#GlazersOut dan Rumitnya Menjadi Fans Manchester United: Wawancara dengan @onestopunited

Artikel

Muhammad Ridwansyah

Setiap Manchester United menelan kekalahan, #GlazersOut kerap muncul di lini masa media sosial saya, khususnya di Twitter. Barangkali hashtag tersebut juga sudah tidak asing lagi bagi para fans klub sepak bola lain, tetapi apakah kalian tahu maksud dari #GlazersOut?

Sehari setelah Manchester United kalah dari Crystal Palace, saya menghubungi admin fanbase @OneStopUnited. Fan base ini salah satu fan base terbesar di Indonesia yang terus menyuarakan hashtag #GlazersOut, bahkan nama akun fan basenya saja menggunakan hashtag tersebut.

Sebagai perkenalan dulu, Rak (24) adalah pendiri sekaligus admin dari One Stop United. Ia menyatakan bahwa OSU (singkatan dari One Stop United) awalnya untuk ngomongin Manchester United saja, tetapi karena berkaca dari akun MU luar negeri yang kebanyakan bukan hanya membahas MU, sehingga akun OSU ini membahas seputar film, musik, politik, dan lain sebagainya. Akun OSU ini persis seperti @arsenalskitchen.

“Jadi, apa sebenarnya maksud dari hashtag #GlazersOut?” Pertanyaan pertama yang saya kirim kepada Rak, dan itu sukses membuat Rak terperangah, “Wah, panjang ini,” jawabnya. Memang, setiap ada kata “out” pasti penggemar sepak bola tujuannya ingin si manajemen, pelatih, maupun pemain, yang disematkan kata out tersebut segera keluar dari klub favoritnya. Namun, jika ditelisik lebih dalam, kita kan bisa paham betul alasan seseorang menggunakan kata out tersebut.

Rak bilang bahwa Glazers itu nama keluarga. Dia berasal dari Amerika. Keluarga mereka seorang pebisnis dan investor palugada. Awalnya, si bapak Malcom Glazers ini pengin investasi di Sports Eropa. Ketemu lah dengan klub yang lagi gonjang-ganjing ownership-nya yaitu Manchester United. Mulai 2003-2005 diakusisi lah MU oleh Malcom sampai dia menjadi pemegang saham terbesar di MU.

Nah, karena ribetnya urusan Manchester United, Malcom Glazers memercayakan kepada anak-anaknya, yaitu Joel dan Avram untuk mengelola klub di day-to-day basis, sehingga, kedua anaknya tersebut sekarang ini berurusan sebagai owner MU. Dulu, Manchester United punya CEO, namanya David Gill. David Gill ini direktur MU dari tahun 1997. Kemudian resign di tahun 2013 bersamaan dengan pensiunnya Sir Alex Ferguson. Di sinilah kekacauan mulai terjadi.

Dosa pertama Glazers, menurut Rak, membeli Manchester United lewat mengutang. Utangnya dengan menjaminkan aset klub dan membebani utang tersebut ke klub. Alasan MU sebagai klub dengan utang terbesar di dunia, ya karena hal ini. Lebih lanjut, menurut Rak, banyak fans MU yang tidak tahu tentang Glazers. Mereka tahunya hastag #GlazersOut karena susah membeli pemain, tetapi ini bukan masalah susah beli pemain doang. Namun, jauh lebih mengakar dan destruktif.

Baca Juga:  Globalisasi dan Millenials Penyebab Kebangkitan Kedua Bait-Bait Sendu Didi Kempot

Nah, pembahasan ini masuk ke seretnya Manchester United membeli pemain, kenapa bisa terjadi, Rak?

Sejak Sir Alex Ferguson (SAF) dan David Gill cabut, kekacauan semakin gila.

Pertama, mastermind kultur MU, SAF, cabut, ini buat gonjang-ganjing yang hebat. Pembelian pemain SAF ini selalu hati-hati dan mementingkan mental dibandingkan skill. Makanya, pemain-pemain SAF di klub lain jarang yang mentereng, tapi dipegang SAF jadi gokil. Contohnya Rafael di Lyon tidak terlalu oke, tapi di era SAF meski masih muda bisa sangat oke.

Kalau Cristiano Ronaldo mah emang talenta ya, beda cerita. Chicharito, di Meksiko, emang oke, di MU lebih gacor lagi. Keluar MU emang oke? Kan tidak. Ada lagi Vidic dan Evra, sebelum di MU emang banyak yang tahu? Begitu masuk MU langsung jadi salah satu back four terbaik dunia bareng Ferdinand dan Brown.

Kedua, penjaga finansial MU, David Gill sebagai CEO cabut. Mungkin memang background-nya Gill ini seorang finansial. Tapi, udah pengalaman di sepak bola sebelumnya. Tidak hanya cari sponsor, tapi analisa sepak bolanya juga oke. Ketika Gill cabut diganti Ed Woodward, orang kepercayaan Glazers yang mentingin revenue dan sponsor doang, hancurlah dunia transfer United.

Oke, Rak. Nah, masalah Ed Woodward ini paling sering saya denger selain Glazers. Pendapatnya bagaimana?

Tanpa punya pengalaman sepak bola sebelumnya, Woodward bersama Glazers memperlakukan MU sebagai bisnis. Nyari duit. Bukan sebagai klub sepak bola pada umumnya. Mungkin emang sepak bola, apalagi EPL, udah bergeser jadi bisnis, tapi tetep aja sisi sepak bola harus diperhatikan.

Sebenernya dari saya pribadi, suka banget dengan handling klub Liverpool. Mereka baru ganti owner beberapa tahun ini jadi punya New Balance, kan. Tapi, tetep mempertahankan sisi sepak bolanya. Pembeliannya on point, tidak harus mikirin “Apakah pemain X akan membawa keuntungan finansial jualan kaos dan revenue lainnya juga ke klub?”

Baca Juga:  Masuk Liga Champions Kok Irit, Lazio Sehat?

Woodward lebih businessman dibandingkan CEO klub sepak bola. Revenue dan sponsor nomor wahid. Woodward nggak mikirin banyak soal sepak bola. Yang penting masuk UCL karena potential generated revenue ketika main di UCL lebih besar.

Oke. Pandangan soal Ole di MU sendiri? Ada dua kubu, Ole Out dan ada yang masih kepengin Ole bertahan

Nah, saya sendiri masih gamang soal Ole. Inkonsistensi tim ini gila banget. Unbeaten motivated beberapa game, lalu clueless headless chicken di game berikutnya. Gaya bermain tidak ada variasi, secara taktikal masih immature. Cuman ketika di saat tertentu kok bisa on fire.

Dikasih pemain bener macam Bruno Fernandes, bisa on fire di beberapa game. Terus hilang lagi. Berarti kan masalahnya udah di motivating sama tactical. Ketika manager udah taktikal dan motivationalnya tidak bener, patut dipertanyakan. Itu aja dari saya mengenai Ole.

Udah ada semacam males nonton MU?

Tidak, sih. Pas jaman Moyes aja yang lebih amburadul dari sekarang masih tetep saya tonton. Tinggal nonton aja deh sekarang, menikmati Manchester United apa adanya.

Terakhir. Ada saran buat fans MU atau lebih tepatnya buat pengikut Twitter OSU?

Saran saya, nikmatin aja lah. Marah-marah aja. Ini klub kalau dipegang Glazers tidak akan ada ujung baiknya. Suarakan terus kegelisahan kalian di sosial media terhadap Manchester United, bahkan pada saat menang karena core problem-nya bukan di menang atau kalah pertandingan, tapi belakang layar pengelolaan klub.

Mau MU berjaya kayak dulu lagi, berharap lah Glazers tobat atau jual klub ini sekalian. Suarakan pendapat kalian di mana pun berada. Sebab, sepak bola ini simpel, hanya menang dan kalah, tapi permasalahan MU lebih dalam dari sekadar kemenangan dan kekalahan.

Maju terus para penggemar MU. GGMU!

BACA JUGA Alfamart dan Kebijakan Barang Hilang Potong Gaji: Wawancara tentang Kehidupan Pegawai Minimarket dan tulisan Muhammad Ridwansyah lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
4


Komentar

Comments are closed.