Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Profesi

Hal-hal yang Kita Tak Ketahui dari Debt Collector: Mereka Tidak (Sekadar) Menagih, tapi (Juga) Mengingatkan

Rizky Prasetya oleh Rizky Prasetya
1 Mei 2023
A A
Hal-hal yang Kita Tak Ketahui dari Debt Collector: Mereka Tidak (Sekadar) Menagih, tapi (Juga) Mengingatkan

Hal-hal yang Kita Tak Ketahui dari Debt Collector: Mereka Tidak (Sekadar) Menagih, tapi (Juga) Mengingatkan (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Target yang perusahaan tetapkan

Target yang harus dicapai oleh DC adalah nominal angsuran yang harus terpenuhi. Misal, ada sekian uang yang harusnya dibayarkan nasabah. Misale, ada dua miliar rupiah yang harus masuk dari 2000 nasabah. Ya tugas Asep adalah memastikan bahwa 2000 nasabah tadi bayar dan target dua miliar tersebut terpenuhi. Gampangnya gitu.

Asep menjelaskan inilah susahnya jadi debt collector: nasabah kadang tak mengerti, padahal dari atasan sudah memberi target. Nggak jarang DC justru nombok karena target tak terpenuhi, sedangkan yang ngutang malah mengutuk pengemban profesi ini.

Pengutang tak tahu diri

Pada saat masih aktif jadi debt collector, tak jarang Asep menemui nasabah yang ruwet. Kalau Anda bayangkan ruwetnya hanyalah tak segera membayar. Kalian salah.

“Aku pernah hampir dilempar ke sungai, gara-gara anak nasabah nggak terima motornya mau ditarik. Dia bawa temen-temen kampungnya. Untung pimpinanku kenal preman yang megang daerah tersebut. Yang bikin sebel, utange ki ra gede. 500 ribu doang. Uang segitu emang besar buat orang yang lagi nggak punya, tapi mosok gara-gara 500 ribu doang aku dilempar ke sungai? Kan sempak.”

Jujur saja, saya justru penasaran kenapa dia orang-orang tersebut mau melempar Asep ke sungai. Mikir apa, su.

Selain itu, ia juga pernah menemui nasabah yang memberikan alasan-alasan ajaib saat ditagih.

“Koe ngerti ra, ada nasabah yang meminta penundaan pembayaran karena duitnya diambil tuyul. Cuk, tuyul. Bayangno aku bali kantor dengan tangan kosong mergo tuyul.”

Kebencian yang rumit

Tak bisa dimungkiri, stigma dan kebencian pada debt collector itu ada andil dari DC juga. Tapi, kali ini dari DC eksternal.

Baca Juga:

Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh

Jangan Ngotot Ambil KPR kalau Belum Siap Finansial dan Mental

Begini. DC eksternal, seperti yang sudah dijelaskan di awal, tidak digaji oleh leasing. Penghasilan mereka tergantung pada angsuran yang mereka tagih dan unit yang mereka ambil. Oleh karena itulah jalan yang harus mereka tempuh agar dapat cuan, mereka total betul dalam bekerja. Dan kadang, ada batas yang dilewati.

Inilah masalahnya. Terkadang, DC eksternal tidak menjelaskan prosedur dan berdiplomasi dengan tepat. Akibatnya, yang terjadi justru cekcok. Cekcok inilah yang lambat laun bikin stigma melekat. Dan Asep juga tak mau mengelak bahwa ada oknum (ini beneran oknum, bukan oknum yang dikumpulin bisa jadi seprovinsi) DC yang main ambil.

Tapi Asep memberikan satu rahasia kenapa DC berani main cegat dan gertak. Rahasia tersebut ada dua. Pertama, mereka tahu “target” mereka lemah. Kedua, mereka punya bekingan.

Untuk hal pertama, kecil kemungkinan DC akan berani cegat nasabah yang terlihat sangar. Lain cerita jika targetnya terlihat seperti anak emo kurang gizi. Mereka berani cegat dan ambil unit saat itu juga.

Untuk hal kedua, bekingan yang dimaksud itu bisa dalam berbagai arti. Bisa bekingan DC, atau bekingan wilayah. Saya rasa bekingan DC nggak perlu dijelaskan. Tapi untuk bekingan wilayah, ini yang perlu kalian tahu.

Informan A1

Bekingan wilayah ini anggap saja adalah bekingan yang menjaga DC agar bisa bekerja secara leluasa di daerah tertentu. Biasanya sih, preman atau orang yang megang daerah. Kenapa harus punya bekingan wilayah? Sebab, orang tersebut bisa jadi informan jika unit dari nasabah yang bermasalah terlihat. Selain itu, bekingan wilayah bikin DC lebih aman dalam bertugas. Setidaknya, tidak bikin Anda mau dilempar ke sungai.

Tapi, tentu saja itu semua nggak gratis. Ada bagi hasil yang disepakati antara informan dan DC yang bertugas. Win-win solution sih. DC jadi lebih aman dalam bertugas, informan dapat fee yang lumayan.

Gaji debt collector

Tentu saja tak lengkap rasanya jika membahas profesi tanpa membahas gaji. Peduli setan orang nggak boleh nanya tentang gaji, akal-akalan perusahaan itu mah.

Asep mengatakan ia bisa menerima 3,5-7 juta per bulan semasa menjadi DC, tergantung performa. Biasanya ia menerima lima jutaan per bulan. Angka yang cukup besar dan pantas mengingat pekerjaannya yang nggak bisa dibilang aman.

Itu untuk DC internal, kalau DC eksternal, ya seperti penjelasan di atas, penghasilan tergantung performa. Tapi kata Asep sih, 3 jutaan pasti dapet.

Konflik batin

Saya sempat bertanya, apakah selama ia bekerja, pernahkah Asep menemui masa di mana batinnya bertarung. Dengan singkat ia jawab, tidak. Sebab, tugasnya adalah mengingatkan nasabah. Makanya ia kerap mengingatkan nasabahnya, bahwa setelah ini semua lunas, jangan pernah ambil kredit lagi. Sebab, mereka akan menemui masalah ini seterusnya.

Ia tak ragu bilang bahwa masalah antara nasabah dengan DC itu dimulai dengan nasabah yang tak mengukur kemampuan diri. Wong mampunya cuman beli Beat, kok malah kredit NMAX, kan yo remuk. Dua angsuran pertama mungkin aman, tapi seterusnya beda cerita.

Ada pembicaraan yang mendetil tentang kredit ini. Akan saya buat dalam tulisan lain. tunggu tanggal mainnya.

Tapi Asep juga tak memungkiri, banyak karyawan yang memilih mundur karena masalah batin ini. Mungkin konfliknya tidak ke nasabah, tapi lebih ke uang yang mereka dapat kayak hilang tak berbekas. Dia berasumsi bahwa inilah yang bikin banyak orang menganggap kerja debt collector itu nggak berkah, soalnya duitnya cepet ilang.

Masa depan profesi ini

Sebagai penutup, saya menanyakan tentang masa depan profesi DC ini. Apakah mungkin profesi ini bisa punah. Jawab Asep, mungkin, asal ada hukum yang mengikat nasabah dan nasabahnya sendiri tahu diri alias segera bayar ketika ada duit. Tapi mengingat banyaknya kasus orang problematik dalam berutang dan tentu saja, digondol tuyul tadi, saya rasa debt collector akan tetap ada dan berlipat ganda.

***

Sesampainya rumah, saya segera mengecek apakah saya sudah membayar angsuran KPR untuk bulan ini. Ternyata saya sudah membayarnya saat gajian turun, seperti yang sudah saya lakukan selama hampir dua tahun ini.

Saya menyulut rokok sembari berpikir, cicilan rumah saya masih sekitar 13 tahun lagi, bisa jadi, ada momen di mana saya tak bisa membayar cicilan. Tapi setelah melihat senyum putri saya, saya langsung menepis ketakutan tersebut dan berjanji tak akan pernah telat membayar angsuran. Saya tak ingin putri saya melihat saya didatangi debt collector, yang bisa saja jadi pengalaman paling mengerikan yang membekas dalam hidup.

Seperti ketika saya dicegat oleh debt collector karena angsuran motor saya telat berbulan-bulan, sepuluh tahun lalu, di Gejayan.

Penulis: Rizky Prasetya
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Tipe dan Perbedaan Karakter Debt Collector: Dari Saya yang Jalani Profesi Ini

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 14 Mei 2023 oleh

Tags: debt collectorkreditNasabahsita barangUtang
Rizky Prasetya

Rizky Prasetya

Redaktur Mojok. Founder Kelas Menulis Bahagia. Penulis di Como Indonesia.

ArtikelTerkait

Normalisasi Utang Koperasi demi Kucing, Itu Bukan Tindakan Aneh apalagi Anabul Sudah Seperti Keluarga Mojok.co

Rela Utang Koperasi Kantor demi Biaya Berobat Kucing yang Sudah seperti Keluarga, Saya Dicap Nggak Waras dan Bodoh

18 Maret 2026
Sisi Gelap dari Pekerjaan Menjaga Pertashop Milik Bapak Sendiri (Foto milik penulis)

Sisi Gelap dari Pekerjaan Menjaga Pertashop Milik Bapak Sendiri

19 Januari 2023
Lowongan Kerja sebagai Tukang Tagih Merebak, Pertanda Berutang Semakin Dianggap Normal? utang

Utang, Pemutus Silaturahmi Paling Utama

14 Oktober 2024
3 Alasan Pejabat Sebaiknya Nyoba Magang Jadi Debt Collector

4 Tips Mudah Menghadapi Debt Collector

19 Desember 2021
5 Alasan Sebaiknya Kita Nggak Daftar dan Pakai Shopee Paylater terminal mojok.co

Punya Shopee PayLater Berlimit Besar, Keuntungan atau Ancaman?

1 Oktober 2021
Menghitung Total Utang Harian Abdel dan Temon kepada Muklis abdel temon bukan superstar satpam muklis mojok.co

Menghitung Total Utang Harian Abdel dan Temon kepada Muklis

7 Oktober 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Cara Licik Mahasiswa Mengerjakan Skripsi Full Pakai ChatGPT, Dosen Pembimbing Wajib Tahu Ciri-cirinya biar Nggak Sampai Dibohongi!

Skripsi Memang Nggak Layak Jadi Satu-satunya Syarat Lulus untuk S1

22 Juni 2026
tiket Go Show Tidak Sama dengan Tarif Khusus, dan Istilah Kereta Api Lain yang Sering Dianggap Sama, padahal Beda KAI

Jangan Sampai Zonk di Stasiun! 3 Kiat Berburu Tiket Go Show KAI Tanpa Drama Telantar

19 Juni 2026
Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL Mojok.co

Bukannya Ogah Berbagi Ilmu, Para Karyawan Cuma Nggak Punya Cukup Waktu untuk Membimbing PKL

21 Juni 2026
Di Lidah Orang Jawa, Kuliner Madura Enak Kecuali yang dari Sumenep MOjok.co sumatera

Sebagai Anak Madura, Saya Cemburu dengan Anak Sumatera yang Tak Perlu Susah Payah Menyembunyikan Identitas

20 Juni 2026
Upin Ipin Serial TV yang Merusak Anak-Anak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa Mojok.co

Upin Ipin Serial TV yang Tampak Aman untuk Anak-Anak, tapi Aslinya Bisa Merusak kalau Ditonton Tanpa Dampingan Orang Dewasa

19 Juni 2026
Kandang Ayam Datang Belakangan, Rusak Kenyamanan (Unsplash)

Rumah Saya Perlahan Kehilangan Rasa Nyaman Akibat Kandang Ayam yang Datang Belakangan

21 Juni 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=6Xo_K0G3FRg


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.