Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi Mojok.co

Goa Jatijajar, Objek Wisata di Kebumen yang Cukup Sekali Saja Dikunjungi (unsplash.com)

Kebumen, daerah yang letaknya di Selatan Jawa Tengah ini beberapa kali saya lewati dan kunjungi. Salah satu daya tarik dari kabupaten ini adalah wisata situs alam Goa Jatijajar yang letaknya di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah. Objek wisata ini dianggap menarik karena keindahan geologi gua kapur dengan stalaktit, stalagmit, dan pilar kapur yang memukau. Semua ditambahkan dengan hiasan diorama legenda Raden Kamandaka serta empat sendang alami.

Akses yang mudah membuatnya jadi destinasi wisata yang selalu direkomendasikan bagi siapapun yang sedang berada di Kebumen. Tapi, ketika saya ada kesempatan mengunjungi destinasi wisata ini, ada beberapa aspek yang membuat Goa Jatijajar Kebumen cukup dikunjungi sekali saja. Dia bukanlah objek wisata yang cocok untuk kunjungan kedua, ketiga, dan seterusnya. Ada beberapa alasan yang membuat saya merasa seperti itu.

#1 Informasinya yang menarik, tapi tidak dengan pengalaman ke guanya

Pertama, menurut saya, dengan seluruh keindahan yang ditawarkan, daya tarik Goa Jatijajar Kebumen itu lebih kepada sisi informatif. Bukan eksperimental yang sarat nilai emosional. Informatif di sini maksudnya pengunjung hanya jadi penonton. Karena di sana pengunjung masuk, mendengar cerita, melihat diorama, lalu keluar. Di sini yang ditawarkan adalah pengetahuan atau legenda, bukan pengalaman.

Semua itu membuat rasa penasaran pengunjung cepat selesai. Sebab, setelah semua informasi diterima, pikiran dan perasaan jadi nggak punya dorongan lagi untuk mengeksplorasi lebih jauh.

Apa yang dilihat dan dirasakan terasa datar karena isinya gua ya cuma begitu saja. Efeknya bisa saja perasaan seperti “sudah pernah ke sana, sudah tahu isinya”. Lain halnya dengan objek wisata yang infrastruktur untuk menciptakan pengalaman lebih sehingga pengunjung punya alasan datang kedua kalinya.

#2 Goa Jatijajar Kebumen membosankan

Kedua, lorong dan ruang di Goa Jatijajar itu statis sehingga terasa membosankan. Yah sesuatu yang sebetulnya banyak ditemui di objek wisata gua yang sudah diatur dan ditata rapi. Masuk ke dalam, melihat lorong-lorong, mungkin awalnya rasa takjub muncul, tapi lama-kelamaan ya sudah, biasa aja. Semuanya terkesan repetitif.

Bahkan, hal kecil semacam lampu yang permanen di dalam membuatnya jadi terasa kaku sebagai objek visual dan foto. Istilahnya kurang fotogenik. Apalagi kalau ke sana terus fotonya pake HP murahan atau yang sensor cahaya di kameranya jelek. Ya wes, gak ada indah-indahnya.

#3 Pengalaman visual tidak menarik

Ketiga, pengalaman visual di Goa Jatijajar Kebumen itu nggak lama. Sebab, jalurnya pendek dan linear, paling ditambah beberapa kolam air kecil di beberapa titik untuk membuat pengunjung berhenti sejenak. Setelah mata menjelajah seluruh area gua, yang ada setelahnya rasa jenuh. Ketika saya masuk ke gua ini, mulanya memang terasa masuk ke dimensi lain, tapi perasaan itu nggak bertahan. Alasannya karena gua ini memang nggak repeatable gitu. Masuk ke dalamnya nggak memberikan rasa nyaman atau rasa antusias untuk mengeksplorasi dan berlama-lama.

#4 Kapok dengan jalur Goa Jatijajar Kebumen

Keempat, keamanan jalur di Goa Jatijajar Kebumen ini agak sedikit bikin kapok. Karena rutenya yang licin, tangga curam, pegangannya minim, penerangan pun terbatas, dan minim penanda. Akibatnya membuat pengunjung rawan terpeleset. Ada perasaan waswas ketika masuk sehingga membuat pengalaman masuk ke dalamnya memang terasa menantang, tapi tidak untuk diulangi kembali.

Rasanya daripada nambah patung-patung yang fungsinya kurang jelas dan tanpa makna, sebaiknya memang fokus pada perbaikan fasilitas sehingga nyaman didatangi oleh berbagai kalangan. Fasilitas yang bagus kan salah satu yang bikin pengunjung mau kembali lagi.

#5 After experience-nya kurang

Kelima, Goa Jatijajar Kebumen menurut saya kurang punya sesuatu yang disebut “after experience”. Jadi maksudnya, wisata yang bagus adalah wisata yang setelah keluar dari lokasi utamanya punya sesuatu yang bisa memberikan kesan yang bagus bagi pengunjungnya. Mulai dari area santai yang nyaman, tempat kuliner yang tertata, toko suvenir yang menarik, dan spot foto yang nyaman.

Nah, Goa Jatijajar seperti kurang memperhatikan itu, sehingga pengalaman tambahan yang bisa memberikan kesan baik jadi gak didapat oleh pengunjung. Padahal, ketika hal-hal tambahan benar-benar diperhatikan, pengunjung jadi punya tempat untuk jeda sambil benar-benar mendalami apa yang mereka lihat selama di dalam gua.

Kalau tidak ada, ya pengunjung jadi langsung pulang dan Goa Jatijajar Kebumen akan segera dilupakan. Hanya jadi objek wisata singgah yang tak memberikan pengalaman.

Yah pada intinya, semua hal di atas berdasarkan pengalaman saya. Kesan bahwa Jatijajar hanya jadi objek wisata sekali kunjung bukan lahir dari rasa kecewa, tapi rasa monoton. Tidak ada niatan untuk kembali, kecuali memang besok saya punya anak dan anak saya yang minta diajak ke sana.

Pada akhirnya memang tidak semua objek wisata harus dirindukan. Ada lokasi yang memang secara fitrah cukup sekali didatangi, kita kenali, lalu kita tinggal pergi.

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan

BACA JUGA 7 Aturan Tak Tertulis ketika Menetap di Kebumen yang Harus Kamu Tahu Biar Nggak Kaget.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Exit mobile version