Hanya Wanita Sabar dan Setia yang Mau Dibonceng Naik Vespa Tua – Terminal Mojok

Hanya Wanita Sabar dan Setia yang Mau Dibonceng Naik Vespa Tua

Artikel

Satu dari sekian banyak hal yang tidak saya sukai keberadaannya di dunia adalah naik vespa tua. Body-nya yang sering dipermak macam-macam dan terkadang digantungi oleh berbagai benda rongsokan sudah cukup menjadi alasan mengapa saya membencinya. Apalagi suara rombengnya yang bikin pusing telinga. Bunyi “Treng.. treng teng teng teng..” di jalan seperti alarm untuk menepi dan menghindari berdekatan dengan pengemudinya.

Saat ia melintas, hati ini pasti langsung misuh-misuh karena saya anggap mengganggu kenyamanan berkendara di jalan. Apalagi kalau vespanya di modif aneh-aneh dan body-nya sudah karatan sana-sini. Saya selalu tak habis pikir mengapa ada orang yang mau merombak vespa menjadi benda yang terlihat seperti rongsokan berjalan. Apa memang pengemudinya adalah orang-orang anti-kemapanan?

Akhirnya saya kena tulahnya saat sudah menikah. Ternyata suami adalah penggemar vespa, bahkan memiliki vespa tua seperti yang saya benci selama ini. Vespa tua berwarna hijau botol yang catnya sengaja dikelupas di sana sini agar terlihat karatnya. Sudah begitu vespanya tidak punya plat nomor, lampu mati, rem depan juga tidak berfungsi dan tidak punya kunci. Herannya dengan kondisi onderdil motor hilang di sana-sini, si vespa masih juga bisa berjalan. Terakhir saya baru tahu bahwa vespa tua memang rata-rata harus distarter manual karena memang tidak ada kuncinya.

Suami yang tahu kebencian saya akan vespa malah memaksa untuk berkeliling kota naik vespa dengannya. Katanya supaya saya bisa menghilangkan kebencian pada vespa. Menganut teori tak kenal maka tak sayang, atau mungkin karena lelah berdebat akhirnya saya mau-mau saja keliling kota Denpasar bahkan menyeberang kabupaten naik vespa tua itu. Saat kami berboncengan saya baru bisa merasakan perspektif menjadi penumpang vespa. Rasanya ternyata tidak buruk-buruk amat, tidak seperti sangkaan saya selama ini. Bahkan untuk saya yang berjilbab panjang, naik vespa jelas lebih aman dibanding naik motor lainnya karena tidak perlu khawatir jika jilbab saya masuk rantai motor.

Berboncengan naik vespa bersama pasangan juga menaikkan kadar romantisme di antara kami berdua. Jok yang tidak terlalu panjang mau tidak mau membuat kami harus duduk lengket-lengketan beneran bukan supaya sok mesra, keadaannya memang harus begitu. Laju motor yang tidak terlalu kencang juga membuat kami lebih menikmati pemandangan di jalanan, apalagi jika kami melewati jalan by pass Ida Bagus Mantra yang menawarkan panorama pantai. Dunia seolah milik kami bertiga, saya, suami, dan si vespa tua. Ternyata naik vespa benar-benar memberikan romansa berbeda untuk pasangan yang tidak romantis seperti kami berdua.

Saya juga baru tahu bahwa persaudaraan di antara pengendara vespa tua begitu kuat. Lebih kuat dibanding komunitas pengendara motor lainnya yang mungkin lebih keren atau mahal. Hanya pengendara vespa tua yang akan saling memberikan salam di jalan dengan cara membunyikan klakson. Tak peduli mereka kenal atau tidak, selama ada yang terlihat naik vespa tua maka mereka akan saling menyapa. Begitu pun bila ada pengendara vespa yang kendaraannya mogok di pinggir jalan, seperti sudah ada peraturan tak tertulis bahwa pengendara vespa lainnya akan menepi dan memberi bantuan. Sesolid dan se-uwu itu ternyata naik vespa tua!

Stigma anti-kemapanan bagi pemilik vespa juga langsung hilang dari pikiran waktu saya diajak ke rumah teman suami yang memiliki vespa tua dengan penampilan yang “biasa saja”, namun ternyata harganya setara dengan lima motor N-Max! Ternyata motor ini bukan hanya kendaraan bagi rakyat jelata, tapi juga untuk anak raja.

Selain itu saya juga baru tahu bahwa vespa tua ternyata boros luar biasa. Bahkan lebih boros dibanding motor Honda Beat milik saya. Jadi jangan pernah anggap pemilik vespa adalah orang-orang yang tak memiliki uang!

Pemilik vespa juga pasti paham bahwa membawa vespa tua sama dengan harus membawa oli kemana-mana. Sebab setiap si vespa diisi 1 liter bensin, pemilik juga harus mencampurnya dengan dua tutup oli. Baru tahu kan? Sama, saya juga. Sudah boros, rewel pula!

Tapi, bicara soal rewel, vespa tua vespa tua adalah jawaranya rewel. Tak terhitung berapa kali kami harus berhenti karena si vespa”‘ngambek” dan tak mau jalan. Terpaksa saya harus bersabar menunggu suami mengoprek si vespa hingga ia kembali normal dan mau dinaiki oleh kami. Bahkan saya harus mau membantu suami mendorong vespa kala ia kehabisan bensin di jalan.

Setelah beberapa hari berputar-putar ke sana kemari naik vespa tua, akhirnya saya kepincut juga dengannya. Ini adalah salah satu plot twist terbesar dalam hidup saya bahwa pada akhirnya saya akan jatuh cinta pada hal yang dulunya saya benci semenjak lama.

Vespa tua itu mengajarkan saya untuk jangan membenci sesuatu yang hanya sempat kita lihat sekilas tanpa pernah berusaha mengenalnya lebih dalam. Pun ia mengajarkan pada saya bahwa pernikahan pada dasarnya juga sebuah proses mengenal karakter dan menoleransi selera pasangan yang mungkin berbeda dengan selera kita.

Setidaknya kita harus sedikit belajar tentang hobi atau kesukaan pasangan. Agar kita bisa merasakan perspektif pasangan dalam mencintai hobinya, bukan hanya terus mencelanya. Siapa tahu kan kita jadi bisa jatuh cinta juga pada hobi pasangan dan berakhir melakukan hobi itu bersama-sama?

Tapi, nahasnya, setelah saya jatuh cinta pada vespa tua, justru vespa tua itu terpaksa dijual dan ditukar dengan sebuah tas gunung oleh adik suami. Ternyata begini rasanya waktu ditinggal saat masih sayang-sayangnya. Ambyar.

Kini saya telah memiliki anak berusia tiga tahun. Kesempatan naik vespa kembali datang. Memang bukan milik kami tapi milik teman mertua, sepasang suami istri penyuka vespa yang tak kalah gila. Mereka melakukan perjalanan ke Malang dengan tujuan mencari obat. Bukannya dapat obat, tapi justru “penyakit” yang didapat. Mereka membeli Vespa tua berwarna kuning dan mereka kendarai hingga Denpasar. Alhasil tiga kali si vespa mogok di tengah jalan dan ban depannya lepas satu kali saat melewati hutan menuju Ketapang.

Dengan track record tidak menyenangkan yang dilalui oleh si vespa, suami tetap tak peduli. Ia ngotot meminjam si vespa kuning dan mengajak saya serta anak kami mengendarai vespa tersebut. Bila dulu naik vespa terasa romantis karena hanya berdua, ali ini perjalanan terasa menyiksa. Tempat duduk yang sempit harus dibagi tiga dan kaki ini terasa cepat pegal karena harus membuka lebih lebar, menyesuaikan dengan body motor. Pokoknya perjalanan kali ini sangat tidak menyenangkan, sepanjang jalan saya hanya berdoa agar cepat sampai tujuan.

Firasat buruk yang saya dapatkan sedari awal menjadi kenyataan ketika si vespa mogok di tengah jalan. Ternyata tali pegasnya putus. Akhirnya suami menepi dan mencari emperan ruko untuk memperbaikinya. Kondisi saya waktu itu sangat mengenaskan. Lelah karena sedari awal tidak dapat duduk dengan nyaman, kepanasan karena melakukan perjalanan di tengah siang, plus membawa anak yang tengah tertidur dalam gendongan.

Saat itu ingin sekali rasanya saya mengomel pada suami karena mengajak kami naik vespa. Ingin saya iyakan tawaran suami untuk pulang naik ojek online. Tapi, saya urungkan karena setelah dipikir-pikir tidak adil rasanya saya meninggalkan suami seorang diri. Bukankah saya juga ikut andil dalam mengiyakan ajakan suami untuk naik vespa ini bersamanya?

Jadi ketika saya menerima tawarannya maka itu berarti saya juga harus turut bersedia menerima konsekuensinya. Sekitar 15 menit, suami mengoprek sana-sini, akhirnya si vespa mau berjalan kembali. Kami segera memacu motor lebih cepat agar segera sampai ke rumah.

Perjalanan kali ini memberi banyak pelajaran. Naik vespa merepresentasikan kehidupan pernikahan sebenarnya. Ketika seseorang mengajakmu untuk naik vespa, kamu harus sadar bahwa perjalanan tak akan selalu mulus penuh romansa, bahkan kadang ia harus berhenti di tempat dan kondisi yang tak terduga. Saat itulah kita dihadapkan dengan dua pilihan, tetap sabar dan setia hingga siap berjalan kembali bersama atau mencari kendaraan lain dan pergi meninggalkan pasangan sendirian.

Naik vespa tua memang tidak selalu memberimu kenyamanan seperti naik Avanza.  Pun tidak sekeren dan tidak bisa selalu kamu banggakan bilamana kamu naik Ninja. Tapi, percayalah vespa tua adalah kendaraan yang bisa kamu ajak menua bersama. Selain itu dia tidak punya apa-apa. Memangnya apalagi yang kita harapkan dari vespa tua selain romansa dan nostalgia?

BACA JUGA Kalau Lagi Dibonceng Vespa, Sebaiknya Cewek Jangan Ngelakuin 5 Hal ini atau tulisan Ima Triharti Lestari lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.