Kisah Ndoro Purbo, sang Prankster yang Menjadi Gila karena Sabda Sultan

Artikel

Prabu Yudianto

Jika Anda melintasi daerah di Jogja bernama Kusumanegara, Anda akan bertemu taman makam pahlawan (TMP) yang luas, gagah, serta syahdu. Hamparan nisan para pejuang tegak berdiri di belakang patung Jenderal Besar Sudirman. Namun, saya tidak membahas makam yang menjadi tetenger perjuangan rakyat Indonesia. Saya ingin membahas makam di sebelah timur TMP ini.

Di sisi timur itu, terdapat makam lain yang letaknya berimpitan dengan TMP. Makam tersebut tidak terlihat kaku sebagaimana TMP. Bangunan cungkup makam terkesan sangat njawani. Ada pula gapura dengan ornamen khas Jawa. Di area pemakaman tersebut, bersemayam jenazah seorang raden yang terkenal digdaya, jail, dan gila. Raden tersebut bernama Raden Bekel Prawiro Purbo yang juga dikenal sebagai Ndoro Purbo.

R.B. Prawiro Purbo (1869-1933) adalah cucu Sri Sultan Hamengkubuwana VI. Ndoro Purbo adalah anomali dalam trah dalem Kraton Jogja. Blio dikenal sangat nyentrik dalam berbusana. Ia gemar mengenakan ikat kepala tiga lapis. Surjan atau baju adat blio juga tiga lapis. Buat orang biasa saja cara berbusana yang demikian dianggap aneh, apalagi bagi keluarga kraton.

Perilakunya juga nganeh-anehi. Blio terkenal gemar berkelana ngalor-ngidul tidak jelas. Pribadinya cenderung pendiam dan terkesan menyimpan beban hidup berat. Hal itu wajar karena blio telah mengalami berbagai peristiwa pahit.

Ndoro Purbo yang bernama kecil Raden Mas Kusrin harus berpisah dengan orang tuanya. Sang ayah, Gusti Pangeran Harya Suryo Mentaram I (berbeda dengan Ki Ageng Suryomentaram) dibuang oleh Belanda karena dianggap bersekongkol melawan Belanda. Mas Kusrin kemudian dititipkan kepada sang paman, G.P.H. Suryo Putro. Perpisahan dengan orang tuanya ini dianggap sebagai penyebab Mas Kusrin menjadi pendiam dan penyendiri.

Pembuka hidup yang pahit ini membuat Mas Kusrin menjalankan laku prihatin. Blio jarang menempatkan diri dalam berbagai sukacita duniawi.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Mas Kusrin dewasa melamar kerja kepada sang paman, Sri Sultan HB VIII. Lamaran kerja ini diterima, ia diangkat sebagai bekel bergelar R.B. Prawiro Purbo.

Pada usia 20 tahun, Ndoro Purbo menikah dengan perempuan bernama Jiwaningsih. Jiwaningsih adalah rakyat jelata yang tinggal di luar benteng keraton. Dari pernikahan ini Ndoro Purbo dikaruniai seorang putri bernama Raden Ayu Sukiyi. Bekerja (pastinya dengan gaji di atas upah minimum kesultanan), menikah, dan memiliki anak, mestinya Ndoro Purbo telah mencapai titik paling bahagia menurut ukuran nom-noman Jogja.

Namun, kebahagiaan ini terenggut. Pada usia lima tahun, R.A. Sukiyi meninggal karena sakit. Setahun kemudian, Jiwaningsih meninggal menyusul sang putri. Pada usia 26 tahun, Ndoro Purbo telah kehilangan orang tua, istri, dan anak kesayangannya. Fase ini menggiring Ndoro Purbo kembali hanyut dalam laku prihatin.

Hidup Ndoro Purbo hanya dipenuhi permenungan dan tafakur. Blio bahkan berjalan tanpa tujuan ke arah utara Jogja. Konon, perjalanan blio berakhir di makam Sunan Kalijaga. Sepulang dari perjalanan tersebut, Ndoro Purbo mulai menunjukkan karakter pendiam dan aneh. Kepulangan ini pula yang mengawali hidupnya sebagai orang gila.

Saat ia pulang, Kraton Jogja tengah menyiapkan perhelatan yang mengundang tamu-tamu pemerintah Belanda. Oleh karena ia masih menjabat sebagai bekel, Ndoro Purbo segera ditunjuk Sultan sebagai petugas yang mengatur lokasi acara. Sederhananya, menjadi seksi dekorasi.

Kisah berikutnya memiliki banyak versi, meskipun tiap versi berujung pada konklusi yang sama: Ndoro Purbo menjadi orang gila.

Saya akan mengisahkan versi yang saya peroleh dari bapak saya. Kebetulan versi ini lebih banyak disampaikan oleh warga Jogja, terutama bagi penggiat spiritual.

Petang sebelum acara dimulai, Ndoro Purbo masih santuy di pagelaran Kraton. Blio tidak memanggil abdi dalemnya, pun tidak menyiapkan kursi bagi para tamu. Pokoknya blio hanya diam, merenung, dan leyeh-leyeh sampai Sultan dan para tamu tiba di lokasi.

Tentu Sultan murka. Sultan merasa dipermalukan di depan para tamu dari Belanda. Sultan segera menghardik blio dan bertanya, “Mengapa kursi dan meja belum disiapkan? Di mana anak buahmu?” Ndoro Purbo yang terkejut segera menjawab “Oh, injih, Ngarso Dalem. Segera saya siapkan,” sambil menjentikkan jari.

Jentikan jari tersebut bukan untuk memanggil para abdi dalem, melainkan memanggil burung kicau yang menyebabkan kursi-kursi bergerak. Kursi yang masih mangkrak berjalan mengikuti alunan jentikan Ndoro Purbo. Dalam waktu singkat, kursi tamu sudah tertata rapi.

Bagaimana Sultan dan tamu Belanda melihat prank ini?

Pihak Belanda merasa dipermalukan Ndoro Purbo. Blio dianggap pamer kesaktian. Sultan sendiri juga tersinggung. Selain merasa dipermalukan di depan tamu besar, Sultan menilai dirinya ditantang adu kesaktian. Murka sang Raja lalu diluapkan dengan perkataan, “Kursi wae mok petheti. Kowe cen edan!” Kursi saja kamu panggil dengan jentikan. Kamu memang gila!

Perkataan Sultan bukanlah perkataan biasa. Perkataan Sultan ibarat api yang diludahkan. Apa yang diucapkan akan dan harus terjadi. Sejak itu, Ndoro Purbo benar-benar menjadi orang gila. Beberapa versi menyatakan blio kena kualat karena menjaili raja. Versi lain mengatakan bahwa blio menjadi orang gila sebagai bentuk kepatuhan atas sabda raja. Sebagai abdi, blio akan melaksanakan segenap titah raja, meskipun itu artinya harus menjadi orang gila.

Kisah Ndoro Purbo mungkin hanya berakhir sebagai obrolan para pelaku spiritual. Beberapa memandang kisah ini sebagai cerita biasa. Saya sendiri memilih memetik pesan moralnya bahwa sabda raja akan diterima secara absolut oleh rakyat. Apa pun sabda itu.

Oleh karena itu, seorang raja atau pemimpin perlu berhati-hati dalam berucap. Salah kata bisa berakibat menyengsarakan orang yang harus diayomi, sebagaimana Ndoro Purbo yang menjadi gila.

BACA JUGA Apakah ‘Sabda Pandita Ratu’ Masih Relevan dengan Pernyataan Sikap Ngarso Dalem tentang Kasus Covid-19? dan tulisan Prabu Yudianto lainnya.

Baca Juga:  Apakah 'Sabda Pandita Ratu' Masih Relevan dengan Pernyataan Sikap Ngarso Dalem tentang Kasus Covid-19?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.