Filosofi Binyeo: Tusuk Konde Korea yang Eksklusif, Tematis, dan Fashionable – Terminal Mojok

Filosofi Binyeo: Tusuk Konde Korea yang Eksklusif, Tematis, dan Fashionable

Artikel

Ngomong-ngomong, selain hanbok, binyeo atau tusuk konde Korea juga nggak kalah memikat, loh.

Bagi penonton drama saeguk atau kolosal Korea, tentunya nggak asing lagi dengan pakaian tradisional ala Kerajaan Joseon yang tampak sangat memikat, tapi di saat yang sama ribet juga. Hanbok yang dikenakan oleh para wanita bangsawan mampu membuat penonton jatuh hati dan pengin menjajal buat memakainya ketika melancong ke Korea Selatan. Meski hanbok nggak lagi jadi pakaian sehari-hari masyarakat Korea, popularitas drakor dan K-Pop berkontribusi dalam melestarikan pakaian tradisional ini.

Kebekenan Mr Queen yang akhir-akhir ini menarik atensi warga penikmat drakor juga ikut membantu menyokong impresi warga dunia akan warisan sejarah Korea, termasuk saya. Selain kepincut dengan kisah tragis Raja Cheoljong dan hanbok menawan yang dikenakan Ratu, binyeo milik Eui-bin Jo Hwa-jin pun berhasil memukau diri saya.

Istilah binyeo memang nggak seterkenal hanbok, tapi eksistensi benda ini sangat penting, terutama bagi seorang wanita. Binyeo adalah tusuk konde yang digunakan oleh para perempuan yang sudah menikah pada masa kerajaan di Korea. Menurut Lee Eun-yi dalam Korea Monthly Magazine edisi Juli 2019 yang diterbitkan oleh Korean Culture and Information Service, tercatat bahwa binyeo pertama kali digunakan pada periode Tiga Kerajaan yang berdiri antara 57 tahun sebelum masehi sampai tahun 668 Masehi.

Secara sederhana binyeo digunakan buat menata rambut. Leluhur oppa-oppa kita, nggak terbatas antara laki-laki atau perempuan, pada dahulu kala sangat menjaga tubuh dan nggak memotong rambut mereka. Ini karena adanya kepercayaan bahwa rambut dan semua bagian tubuh adalah pemberian orang tua sehingga membiarkan rambut memanjang adalah bentuk penghormatan dan berterima kasih kepada orang tua.

Awalnya binyeo boleh dipakai oleh pria maupun wanita. Buat kalian yang kepo dan pengin liat mas-mas Korea pakai tusuk konde bisa nonton drakor berjudul The Great Queen Seondeok yang berlatar waktu di Dinasti Silla. Di sana, Ji Chang-wook pakai binyeo atau tusuk konde untuk menahan rambut yang digelung ke atas. Sayangnya penggunaan binyeo bagi laki-laki dilarang. Lantas di masa Kerajaan Joseon, tinggal perempuan saja yang dikasih izin buat pakai binyeo.

Kalau kalian jeli waktu menonton drakor saeguk, kalian akan menemukan perbedaan dan eksklusivitas dalam bahan yang dipakai untuk membuat binyeo. Pada drakor Mr Queen misalnya, para istri raja Cheoljong hingga istri-istri raja yang telah mangkat mengenakan binyeo berbahan dasar emas. Ternyata, masyarakat kelas atas yang diperbolehkan memakai binyeo yang terbuat dari emas, perak, atau batu giok. Sementara itu, masyarakat biasa pakai binyeo yang terbuat dari kayu, batuan alam, besi, dan tembaga. Lalu binyeo dari kayu hitam atau cula binatang biasa dipakai oleh para janda.

Ujung binyeo yang diukir membentuk flora atau fauna disebut sebagai jamdu. Ukiran ini dipercaya dapat menghalau roh jahat dan mendatangkan kekayaan, kesuburan, serta umur yang panjang. Bambu dan bunga aprikot diyakini melambangkan kesetiaan seorang perempuan. Jamdu kristal merah di mulut naga, seperti yang dipakai oleh Ibu Suri Agung dalam drakor Mr Queen, melambangkan segala keinginan akan jadi kenyataan. Hmmm, cocok banget sama kepribadian Ibu Suri Agung yang ambis pol.

Nggak cuma cewek abad ke-21 yang punya OOTD atau pakaian ala perancang busana yang punya vibe berbeda tiap musim, perempuan Joseon juga. Pada musim panas, wanita Joseon bakal menggunakan binyeo atau tusuk konde yang jamdu-nya terbuat dari batu giok berwarna putih dan hijau.

Saat bunga bermekaran di musim semi dan daun menguning di musim gugur, mereka bakal ganti menyematkan binyeo ber-jamdu bunga plum, peony, dan daun bambu. Dan untuk musim gugur, jamdu berlambang naga bakal menghiasi rambut mereka. Wah, jangan-jangan koleksi binyeo wanita Joseon lebih banyak daripada hanbok-nya, ya?

Binyeo atau tusuk konde Korea juga nggak sekadar benda yang dipakai untuk mempercantik penampilan. Setiap jamdu melambangkan kelas dan status sosial pemakainya. Ini merupakan implementasi dekrit dari Kerajaan Silla yang membatasi penggunaan binyeo dengan lambang tertentu, misalnya binyeo dengan jamdu berbentuk burung phoenix atau naga hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan. Peraturan ini bahkan bertahan sampai masa Kerajaan Joseon.

Binyeo dengan jamdu terbatas tersebut juga nggak boleh dikenakan di luar istana. Saat keluar dari istana untuk beristirahat di rumah ayahnya, kita sebagai penonton nggak akan bisa menemukan binyeo emas membahana milik Ratu Cheorin, melainkan binyeo dengan hiasan dari batu giok yang bertengger di sanggulnya. Begitu juga Jo Hwa-jin yang datang buat menjenguk Ratu mengenakan binyeo serupa tapi dengan warna berbeda.

Kalau kalian punya kesempatan buat menjajal hanbok, jangan lupa buat mencoba binyeo juga. Siapa tau aura bangsawan dan doa yang tersemat di dalam binyeo bisa ikut nempel di badan kalian.

Sumber Gambar: YouTube Viu Indonesia

BACA JUGA 10 OST Drakor Paling Menyayat Hati Sepanjang Masa dan tulisan Noor Annisa Falachul Firdausi lainnya.

Baca Juga:  Yang Terjadi Ketika Saya Masuk Tempat Karaoke Pakai Gamis
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.



Komentar

Comments are closed.