Dalam beberapa hari terakhir, saya melihat bagaimana sibuknya adik saya menyiapkan KKN. Di bayangan saya, tentu yang dilakukan adalah diskusi, merumuskan struktur organisasi, menentukan anggota divisi, merekrut teman lain untuk menggenapi, kemudian mulai menyusun apa saja program yang akan dieksekusi.
Dalam fase itu, tentu sebagian anggota KKN akan kelihatan semangat. Yah bayangin aja, sebentar lagi akan menjalani sebuah program pengabdian yang hubungannya langsung ke masyarakat, dan semua itu dilakukan bersama-sama.
Membayangkan itu, saya pun jadi bernostalgia bagaimana saya KKN dulu. Waktu itu, saya merasa akan menghadapi sebuah medan yang berat, yaitu medan pengabdian. Hidup desa, membaur, dan mencoba memberikan solusi inovatif yang futuristik, tapi tetap aplikatif.
Tapi ketika menjalaninya, ternyata medan berat yang dihadapi bukan soal pengabdiannya. Tidak melulu tentang bagaimana menyelesaikan masalah di desa, atau mendapatkan penolakan membaur dari warga. Medan berat itu justru datang dari teman satu posko sendiri. Dan semua itu sungguh sangat menyebalkan dan melelahkan. no hard feeling untuk teman-teman KKN saya dulu.
Demokrasi KKN yang aneh: semua boleh berpendapat, tapi tidak dengan mengerjakannya
Ada satu kondisi yang lumrah terjadi ketika KKN baru memasuki 1 hingga 2 minggu awal masa KKN, yaitu anggota kelompok KKN terlihat aktif dan setiap orang punya gagasan. Saat rapat perdana, ada yang usul program pelatihan UMKM, membuat festival, menggelar pengajian, digitalisasi desa, mengembangkan desa wisata, sampai membangun sistem pengelolaan sampah yang terpadu. Kelihatannya keren.
Masalahnya, gagasan itu sering kali mudah untuk diucapkan. Namun ketika diputuskan untuk menjalankan program yang diusulkan, anggota posko yang tadi ngusulin tiba-tiba jadi budek dan hilang ingatan. Jadi kayak manusia yang nggak tahu apa-apa.
Ketika dibutuhkan untuk menjembatani narasumber, mengurus perlengkapan, atau menyusun laporan, suara dan semangatnya hilang. Lebih parahnya lagi, ada tipe yang suka sekali ngasih arahan, kritik, atau konsep, tapi ketika dimintai jadi penanggung jawab, dia nggak mau. Tahukah, apa bahasa template yang sering mereka pakai? “Aku takut nggak maksimal.” Lah kentut, kan Anda yang ngusulin!!!
Ada lagi tipe anggota yang sukanya jawab terserah saat di forum. Namun saat keputusan dibuat, dialah orang yang suka ngedumel, suka nyinyir, dan ngasih kritik di belakang tanpa mau bersuara. Soal hal sederhana aja deh, menu makanan. Ketika ditanya, jawabnya terserah, ketika sudah dimasakin, eh nyinyir, “Aaah kok masak ini sih.” Wes kono mangan tlethong sapi ae!!
Suasana posko akan semakin rumit ketika koordinator posko tidak bisa memposisikan diri dengan baik. Misalnya terlalu dominan sehingga posko kayak dipimpin sama pemimpin diktator. Atau terlalu pasif sehingga posko jadi sering terombang-ambing dalam keputusan yang nggak jelas.
Kondisi kayak gini, kadang sudah bisa kelihatan dari waktu rapat. Harusnya bisa selesai setengah jam, akhirnya berjam-jam. Sebab berbagai perdebatan, candaan, dan segala hal menyimpang akhirnya mendistraksi inti pembahasan dari rapat. Yang paling nggatheli setelah itu adalah, keputusan akan dibahas pada rapat berikutnya. Wooo telek linchung!!!
Posko KKN jadi gambaran soal standar kebersihan yang berbeda
Semua yang sudah pernah KKN akan sepakat bahwa sebelum tinggal bersama, semua anggota KKN umumnya kelihatan kayak manusia normal. Sebab yang kelihatan selama ini di kampus, setidaknya rapi, wangi, atau paling tidak komunikasinya enak didengar. Itu jadi patokan intinya. Namun, karakter asli manusia baru akan kelihatan ketika tinggal bareng.
Saat itulah kalian akan sadar bahwa standar soal kebersihan itu berbeda satu sama lain. Mungkin menurutmu standar bersih itu ya minimal habis makan jajan, plastiknya dibuang ke tempat sampah. Tapi akan ada jenis manusia yang habis makan jajan, bungkusnya dibuang ke kolong tempat tidur, disumpelin di sela-sela kursi, atau malah dibiarkan begitu saja.
Perkara piring atau gelas saja, tiap anggota posko punya standar bersih yang berbeda loh. Mungkin ada yang punya prinsip, habis pakai langsung dicuci. Tapi, ada yang punya prinsip, piring atau gelas yang dipakai, tidak wajib langsung dicuci. Dibiarkan aja dulu. Sampai muncul benih-benih kehidupan di piring atau gelas itu.
Hal serupa akan kalian lihat di dapur, kamar mandi, dan titik-titik lain dalam posko. Ada kalanya sudah dibersihkan, malah kotor lagi. Kalau ditegur, malah baper. Nggak terima!!
Dalam posko, juga nggak jarang menjumpai anggota yang hobi meminjam barang kemudian amnesia. Iya, barang yang dipinjamnya nggak balik-balik. Seolah dia lupa kalau barang itu pinjaman. Atau ada pula yang suka sekali lupa naruh barang yang dipinjamnya. Pada akhirnya, satu posko pun sibuk mencari barang hilang itu ketimbang ngurusin program kerja.
Keunikan lain ketika KKN dan menurut saya itu menyebalkan adalah perkara tamu. Sebab, ada yang tiba-tiba, tanpa koordinasi dan minta izin, ngajak tamu, entah itu teman, pasangan, atau kenalan dari posko lainnya untuk menginap. Waah kekeluargaan sih oke-oke saja, tapi nggak main asal masukin orang lain tanpa izin dong.
Faksi, percintaan, dan candaan yang terlalu toksik
Selain itu, posko KKN adalah miniatur dari kehidupan bermasyarakat, maka akan mudah sekali mendapati konflik-konflik kecil yang berujung pada terciptanya faksi-faksi kecil. Mulai dari faksi yang merasa paling berkontribusi, faksi yang sukanya cuma jalan dan nongkrong, faksi yang nggak mau kerja berat, hingga faksi yang sukanya nyinyirin faksi lainnya.
Sungguh, kalau kalian tipe orang yang introvert, maka situasi seperti ini sungguh melelahkan dan menyebalkan. Kalau kamu berposisi sebagai pihak yang netral, maka ada kalanya kalian akan dimanfaatkan untuk mencari informasi dari faksi-faksi lainnya. Dan jadi perantara bahan ghibahan itu nggak enak gais.
Tapi hal itu juga dilematis. Kalau kalian netral tapi avoidance dengan segala faksi-faksi itu, ya kalian akan benar-benar sendiri dan dikucilkan. Dilematis bukan?
Faksi juga bisa tercipta dari hubungan romantis yang tumbuh dengan cepat. Sebenernya tuh nggak ada yang salah dengan dua orang saling menyukai. Tapi, ada kalanya dua orang yang saling suka ini terkadang masing-masing ada pasangan, kemudian anggota posko lain jadi mata-mata ke pasangan masing-masing.
Akhirnya yang terjadi adalah drama percintaan. Anggota posko lain pun terseret dalam drama itu. Yah yang lain ada yang jadi penonton atau jadi mediator ketika dua orang yang saling suka ini beneran pacaran, tapi sedang bertengkar. Niat awal KKN ingin menyelesaikan masalah desa, malah berujung menyelesaikan masalah cinta.
Candaan yang berlebihan
Selain soal cinta, hal lain yang paling menyebalkan adalah soal candaan yang terlalu berlebihan. Candaannya awalnya ringan, tapi kalau terus diulang-ulang, jadinya eneg dan muak. Apalagi kalau candaan itu dibawa ke hadapan warga desa. Itu sama saja merendahkan teman seposko nggak sih?
Candaan nggak selalu bisa dianggap lucu hanya karena diucapkan sambil ketawa. Ada kalanya yang jadi korban ikut ketawa pun karena menghargai candaanmu yang garing itu. Selain itu biar nggak dianggap baper. Paham!!!?
Pada intinya begini, sebelum memikirkan program kerja yang ndakik-ndakik saat KKN, lebih baik memastikan dulu peraturan, jadwal, atau sejenisnya yang ada di dalam posko dulu deh. Sekali lagi, mengabdi ke masyarakat itu bukan ujian yang berat, kalau dalam internal posko sudah terkondisikan.
Sebab, yang sering jadi masalah adalah teman-teman seposko yang harus kalian hadapi mulai dari pagi hingga malam selama berminggu-minggu.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA KKN Bikin Warga Muak Kalau Program Kerja Template dan Kelakuan Mahasiswanya Tak Beretika
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
