Film Thailand Itu Lebih Menarik dari Film Korea, Ini Alasannya – Terminal Mojok

Film Thailand Itu Lebih Menarik dari Film Korea, Ini Alasannya

Artikel

Seto Wicaksono

Bagi sebagian orang, termasuk saya, film Thailand punya sisi menarik yang tidak kalah eksentrik dari produksi Hollywood maupun Korea. Boleh didebat, tapi jujur aja tayangan mereka sudah punya tempat tersendiri di hati saya.

Mungkin banyak diantara kalian yang sudah menyadari bahwa Thailand hampir selalu memproduksi iklan dengan alur cerita terbaik. Mulai dari iklan asuransi, pembasmi nyamuk, dan sampai fesyen, dan makanan. 

Saya rasa ini ada hubungannya sama film mereka yang juga selalu menarik untuk ditonton dan layak untuk dijadikan referensi. Tenang, sya akan memberikan alasan kenapa saya bisa sekagum ini.

Film Thailand terkenal emosional dengan ciri khas logat bahasanya yang khas

Mulai dari iklan komersial sampai dengan film layar lebar, tayangan negeri Gajah Putih selalu berhasil membuat saya tertawa terbahak-bahak. Bikin mangkel semangkel-mangkelnya, nangis seperlunya, dan parno separno-parnonya. Bahkan, itu semua bisa terjadi dalam waktu yang bersamaan.

Jadi, jangan heran kalau lagi nonton film horor Thailand, kalian bukan hanya merasa ngeri, tapi juga berasa lucu. Ditambah dengan logat dan bahasa yang khas. Asli, bukan main, memang.

Phobia, Phobia 2, Pee Mak, dan Saranae Siblor, hanya sebagian kecil contoh film horor kocak. Penulis skenario film Thailand memang jago betul dalam mengobrak-abrik emosi penonton.

Film Thailand banyak mengandung plot twist yang betul-betul sulit ditebak

Kebiasaan saya, atau mungkin juga banyak orang ketika menonton film adalah menerka-nerka apa yang selanjutnya akan terjadi, siapa pemeran dalam film yang punya andil dalam melakukan sesuatu, dst. dst..

Nah, ketika nonton film Thailand, entah kenapa tebakan saya untuk dapat mengetahui alur selanjutnya sering salah. Endingnya selalu lain dari apa yang saya bayangkan. Di luar dugaan.

Dari penelusuran saya, formula seperti ini hampir ada di banyak film Thailand. Bahkan diterapkan juga pada iklan komersial.

Komedi yang khas dan mudah diterima oleh khalayak

Sampai dengan saat ini, saya belum menemukan kawan yang tidak tertawa ketika menonton film Thailand. Komedinya bisa diterima oleh semua kalangan. Lucu ya lucu aja gitu, tanpa pengecualian apa pun. Komedinya sering diselipkan pada adegan yang tidak terduga. Sulit diperkirakan. Jadi, tawa yang dihasilkan meledak-ledak, LPM (Laugh Per-Minute)-nya padat banget, pokoknya kompor gas!

Asli, setiap nonton selalu memberi warna baru dan penyegaran, apa pun genre-nya. Kalau kalian belum pernah menontonnya sama sekali, saran saya, beranikan diri untuk nonton satu film terlebih dahulu. Meski alur ceritanya kompleks dan kadang berbelit, tapi mudah dicerna dan dipahami.

Barangkali lagi bosan nonton itu-itu aja, film Thailand adalah alternatif yang bisa ditonton dalam kondisi apa pun.. Khusus untuk genre horor, jika kalian orang yang cemen dan penakut, jangan nonton sendirian. Ada banyak jumpscare-nya.

Harusnya beberapa film sudah bisa disejajarkan dengan produksi Korea, bahkan Hollywood sekalipun. Dari alur ceritanya, efeknya, bahkan plot twist yang seringkali membuat kita takjub. Kalaupun ada yang kurang, saya pikir mungkin dari sisi pemasarannya aja sih.

Paling tidak film Thailand sudah mulai mengisi slot perfilman di aplikasi streaming berbayar seperti Netflix dan Viu. Dengan demikian, bisa semakin mudah ditonton dan diakses di mana pun dan kapan pun. Jadi jangan terburu-buru ilfeel dengan bahasa orang-orangnya, justru dari sini kalian akan menemukan keasyikannya.

Sumber gambar: YouTube GDH

BACA JUGA Tips agar Kalian Nggak Perlu Antre Lama di Bank dan tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Baca Juga:  Saya Benci Disebut Bucin!

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

---
6


Komentar

Comments are closed.