Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Teknologi

Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

Bintang Ramadhana Andyanto oleh Bintang Ramadhana Andyanto
14 November 2023
A A
Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede

Grup WhatsApp Kos: Dianggap Sepele, tapi Perannya Gede (Unsplash.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Mau jadi apa kalo anak kosan nggak join grup WhatsApp kos? Siapa yang mau bantuin angkat jemuranmu kalau hujan tiba-tiba turun?

Apa satu hal yang wajib dimiliki di setiap kos? Kamar mandi? AC? Parkiran yang luas? Penjaga kos? Atau kamar kos? Ya, nggak salah, sih. Setiap kosan memang pasti mempunyai penjaga dan kamar kos. Namun, bukan itu yang saya maksud.

Menurut saya, selain aspek-aspek tersebut, ada satu hal lagi yang harus ada di setiap kos: grup WhatsApp antarsesama penghuni kos. Meskipun terlihat sepele dan mungkin dianggap nggak penting-penting amat, tetapi percayalah, kehadirannya dapat memegang peranan penting dalam kenyamanan dan keberlangsungan hidup seseorang selama ngekos.

Bagaimana saya bisa tahu? Ya, karena saya telah merasakannya.

Kos tanpa grup WhatsApp kos

Sebagai informasi, sekitar setahun terakhir ini, saya resmi menyandang status sebagai anak kos. Waktu satu tahun tentu bukanlah waktu yang singkat. Dengan kata lain, saya sudah merasakan banyak sisi menyenangkan dan menyebalkannya menjadi anak kos.

Dalam konteks keseharian anak kosan, sisi menyenangkan bisa didapatkan dari banyak hal: mendapatkan kiriman uang jajan dari orang tua, bisa makan enak di awal bulan, gebetan datang dan main ke kosan (main doang, kok, nggak aneh-aneh), dan lain-lain. Semuanya adalah contoh tindakan yang tak pernah gagal menorehkan senyum di wajah anak kos.

Lantas, bagaimana dengan sisi yang nggak menyenangkannya? Menurut saya, sisi menyebalkan dalam kehidupan anak kosan biasanya disebabkan oleh sebuah faktor: hidup seorang diri. Oleh karena itu, jika ada kesialan yang menimpa, anak kosan tidak memiliki seorang pun yang akan mengulurkan tangan. Hal ini tampaknya tidak relate dengan kalian yang bukan anak kosan dan tinggal bersama keluarga. Ya, karena mau sesusah apa pun keadaan, kalian masih mempunyai seseorang yang siap membantu.

Sebagai contoh, pernah suatu ketika, saya lupa mengangkat jemuran dan kebetulan hujan deras secara tiba-tiba mengguyur kota saya. Meskipun terlihat simpel, tetapi hal semacam ini tetaplah dipandang sebagai bentuk petaka bagi anak kosan yang hidup “sebatang kara” seperti saya. Dan karena waktu itu saya belum begitu akrab dengan para penghuni kosan lainnya, kenahasan pun menimpa saya: jemuran saya basah kuyup dan membuat saya harus menunggunya kembali kering hingga esok hari.

Baca Juga:

4 Dosa Pemilik Jasa Laundry yang Merugikan Banyak Pihak

7 Tabiat Penjaga Kos yang Bikin Penghuninya Betah Tinggal

Apakah tragedi semacam ini dapat dicegah jika saya join grup WhatsApp kos? Jawabannya: bisa. Percaya tidak percaya, banyak sekali kesulitan yang akan dipermudah jika sebuah kos memiliki grup WhatsApp dan para penghuni kosan tidak segan untuk mengumumkan kesulitan itu di grup tersebut.

Penting dan tidak boleh disepelekan

Bagi saya, hal paling dekat dengan “keluarga” yang saya miliki selama di perantauan adalah mereka yang berada di satu kosan yang sama dengan saya. Mereka yang saya maksud adalah sesama penghuni kos dan penjaga kos yang sudah saya anggap seperti orang tua sendiri.

Harus diakui, mulanya, saya dan orang-orang tersebut tidaklah sedekat itu. Kami hanya berkomunikasi jika ada momen tertentu yang memaksa kami untuk berbasa-basi, misalnya ketika tak sengaja berpapasan. Atau, khusus kepada penjaga kos, momen akhir bulan ketika saya mesti membayar uang sewa.

Selebihnya, kami hanya menjalani hidup masing-masing. Bahkan, jujur saja, beberapa bulan pertama, saya tidak hafal nama dari semua anak kos yang tinggal di sebelah kamar saya. Wkwkwk.

Dampak positif dari sikap semacam itu adalah privasi yang tak saling terganggu. Jarak yang ada membuat kami jadi tidak saling mengurusi kehidupan orang lain. Oleh sebab itu, saya tidak pernah cemas jika ada yang teman kos yang julid dan berbicara buruk tentang saya. Wong akrab saja nggak!

Akan tetapi ada dampak negatifnya. Saya jadi kesulitan jika harus melewati momen apes (baca: jemuran basah) seperti yang saya ceritakan di atas. Beruntung, ada satu cara yang membuat saya dan sesama penghuni kos dapat bonding secara perlahan: grup WhatsApp kos.

Hal ini berawal ketika penjaga kos saya berinisiatif untuk membuat grup WhatsApp beranggotakan seluruh penghuni kos. Katanya akan memudahkan kami jika ada hal yang perlu diumumkan. Misalnya pengumuman kapan akan menguras bak mandi kosan, kapan cuci AC di setiap kamar, dll. Pokoknya tetek-bengek yang berkaitan dengan kosan.

Menariknya, seiring waktu berjalan, grup WhatsApp kos saya mulai mengalami perkembangan. Tak lagi bersifat satu arah semata, tetapi jadi lebih dapat “dihidupkan” oleh semua penghuni kos. Mulai dari laporan penghuni yang salah ambil baju di jemuran sampai izin pinjam piring disampaikan di grup WhatsApp kos.

Grup WhatsApp kos mengakrabkan penghuninya

Selain itu, adanya grup WhatsApp kos juga berperan dalam mengakrabkan setiap penghuni. Kini, kami tak lagi menegur hanya dengan maksud “agar terlihat sopan”. Dalam waktu-waktu senggang, saya dan para penghuni kos lainnya sering memutuskan untuk berbincang-bincang, berbicara tentang bagaimana kehidupan masing-masing, berbicara tentang bagaimana rasanya menjadi perantau, dan lain-lain.

Pernah pula ada suatu kejadian di mana teman saya yang baru pulang dari kampung halaman bermaksud untuk membagikan oleh-oleh yang ia bawa ke sesama penghuni kos. Melalui apakah ia dapat dengan mudah menyampaikan kabar tersebut? Ya, yang paling gampang adalah melalui grup WhatsApp.

Dengan kata lain, grup WhatsApp kos tak hanya berguna sebagai wadah untuk menyampaikan keresahan saja, tetapi juga tempat membagikan kebahagiaan. Oleh karena itu, terkadang saya tertawa sendiri jika memikirkan kembali bahwa semuanya dapat berawal dari sebuah aksi kecil: dibuatnya sebuah grup WhatsApp. Sebuah tindakan yang mungkin sepele ternyata berperan besar dalam kehidupan secara jangka panjang.

Kesimpulan

Pada intinya, saya percaya bahwa bagi anak kosan, keberadaan grup WhatsApp kos akan membuat kehidupan menjadi lebih mudah. Toh, manusia adalah makhluk sosial, jadi sudah sewajarnya jika kita saling memerlukan bantuan dan mau mengulurkan tangan jika ada orang di sekitar yang dilanda kesusahan. Namun, ada juga, kok, teman-teman saya yang juga anak kosan, tetapi di kosannya tidak ada grup WhatsApp.

Apakah itu salah? Nggak juga. Nggak masalah, kok, walaupun mungkin akan agak sedikit ribet saja kalau jemurannya lupa diangkat dan hujan tiba-tiba turun. Hehehe.

Penulis: Bintang Ramadhana Andyanto
Editor: Intan Ekapratiwi

BACA JUGA Grup WhatsApp Keluarga dan Alumni Sekolah Sebenernya Nggak Penting-penting Amat, Mending Nggak Usah Join.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 14 November 2023 oleh

Tags: grup whatsappkosWhatsapp
Bintang Ramadhana Andyanto

Bintang Ramadhana Andyanto

Anak negeri. Tukang ngopi. Pakar senjalogi.

ArtikelTerkait

grup whatsapp sekolah grup wa anggota nyebelin cara mute cara keluar stiker meme jualan online mojok

Menebak Motif Munculnya Grup WhatsApp SMP padahal Sebelumnya Nggak Pernah Ada

21 Juni 2020
Jika Plankton "SpongeBob Squarepants' Jadi Member WhatsApp Grup, Tentu Akan Merepotkan Adminnya terminal mojok.co

Jika Plankton ‘SpongeBob Squarepants’ Jadi Member WhatsApp Grup, Tentu Akan Merepotkan Adminnya

16 Februari 2021
ngekos bareng itu nggak enak mojok

Ngekos Bareng Itu Banyak Nggak Enaknya

21 November 2020
makelar kontrakan jogja bapak kos terminalmojok

Semua Warga Jogja itu Ramah, kecuali Bapak Kos

4 Februari 2021
Polemik WhatsApp GB dari Mereka yang Pro dan Kontra terminal mojok.co

Polemik WhatsApp GB dari Mereka yang Pro dan Kontra

19 Mei 2021
5 Kelakuan Menyebalkan yang Harus Dihindari Saat Ngontrak Bareng Teman Mojok.co

5 Kelakuan Menyebalkan yang Harus Dihindari Saat Ngontrak Bareng Teman

27 Agustus 2024
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan Mojok.co

5 Barang Indomaret yang Sebenarnya Mubazir, tapi Terus Dibeli Pelanggan

31 Januari 2026
Stasiun Plabuan Batang, Satu-Satunya Stasiun Kereta Api Aktif di Indonesia dengan Pemandangan Pinggir Pantai

Bisakah Batang yang Dikenal sebagai Kabupaten Sepi Bangkit dan Jadi Terkenal?

1 Februari 2026
5 Menu Seasonal Indomaret Point Coffee yang Harusnya Jadi Menu Tetap, Bukan Cuma Datang dan Hilang seperti Mantan

Tips Hemat Ngopi di Point Coffee, biar Bisa Beli Rumah kayak Kata Netijen

3 Februari 2026
3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura Mojok.co

3 Skill yang Wajib Dimiliki Laki-laki kalau Ingin Memperistri Orang Madura

4 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.