Mereka yang kerap nongkrong di Jakarta Selatan (Jaksel) pasti sudah tidak asing dengan gulai tikungan atau gultik Blok M. Kuliner kaki lima yang berada di Jalan Mahakam dan Bulungan itu begitu populer karena sudah ada sejak era 1985-an. Saking populernya, rasanya belum ke Jaksel rasanya kalau belum kuliner di tempat ini.
Sebagai orang Jaksel, hampir tiap minggu saya ke tempat ini. Dan, saya pasti akan habis 5-6 porsi. Bukannya saya maruk, porsi gultik Blok M memang benar-benar sedikit. Anehnya, walau porsinya sangat mini, tempat makan ini masih saja dicintai dan digemari banyak orang.
Porsi Gultik Blok M Jaksel yang sangat sedikit
Bagi kalian yang belum pernah mencicipi gultik Blok M, saya berikan gambaran. Satu porsi gultik langsung habis dalam 3 suapan. Bayangkan betapa sedikit porsinya. Suapan pertama, baru merasakan enaknya. Suapan kedua, mulai menikmati. Eh, suapan ketiga langsung habis.
Itu mengapa jajan di Gultik Blok M Jaksel bak perang psikologis. Setelah suapan ke-3 pembeli biasanya ragu akan tambah lagi atau tidak. Kalau tidak beli kok rasanya kurang puas. Kalau beli lagi kok bisa tambah terus. Saya misalnya, setelah piring pertama biasanya tergoda untuk tambah piring ke-2 hingga akhirnya baru puas di piring ke-5 atau ke-6.
Harganya sebenarnya tidak murah
Dibandingkan kuliner lain di Jakarta, seporsi gultik Blok M sebenarnya terhitung murah, harganya Rp10.000-Rp15.000 saja. Dengan begitu, gultik ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Mulai dari mahasiswa mendang-mending, wisatawan, warlok, hingga pekerja di sekitaran Blok M.
Akan tetapi, sesungguhnya harga murah itu hanya ilusi. Sebab, seperti yang saya bilang tadi, tidak cukup makan seporsi gultik Blok M. Saya yakin mereka yang datang pesan lebih dari 1 porsi. Saya misalnya, sanggung menghabiskan 5-6 porsi sekaligus. Dihitung-itung, sekali duduk di sana saya setidaknya habis Rp50.000, belum lagi kalau tambah sate-saten. Duit segitu tergolong lumayan mahal untuk sekali makan di Jakarta.
Jujur saja, lebih cocok untuk tempat nongkrong daripada mengisi perut
Melihat perkembangannya dari tahun ke tahun, saya lebih merasa gultik Blok M lebih pas disejajarkan dengan tempat nongkrong seperti kafe daripada tempat kulineran seperti warung makan. Sebab, suasana nongkrong di sana kuat banget. Kalau gultik di desain sebagai tempat makan, saya yakin porsinya dievaluasi sehingga tidak akan sesedikit itu. Harganya pun akan naik mengikuti ukuran atau besaran tiap porsinya.
Akan tetapi, hal itu tidak terjadi. Gultik Blok M masih saja setia dengan porsinya yang mini dan tempat makannya yang sederhana. Pelanggan duduk di kursi-kursi kecil pinggir trotoar sambil mengamati kendaraan yang melintas. Benar-benar vibes-nya cocok untuk nongkrong daripada menyantap makanan.
Konsep yang aneh itu, makan gulai seperti nongkrong di kafe, justru jadi keunikan dan daya tarik utama tempat ini. Itu mengapa, walau tahu bakal menghabiskan banyak uang, orang-orang tetap kembali lagi dan lagi. Ya di mana lagi sih kalian bisa nongkrong berjam-jam hanya dengan bermodalkan duit di bawah Rp20.000? Nongkrongnya di Blok M Jaksel lagi, pusatnya orang-orang kalcer. Saya yakin Gultik Blok M ini cuma satu-satunya.
Penulis: Sri Molati
Editor: Kenia Intan
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.



















