”Artificial intelligence is the most powerful technology humanity has yet created.”
(Sam Altman)
Kalimat itu bukan sekadar optimisme seorang pengusaha teknologi. Ia adalah penanda zaman. Altman, CEO OpenAI—perusahaan pengembang ChatGPT—menyadari bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan kekuatan yang mengubah cara manusia bekerja, berpikir, dan memproduksi pengetahuan.
Dan di ruang redaksi media, perubahan itu terasa nyata.
*
Judul di atas mungkin terdengar kasar: hanya media bodoh yang masih menerima penulis luar. Tapi di era kecerdasan buatan, pertanyaan itu memang layak diajukan, bukan hanya layak bahkan: harus diajukan.
Mengapa sebuah media masih membuka ruang bagi penulis luar? Bukankah sekarang semua orang bisa menulis dengan bantuan AI? Bukankah artikel informatif bisa diproduksi dalam hitungan detik?
Jika fungsi penulis luar hanya menyumbang artikel generik—tips hidup, ringkasan teori, opini umum tanpa pengalaman—maka media memang sedang bersaing langsung dengan mesin. Dan mesin hampir selalu lebih cepat, lebih rapi, dan lebih efisien. Di situlah ada banyak penulis akan merasa diri mereka tolol.
AI menghancurkan wilayah abu-abu: tulisan informatif yang tidak memiliki pijakan personal yang kuat. Artikel seperti “cara mengatur keuangan”, “manfaat olahraga pagi”, atau “apa itu inflasi” kini bisa dibuat dalam struktur yang sistematis dalam beberapa detik saja.
Maka jika rubrik user generated content (UGC) hanya menampung tulisan semacam itu, ia sedang menawar sesuatu yang sudah menjadi murah.
Namun sebetulnya cerita tidak berhenti di sana. Mari kita telisik lebih dalam lagi.
AI bisa menyusun kalimat. AI bisa meniru gaya. AI bisa memproduksi emosi yang terdengar meyakinkan. Tetapi AI tidak pernah benar-benar mengalami hidup. Setidaknya: belum.
Ia tidak pernah gagal panen. Tidak pernah merasakan dilema antara idealisme dan kebutuhan dapur. Tidak pernah menjadi bagian dari konteks sosial yang spesifik. Tidak pernah benar-benar patah hati, dan tentu saja belum pernah menikah.
Yang membuat tulisan personal bernilai bukan informasinya, melainkan posisi subjeknya. Di situlah manusia tetap unggul. Sekali lagi, tulisan personal. Dengan demikian, ada dua alat yang penting: pengalaman dan emosi, dalam bahasa ringkas: mengalami.
Persoalannya bukan apakah media masih menerima penulis luar. Pertanyaannya adalah: penulis luar seperti apa?
Jika kontribusi hanya berupa opini umum tanpa pengalaman konkret, ia memang akan tersingkir. Tetapi jika penulis membawa pengalaman yang spesifik, perspektif kelas sosial tertentu, humor lokal, atau refleksi yang jujur—itu tidak tergantikan.
AI meratakan kualitas teknis tulisan. Ia membuat tulisan rapi menjadi murah. Justru karena itu, tulisan yang berjiwa menjadi mahal.
Di masa lalu, membuka rubrik UGC berarti membuka pintu selebar-lebarnya. Siapa pun boleh masuk. Semakin banyak tulisan, semakin ramai halaman.
*
Di era AI, kurasi menjadi segalanya. Media tidak lagi membutuhkan banyak penulis. Media membutuhkan suara. Suara yang tidak bisa diseragamkan. Suara yang membawa tubuh, latar, dan sejarahnya sendiri.
AI bukan ancaman bagi jurnalisme. Ia ancaman bagi kemalasan kurasi. Dan tentu saja kemalangan bagi para penulis yang hanya duduk di dalam ruangan.
Jadi, hanya media bodoh yang masih menerima penulis luar?
Ya—jika mereka menerima tulisan yang bisa digantikan mesin. Tidak—jika mereka mencari pengalaman yang hanya bisa ditulis oleh orang itu sendiri.
Di dunia yang dipenuhi teks buatan mesin, kejujuran pengalaman adalah kemewahan terakhir. Apa yang disampaikan dari hati dan penuh pergulatan emosi, akan mudah diterima oleh hati yang lain. Karena kita menulis untuk manusia.













