Kebumen, daerah yang letaknya di selatan Jawa Tengah yang pernah beberapa kali saya lewati dan kunjungi. Salah satu daya tarik kabupaten ini adalah wisata alam Goa Jatijajar yang terletak di Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah. Fenomena geologi stalaktit, stalagmit, dan pilar kapur jadi pesona utama goa ini. Diorama legenda Raden Kamandaka dan empat sendang alami jadi daya pikat lainnya.
Aksesnya yang mudah membuat Goa Jatijajar direkomendasikan ke wisatawan yang mampir ke Kebumen. Namun, bagi saya, Goa Jatijajar cukup dikunjungi sekali saja. Saat punya kesempatan mampir ke sana, saya merasa goa ini bukan destinasi wisata yang cocok untuk kunjungan kedua, ketiga, dan seterusnya karena beberapa alasan.
#1 Informasinya menarik, tapi tidak dengan pengalaman ke guanya
Pertama, menurut saya, dengan seluruh keindahan yang ditawarkan, daya tarik Goa Jatijajar Kebumen itu lebih kepada sisi informatif. Bukan eksperimen yang bisa berkesan secara emosional. Pengunjung masuk, mendengarkan cerita, melihat diorama, lalu keluar.
Semua itu membuat rasa penasaran pengunjung cepat selesai. Sebab, setelah semua informasi diterima, pikiran dan perasaan jadi nggak punya dorongan lagi untuk mengeksplorasi lebih jauh.
Apa yang dilihat dan dirasakan di sana terasa datar saja. Isi guanya ya cuma begitu saja. Kesan orang-orang cuma menjadi, “Sudah pernah ke sana, sudah tahu isinya.” Kesannya jelas berbeda dengan banyak objek wisata lain yang benar-benar dipikirkan konsep dan infrastruktur pendukungnya.
Itu mengapa goa ini jadi nggak menarik untuk dikunjungi lagi dan lagi.
#2 Goa Jatijajar Kebumen membosankan
Kedua, lorong dan ruang di Goa Jatijajar itu statis sehingga terasa membosankan. Pemandangan di sana itu nggak ada yang khas sebenarnya. Dengan kata lain, banyak ditemui di objek wisata gua yang sudah diatur dan ditata rapi. Ketika masuk ke dalam dan melihat lorong-lorong, awalnya mungkin ada perasaan takjub muncul. Namun, lama-kelamaan ya sudah, biasa aja, membosankan. Semuanya terkesan repetitif.
Bahkan, lampu permanen yang sengaja di dalam gua jadi nggak menarik, terasa kaku sebagai objek visual dan foto, kurang fotogenik. Apalagi kalau ke sana terus fotonya pake HP murahan atau yang sensor cahaya di kameranya jelek. Ya wes, nggak ada indah-indahnya.
#3 Pengalaman visual yang kurang berkesan
Ketiga, pengalaman visual di Goa Jatijajar Kebumen itu nggak lama karena jalurnya pendek dan linear. Tambahan kolam air kecil di beberapa titik membuat pengunjung berhenti sejenak saja. Setelah mata menjelajah seluruh area gua, yang ada setelahnya rasa jenuh.
Ketika saya masuk ke gua ini, mulanya memang terasa masuk ke dimensi lain, tapi perasaan itu nggak bertahan lama. Alasannya karena gua ini memang nggak berkesan. Masuk ke dalamnya nggak memberikan rasa nyaman atau rasa antusias untuk mengeksplorasi dan berlama-lama.
Baca juga 7 Kebiasaan Orang Kebumen yang Terlihat Aneh bagi Pendatang, tapi Normal bagi Warga Lokal.
Baca halaman selanjutnya: #4 Kapok dengan jalur …
#4 Kapok dengan jalur Goa Jatijajar Kebumen
Keempat, keamanan jalur di Goa Jatijajar Kebumen ini agak sedikit bikin kapok. Jalanan di dalam gua itu licin, tangga curam, pegangannya minim, penerangan pun terbatas, dan minim penanda. Pengunjung jadi rawan terpeleset. Jujur saja, ada perasaan waswas ketika masuk ke gua. Memang perasaan waswas ini bikin terasa tantangannya. Tapi, kalau saya sih, tidak untuk diulangi kembali, apalagi yang didapat setelahnya ya gitu-gitu aja.
Sebagai pengunjung, saya rasa meningkatkan fasilitas di sana lebih penting daripada menambah patung-patung yang nggak jelas fungsinya. Fasilitas yang nyaman untuk berbagai kalangan bakal menarik lebih banyak pengunjung untuk datang lagi dan lagi.
#5 After experience-nya kurang
Kelima, Goa Jatijajar Kebumen kurang punya sesuatu yang disebut “after experience”. Menurut saya, destinasi wisata yang bagus adalah wisata yang memberikan kesan positif setelah keluar dari lokasi utamanya. Tidak melulu objeknya yang berkesan, tapi bisa juga lingkungan sekitarnya. Misal, area santai yang nyaman, tempat kuliner yang tertata, toko suvenir yang menarik, dan spot foto yang nyaman.
Nah, Goa Jatijajar seperti kurang memperhatikan itu. Pengunjung jadi nggak punya pengalaman tambahan yang meninggalkan kesan baik. Padahal, ketika hal-hal tambahan benar-benar diperhatikan, pengunjung jadi punya tempat untuk jeda sambil benar-benar mendalami apa yang mereka lihat selama di dalam gua. Kalau tidak ada, ya pengunjung jadi langsung pulang dan Goa Jatijajar Kebumen akan segera dilupakan. Hanya jadi objek wisata singgah yang tak memberikan pengalaman.
Yah pada intinya, semua hal di atas berdasarkan pengalaman saya. Kesan bahwa Jatijajar hanya jadi objek wisata sekali kunjung bukan lahir dari rasa kecewa, tapi rasa monoton. Tidak ada niatan untuk kembali, kecuali memang besok saya punya anak dan anak saya yang minta diajak ke sana.
Pada akhirnya memang tidak semua objek wisata harus dirindukan. Ada lokasi yang memang secara fitrah cukup sekali didatangi, kita kenali, lalu kita tinggal pergi.
Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Kenia Intan
BACA JUGA 7 Aturan Tak Tertulis ketika Menetap di Kebumen yang Harus Kamu Tahu Biar Nggak Kaget.
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
