Kita nggak mungkin memisahkan gudeg dan Jogja. Kuliner tersebut memang sangat mewakili karakter orang asli DIY. Namun, apakah kamu pernah membayangkan jika kuliner ini tidak terlahir menjadi makanan khas Jogja? Misalnya, ia malah menjadi makanan khas dari Jawa Timur, lebih tepatnya, Malang.
Namanya mungkin akan tetap gudeg kayak di Jogja
Kalau kita menengok sejarah penyebutannya, namanya ini muncul dari proses pembuatannya. Orang zaman dulu memasak dan mengaduk nangka muda dalam waktu yang lama. Nah, di sekitar Jawa Tengah, orang mengenal proses mengaduk ini dengan istilah “hangudeg” atau “ngudheg”. Dari sinilah kata gudeg lahir.
Nah, kalau misalnya gudeg Jogja nggak pernah ada, dan malah lahirnya di daerah saya, kemungkinan besar namanya akan tetap sama. Sebab Malang dan Jogja, punya sebutan yang sama untuk menyebut proses mengaduk, sama-sama “ngudheg”.
Mungkin bedanya ada di penekanannya saja. Kalau di Jogja huruf akhir (g) dalam gudeg itu tebal dan ditekan, tapi kalau di Malang huruf (g) dalam gudeg akan tipis, bunyinya seperti huruf petik di akhir kata. Jadi, kalau misalnya gudeg ini lahirnya di Malang, bisa jadi namanya akan tetap sama.
Bahan sama, rasanya nggak mungkin manis, dan bisa saja pedas
Jika lahirnya di Malang, bahan dasarnya mungkin akan tetap dari nangka muda. Sebab, di Malang sendiri, kita bisa dengan mudah mencari nangka muda. Orang Malang mengolah nangka muda menjadi sayur lodeh atau sayur tewel.
Soal rasa, jelas berbeda. Dua kota ini punya karakteristik rasa bagai langit dan bumi. Jogja itu manis, sedangkan Malang itu asin gurih, bahkan pedas.
Gudeg Jogja punya banyak branding dan varian. Misalnya, varian mercon. Namun, pada dasarnya, rasanya ya manis. Sementara itu, makanan yang khas Malang semacam orem-orem, rasa dasarnya asin gurih.
Nah, kalau semisal gudeg itu lahirnya di Malang, mungkin akan punya karakteristik rasa yang berbeda. Gudeg Malang akan punya rasa dasar gurih. Rasanya mungkin akan mirip dengan sayur tewel atau orem-orem. Bahkan, bukan nggak mungkin jika gudeg Malang akan punya karakteristik rasa yang pedas.
Dan saya yakin malah jadi lebih nikmat. Rasa manis yang terlalu mendominasi cenderung bikin bosan dan tenggorokan kering. Beda dengan asin-gurih, bahkan pedas, yang lebih memberi dinamika.
Tapi kalau gudeg Malang ini nantinya ada yang varian pedas, kayaknya orang-orang Malang nggak bakal menyebut gudeg, deh. Orang-orang Malang akan menyebutnya sebagai “jangan pedes” atau sayur pedas saja.
Gudeg di Malang harganya pasti murah dan akan jadi makanan biasa saja
Seperti yang sudah saya paparkan di atas, bahwa gudeg di Jogja sudah seakan jadi makanan yang “istimewa”. Ia menjadi ikon dan semacam simbol dari gastronomi Jogja itu sendiri.
Maka, nggak heran jika banyak orang lokal dan wisatawan “memuja” kuliner ini. Bahkan orang sana ada yang menyematkan label “premium” untuk beberapa merek dan harganya mahal. Bahkan, katanya, sudah lebih murah nasi padang lauk ayam kalau sekarang.
Nah, kalau gudeg lahir di Malang, saya cukup yakin makanan ini akan jadi “makanan biasa saja”. Levelnya nggak akan menyamai bakso Malang, cwie mie ayam, atau bahkan orem-orem. Intinya, kalau lahir di Malang, makanan ini nggak akan ada istimewanya.
Plus, kalau lahirnya di Malang, nggak akan ada yang mematok harga tinggi. Gudeg akan jadi makanan yang murah dan sangat terjangkau.
Mungkin, seporsi nasi dan gudeg dengan lauk telur nggak sampai Rp8 ribu. Saya juga yakin nggak akan ada label premium, apalagi muncul sentra gudeg di sebuah jalan.
Kuliner ini akan berakhir menjadi makanan rumahan atau pelengkap di warung atau warteg. Mungkin tetap akan enak untuk lidah tertentu, tapi nggak sampai dipuja seperti sekarang.
Itulah imajinasi saya jika gudeg tidak lahir di Jogja, tapi Malang. Sebagai arek Ngalam, saya memang nggak melihat kuliner ini akan jadi makanan yang spesial dan istimewa. Ia jenis makanan yang bikin bosan kalau terlalu sering makan. Beda dengan bakso Malang atau cwie mie ayam.
Penulis: Iqbal AR
Editor: Yamadipati Seno
BACA JUGA 5 Gudeg Jogja yang Membuat Wisatawan Kecewa dan Wajib Kamu Hindari
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
