyat

Kita Nggak Butuh Pemimpin Melek Korea, Kita Butuh Pemimpin yang Beneran Peduli dengan Rakyat

23 November 2022
Jika Warga Jogja Antikritik, Siapa yang Senang?

Jika Warga Jogja Antikritik, Siapa yang Senang?

12 Mei 2022
Tak Harus Cakap untuk Jadi Pemimpin di Negara Demokrasi? terminal mojok.co

Tak Harus Cakap untuk Jadi Pemimpin di Negara Demokrasi?

2 Agustus 2021
3 Keuntungan Punya Lurah Milenial dan Jomblo

3 Keuntungan Punya Lurah Milenial dan Jomblo

22 April 2023
RKUHP Adalah Karya Agung Pemerintah yang Mesti Dipuji Setinggi Langit

RKUHP Adalah Karya Agung Pemerintah yang Mesti Dipuji Setinggi Langit

4 Juli 2022
Saking Ndesonya Soal Jogja, Saya Pernah Beli Pecel di Angkringan terminal mojok.co

Pemecatan Pangeran Adalah Bukti Kraton Jogja sebagai Monarki Tanpa Kritik

21 Januari 2021
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

Hal yang Biasa Dijumpai di Temanggung, Daerah Lain Nggak Punya. Salah Satunya Pemandangan Jaran Kepang di Jalan

19 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus: Teriak Melawan Penindasan di Luar, tapi Seniornya Jadi Aktor Penindas Paling Kejam organisasi mahasiswa eksternal organisasi kampus

Fenomena Alumni Abadi di Organisasi Kampus: Sarjana Pengangguran yang Hobi Mengintervensi Junior demi Merawat Ego yang Remuk di Dunia Kerja

18 Januari 2026
Jalan Dayeuhkolot Bandung- Wujud Ruwetnya Jalanan Bandung (Unsplash)

Jalan Dayeuhkolot Bandung: Jalan Raya Paling Menyebalkan di Bandung. Kalau Hujan Banjir, kalau Kemarau Panas dan Macet

17 Januari 2026
Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup

Mahasiswa UT Lulus Bukan untuk Pamer, tapi untuk Bertahan Hidup

20 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Istora Senayan Jadi Titik Sakral Menaruh Mimpi, Cerita Bocah Madura Rela Jauh dari Rumah Sejak SD untuk Kebanggaan dan Kebahagiaan
  • Indonesia Masters 2026 Berupaya Mengembalikan Gemuruh Istora Lewat “Pesta Rakyat” dan Tiket Terjangkau Mulai Rp40 Ribu
  • Nasib Tinggal di Jogja dan Jakarta Ternyata Sama Saja, Baru Sadar Cara Ini Jadi Kunci Finansial di Tahun 2026
  • Mahasiswa di Jogja Melawan Kesepian dan Siksaan Kemiskinan dengan Ratusan Mangkuk Mie Ayam
  • Beasiswa LPDP 80 Persen ke STEM: Negara Ingin Membuat Robot Tanpa Jiwa?
  • Air dari Perut Bumi: Goa Jomblang dan Perubahan Hidup Warga Gendayaan

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.