Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Harga Cabai Hari Ini Melonjak, Saatnya Kita Berontak

Nurlailatul Hidayah oleh Nurlailatul Hidayah
6 Juli 2022
A A
Harga Cabai Hari Ini Melonjak, Saatnya Kita Berontak

Harga Cabai Hari Ini Melonjak, Saatnya Kita Berontak (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Harga cabai hari ini bikin kita menderita. Bagaimana bisa negara yang memuja sambal malah kelabakan gara-gara masalah cabai?

Sebagai pencinta sambal kecap dan sambal bawang, hati saya berkecamuk melihat kenyataan bahwa harga cabai hari ini melonjak. Menurut ibu-ibu penjual sayur, harga cabai rawit terkini di Malang Raya mencapai angka Rp100.000,00 per kilogram. Persis seratus ribu rupiah. Padahal, sekitar Mei menuju Juni lalu, satu kilogram cabai secara anggun dan santuy berada di harga Rp60.000,00.

ADVERTISEMENT

Momentum kenaikan harga cabai hari ini menjadi nightmare bagi orang-orang kere seperti saya. Sementara teman-teman saya yang bekerja sebagai petani cabai di lereng Gunung Kelud sana mungkin sedang party, lossss!

Eh, tapi saya nggak yakin juga sih. Biasanya, ketika harga naik, justru petani yang kesusahan. Angele golek duit, Rek.

Tapi, mau bagaimana lagi? Cuaca dan perubahan iklim yang sedang ugal-ugalan saat ini sangat memengaruhi produktivitas pertanian. Para petani harus ekstra usaha dengan cara merogoh kocek mampus-mampusan untuk menyelamatkan hasil panen akibat hujan di Juni yang nggak uwis-uwis. Ya, sebanding, lah!

Dua ribu dapat lima

Demi menjunjung martabat saya sebagai pemuda agar tidak kelihatan fakir dan menyedihkan, saya nekat membeli cabai walaupun sudah tahu persis kalau saya akan menyesal. Suatu sore, saya beranjak dari kamar menuju toko kelontong yang juga menjual sayur-sayuran. Toko tersebut tidak jauh dari kos-kosan sehingga saya memilih jalan kaki sambil menyusuri rel perlintasan kereta api.

Benar saja. Satu bungkus cabai yang dikemas rapi dalam plastik harganya dua ribu rupiah, berisi lima buah cabai. Sebenarnya, saya kurang suka menyebutnya “lima buah” karena lebih etis dan praktis jika disebut “lima butir”. Saya tidak sampai hati melihat ukuran cabai yang kecil dan mungil itu, belum lagi kalau ada cabai yang tidak lama lagi akan busuk.

Ibu pemilik toko juga ketar-ketir mau kulakan cabai dalam jumlah yang banyak, paling mentok hanya satu kilogram dari pasar. Tidak ada pilihan lagi selain mengemas cabai dengan harga dua ribuan. Dan tidak ada pilihan selain tetap berjualan untuk menyambung hidup di tengah harga sayur-mayur yang ikut meroket.

Baca Juga:

3 Tradisi Manten Paling Unik di Tulungagung. Terdengar Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warlok

Penderitaan Tinggal Dekat Tempat Wisata Mikutopia Kota Batu, Hidup Dihantui Macet, Berisik, dan Waswas dengan Ancaman Bencana Ekologis Masa Depan

Harga cabai hari ini, nyatanya, tak hanya mengubah hidup pencinta sambal, tapi pedagang pun terkena imbasnya.

Tentu saja saya tidak ingin membiarkan kenestapaan ini berlarut-larut, saya harus tetap memenuhi kebutuhan akan rasa pedas. Lima buah cabai dengan harga dua ribu rupiah tidak cukup untuk satu masakan, jelas tidak mampu menopang kehidupan saya sebagai anak kos yang kere ini.

Setelah mencari berbagai cara dan mencoba menemukan pengganti cabai, alhasil saya menemukan bumbu instan nasi goreng pedas. Tentu saja, selain bisa untuk memasak nasi goreng, bumbu itu bisa saya gunakan untuk masakan tumis walaupun sebenarnya tidak masuk akal. Namun, lagi-lagi, terobos!

Saya tetap memilih jalan ninja tersebut karena sangat ekonomis. Satu bungkus bumbu instan seharga Rp2.000,00 tersebut bisa dibuat dua kali masakan versi porsi saya, lebih hemat jika dibandingkan dengan bubuk cabai (sensor merek) yang isinya dikit biangeeettt!

Sepanjang ini saya ngedumel, sebenarnya yang mau saya sampaikan adalah, harga cabai hari ini sudah tak masuk akal. Pun sampai sekarang, saya tak melihat ada langkah yang diambil untuk mengatasi ini. Atau setidaknya, meringankan dampaknya.

Padahal, cabai adalah barang yang amat penting bagi orang Indonesia. Berpegang pada fakta itu saja, seharusnya prioritas dan tindakan preventif untuk masalah-masalah yang akan datang. Realitasnya, tiap ada kejadian serupa, semuanya kelabakan. Rakyat kelabakan sih lumrah, kalau pemerintah kelabakan itu yang saya heran. Kok bisa? Apalagi ada yang bikin komentar nggak mutu semacam saatnya pedagang cari untung. Ealah.

Sudah saatnya kita berontak. Tidak harus menggulingkan pemerintahan, tapi kita pertanyakan terus kesiapan pemerintah tentang hal ini. Mereka, yang punya kekuatan untuk membuat kebijakan, harus didesak untuk mencari jalan keluar. Dan yang paling utama, membuat daftar tindakan preventif agar hal serupa tak terjadi lagi.

Jika satu bulan ke depan harga cabai tidak bisa sopan, kami sebagai penduduk Malang pasti akan cukup gelagapan. Bagaimana tidak? Suhu udara di Malang yang cenderung dingin ini hanya bisa dihangatkan dengan cara nyambel, bukan dengan cara memeluk mantan.

Ini baru Malang. Masih ada banyak pihak yang rugi dengan kenaikan harga cabai. Bagaimana nasib ayam geprek di Jogja? Sambel ijo nasi padang? Pecel? Ah, entahlah. Yang jelas, harga cabai hari ini bikin kita makin pusing, padahal tanpa itu saja, kita sudah pusing menghadapi hidup.

Penulis: Nurlailatul Hidayah
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 5 Bumbu Merah Instan Pengganti Cabai yang Harganya Makin Nggak Ngotak

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 6 Juli 2022 oleh

Tags: harga cabailonjakan hargapasarpemerintahpilihan redaksistok
Nurlailatul Hidayah

Nurlailatul Hidayah

Seorang perempuan yang suka nulis.

ArtikelTerkait

NFT Adalah Konsep yang Nggak Masuk Akal Bagi Kita terminal mojok.co

NFT Adalah Konsep yang Nggak Masuk Akal Bagi Kita

18 Januari 2022
Malang Plaza Memang Dilalap Api, tapi Kenangannya Takkan Pernah Mati

Malang Plaza Memang Dilalap Api, tapi Kenangannya Tak Akan Pernah Mati

4 Mei 2023
Menjadi Manusia yang Lebih Baik dengan Melatih Komunikasi Asertif ala Chae Song Hwa Hospital Playlist 2 terminal mojok

Jadi Manusia yang Lebih Baik dengan Komunikasi Asertif ala Chae Song Hwa Hospital Playlist 2

28 Agustus 2021
4 Rekomendasi Jas Hujan Paling Awet dan Nggak Rembes

4 Rekomendasi Jas Hujan Paling Awet dan Nggak Rembes

21 November 2024
Susahnya Jadi Perantau Asal Banjarnegara

Susahnya Jadi Perantau Asal Banjarnegara

23 Juni 2023
Daihatsu Luxio dan Stigma Mobil Murahan yang Melekat Terminal Mojok

Daihatsu Luxio dan Stigma Mobil Murahan yang Melekat

19 Mei 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau Mojok.co

4 Rekomendasi Motor Second yang Cocok untuk Mahasiswa Pertama Kali Merantau

25 Juni 2026
Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

Pengalaman Berdagang Selama Kuliah di Unila Lampung, Sering Dikira Anak Kos hingga Seolah Punya Utang Budi kepada Pembeli

27 Juni 2026
Pertamax di Pertashop Memang Lebih Murah, tapi Tetap Saja Orang pada Beli Pertalite, Harga Pertamax Nggak Ngotak! pertamina pertamax oplosan

Cerita Mereka yang Masih Tetap Membeli Pertamax: Jualan Pertamax Eceran Makin Nggak Laku hingga Seorang Kurir yang Terpaksa Menekan Pengeluaran

21 Juni 2026
Ikut Organisasi Mahasiswa Itu Sah-sah Saja, asal Siap Keluar Duit Lumayan organisasi kampus

Rapat Organisasi Kampus: Belajar Berorganisasi atau Cuma Belajar Boros?

23 Juni 2026
Pengalaman Naik Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot Mojok.co

Bergantung pada Honda Win 100 di Tanah Rantau Adalah Mimpi Buruk, Hidup Tambah Repot

26 Juni 2026
4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

4 Kuliner Ayam Panggang Favorit di Klaten: Enak, Murah, dan Bikin Nagih!

26 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.