Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Teknologi

Hanya Media Bodoh yang Masih Menerima Penulis Luar, Kecuali…

Ahmad Irfani oleh Ahmad Irfani
4 Maret 2026
A A
Hanya Media Bodoh yang Masih Menerima Penulis Luar, Kecuali…

Ilustrasi ini merupakan hasil generate dari aplikasi AI.

Share on FacebookShare on Twitter

”Artificial intelligence is the most powerful technology humanity has yet created.”
(Sam Altman)

Kalimat itu bukan sekadar optimisme seorang pengusaha teknologi. Ia adalah penanda zaman. Altman, CEO OpenAI—perusahaan pengembang ChatGPT—menyadari bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan kekuatan yang mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan memproduksi pengetahuan.

Dan di ruang redaksi media, perubahan itu terasa nyata.

*

Judul di atas mungkin terdengar kasar: hanya media bodoh yang masih menerima penulis luar. Tapi di era kecerdasan buatan, pertanyaan itu memang layak diajukan, bukan hanya layak bahkan: harus diajukan.

Mengapa sebuah media masih membuka ruang bagi penulis luar? Bukankah sekarang semua orang bisa menulis dengan bantuan AI? Bukankah artikel informatif bisa diproduksi dalam hitungan detik?

Jika fungsi penulis luar hanya menyumbang artikel generik—tips hidup, ringkasan teori, opini umum tanpa pengalaman—maka media memang sedang bersaing langsung dengan mesin. Dan mesin hampir selalu lebih cepat, lebih rapi, dan lebih efisien. Di situlah ada banyak penulis akan merasa diri mereka tolol.

AI menghancurkan wilayah abu-abu: tulisan informatif yang tidak memiliki pijakan personal yang kuat. Artikel seperti “cara mengatur keuangan”, “manfaat olahraga pagi”, atau “apa itu inflasi” kini bisa dibuat dalam struktur yang sistematis dalam beberapa detik saja.

Maka jika rubrik user generated content (UGC) hanya menampung tulisan semacam itu, ia sedang menawar sesuatu yang sudah menjadi murah.

Baca Juga:

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus

Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Namun sebetulnya cerita tidak berhenti di sana. Mari kita telisik lebih dalam lagi.

AI bisa menyusun kalimat. AI bisa meniru gaya. AI bisa memproduksi emosi yang terdengar meyakinkan. Tetapi AI tidak pernah benar-benar mengalami hidup. Setidaknya: belum.

Ia tidak pernah gagal panen. Tidak pernah merasakan dilema antara idealisme dan kebutuhan dapur. Tidak pernah menjadi bagian dari konteks sosial yang spesifik. Tidak pernah benar-benar patah hati, dan tentu saja belum pernah menikah.

Yang membuat tulisan personal bernilai bukan informasinya, melainkan posisi subjeknya. Di situlah manusia tetap unggul. Sekali lagi, tulisan personal. Dengan demikian, ada dua alat yang penting: pengalaman dan emosi, dalam bahasa ringkas: mengalami.

Persoalannya bukan apakah media masih menerima penulis luar. Pertanyaannya adalah: penulis luar seperti apa?

Jika kontribusi hanya berupa opini umum tanpa pengalaman konkret, ia memang akan tersingkir. Tetapi jika penulis membawa pengalaman yang spesifik, perspektif kelas sosial tertentu, humor lokal, atau refleksi yang jujur—itu tidak tergantikan.

AI meratakan kualitas teknis tulisan. Ia membuat tulisan rapi menjadi murah. Justru karena itu, tulisan yang berjiwa menjadi mahal.

Di masa lalu, membuka rubrik UGC berarti membuka pintu selebar-lebarnya. Siapa pun boleh masuk. Semakin banyak tulisan, semakin ramai halaman.

*

Di era AI, kurasi menjadi segalanya. Media tidak lagi membutuhkan banyak penulis. Media membutuhkan suara. Suara yang tidak bisa diseragamkan. Suara yang membawa tubuh, latar, dan sejarahnya sendiri.

AI bukan ancaman bagi jurnalisme. Ia ancaman bagi kemalasan kurasi. Dan tentu saja kemalangan bagi para penulis yang hanya duduk di dalam ruangan.

Jadi, hanya media bodoh yang masih menerima penulis luar?

Ya—jika mereka menerima tulisan yang bisa digantikan mesin. Tidak—jika mereka mencari pengalaman yang hanya bisa ditulis oleh orang itu sendiri.

Di dunia yang dipenuhi teks buatan mesin, kejujuran pengalaman adalah kemewahan terakhir. Apa yang disampaikan dari hati dan penuh pergulatan emosi, akan mudah diterima oleh hati yang lain. Karena kita menulis untuk manusia.

Terakhir diperbarui pada 4 Maret 2026 oleh

Tags: artificial intelligenceChatGPTkecerdasan buatanpenulis luarugc
Ahmad Irfani

Ahmad Irfani

Penyuka sepakbola dan pengamat perkembangan dunia teknologi informasi.

ArtikelTerkait

Tenang Aja, Copywriter Nggak Akan (Semudah Itu) Terganti oleh AI

Tenang Aja, Copywriter Nggak Akan (Semudah Itu) Terganti oleh AI

20 Mei 2023
Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus Mojok.co

Iseng Ikut Kelas Menulis Terminal Mojok, TernyataLebih Berbobot daripada Mata Kuliah di Kampus

10 Desember 2025
4 Hal yang Harus Disiapkan Pemerintah kalau PNS Diganti Robot terminal mojok

4 Hal yang Harus Disiapkan Pemerintah kalau PNS Diganti Robot

3 Desember 2021
AI Tetap Lebih Menggoda Ketimbang Anya Geraldine (Sumber: IG @anyageraldine)

AI Tetap Lebih Menggoda Ketimbang Anya Geraldine

19 Desember 2022
Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

13 September 2024
4 Kekurangan ChatGPT yang Membuatnya Belum Pantas Saingi Google Terminal Mojok

4 Kekurangan ChatGPT yang Membuatnya Belum Pantas Saingi Google

28 Januari 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

Ironi Pembangunan Banyuwangi: Sukses Meniru Bali dalam Pengelolaan Wisata, tapi Gagal Menangani Banjir di Pusat Kota

26 Februari 2026
Lamongan, Kota yang Tak Pernah Lahir untuk Menjadi Rumah bagi Anak Mudanya

Sebagai Warga Asli Lamongan, Saya Risih ketika Ada yang Menyebut Lamongan Kota

4 Maret 2026
Manis Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Tetangga Mojok.co

Manisnya Nastar Mengingatkan Saya akan Masa Lalu yang Pahit karena Cuma Bisa Menikmatinya di Rumah Saudara

26 Februari 2026
Rukun Islam Paling Sulit Dilakukan Bukan Naik Haji, tapi Syahadat (Unsplash)

Setelah Melewati Banyak Derita, Saya Yakin Rukun Islam yang Paling Sulit Dilakukan itu Bukan Naik Haji, tapi Mendirikan Syahadat

4 Maret 2026
Wuling Confero 2019: Mobil Keluarga Terjangkau, Enak, tapi Harga Bekasnya Jatuh Bebas

Wuling Confero 2019: Mobil Keluarga Terjangkau, Enak, tapi Harga Bekasnya Jatuh Bebas

1 Maret 2026
Sidoarjo Bukan Sekadar "Kota Lumpur", Ia Adalah Tempat Pelarian Paling Masuk Akal bagi Warga Surabaya yang Mulai Nggak Waras

Lupakan Teori Kuliner PNS, di Sidoarjo Kasta Tertinggi Warung Makanan Enak Ditentukan oleh Orang-orang Waktu Bubaran Pabrik

27 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=1k7EQFkTWIM

Liputan dan Esai

  • Perjalanan Memaafkan: Dendam ke Orang Tua karena Tak Diizinkan Kuliah di UGM, Jadi Luruh karena Bekal “Ndeso” Bikinan Ibu
  • Alfagift, Penyelamat Pekerja Jakarta dari “Mati” Kelaparan karena Kelelahan dan Tak Punya Teman Makan
  • Mati-matian Kerja di Jerman demi Bantu Ekonomi Keluarga, Pilih Bertahan meski Diusir Majikan dan Nyaris Dideportasi
  • Anak Muda Isi BBM Tergantung Antrean SPBU: Kualitas Pertalite-Pertamax Dinilai Sama, padahal Terbiasa Buru-buru dan Tak Mau Menunggu
  • Ibuku Demensia dan Aku Seorang Sandwich Generation yang Kecewa Absennya Negara Bagi Kami Para Caregiver
  • Bukan Nuklir, Air Adalah “Senjata Pemusnah” Paling Mematikan di Perang AS-Iran

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.