Menjadi Guru SD Negeri Tidak Pernah Mudah, apalagi di Kota Besar seperti Jakarta

Menjadi Guru SD Negeri Tidak Pernah Mudah, apalagi di Kota Besar seperti Jakarta Mojok.co

Menjadi Guru SD Negeri Tidak Pernah Mudah, apalagi di Kota Besar seperti Jakarta (unsplash.com)

Menjadi guru SD negeri tidaklah mudah, di manapun itu. Di sekolah yang terletak di pelosok atau di kota besar, selalu ada saja tantangannya. Guru SD di pelosok mungkin harus menempuh medan yang sangat berat untuk mengajar segelintir siswa. Sementara guru SD di Kota Besar, Jakarta, seperti saya sehari-hari  harus berhadapan dengan kegiatan atau kebijakan aneh. 

Semua orang juga tahu, mengajar adalah tugas utama guru, termasuk guru SD negeri. Namun, tugas utama ini terkadang tersendat oleh kegiatan dan kebijakan yang saya rasa aneh. Beberapa terdengar wajar dan sepele ya, tapi sebagai seorang guru SD saya merasa terganggu karena tugas utama saya jadi tidak berjalan dengan baik. 

Panggilan dinas di jam mengajar

Menghadiri panggilan dinas di tengah-tengah jam mengajar menjadi salah satu hal yang bisa mendistraksi kegiatan mengajar. Biasanya kegiatan ini bersisi pelatihan ataupun sosialisasi program kebijakan pemerintah terbaru. Saya memahami sih kalau hal ini diperlukan juga untuk kelancaran kegiatan belajar mengajar ke depan. Namun, pelaksanaannya yang di tengah-tengah jam mengajar sungguh mengganggu. 

Guru menerima tamu di jam mengajar

Pernah ketika mengajar, saya tiba-tiba saya diminta untuk menerima tamu. Mau tidak mau saya harus meninggalkan kelas. Bisa jadi saya menemani tamu hingga satu jam lebih. Benar-benar hati ini rasanya tidak enak karena meninggalkan tanggung jawab begitu lama. Setelah itu, biasanya saya akan mengajar lebih ekstra di jam pelajaran berikutnya demi mengejar ketertinggalan materi dan memastikan pemahaman murid sesuai dengan target capaian.

Donasi hingga infaq

Saya kok merasa sekolah-sekolah menjadi target pengumpulan dana. PMI dan BAZIS adalah dua lembaga yang paling sering melakukannya. Judulnya sih donasi ya, tapi ada batas minimalnya. Semua elemen di sekolah pun kena jadi target donasi, mulai dari murid hingga guru. 

Selain aneh, donasi semacam ini menyita waktu mengajar saya. Walau cuma beberapa menit, tetap saja konsentrasi akan buyar kalau harus disela mengumpulkan donasi semacam ini. 

Sekolah seperti pasar, guru penjualnya

Sekarang ini sekolah seolah pasar saja. Semua bisa dijual, mulai dari buku paket hingga lembaga bimbingan belajar. Targetnya? Tentu saja murid-murid yang sebenarnya bisa mendapat semua fasilitas itu dari sekolah. Saya terpaksa memberi tempat untuk promosi-promosi semacam ini. Sebenarnya, di dalam lubuk hati ini saya merasa bersalah ke murid-murid. 

Saya kurang tahu apakah hal-hal di atas juga terjadi di SD lain di luar Jakarta. Yang jelas, bagi saya, hal-hal di atas mengganggu kegiatan belajar mengajar di kelas. Ingat, bukan hanya murid yang perlu konsentrasi ketika di kelas ya, guru pun juga demikian. Jadi, mau secanggih apapun metode pembelajarannya,  output tidak akan maksimal kalau banyak distraksi. 

Sebenarnya materi ajar yang tidak terkejar karena berbagai distraksi itu bisa diatasi dengan memberikan pekerjaan rumah (PR). Namun, memberi PR konon mulai dilarang karena anak sudah banyak tugas di sekolah. Nah, serba salah kan menjadi guru SD negeri di ekosistem yang tidak jelas seperti ini? 

Penulis: Sugeng Riyanto
Editor: Kenia Intan 

BACA JUGA Noda dan Dosa Guru: Sisi Gelap Sebuah Profesi yang Dianggap Mulia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version