Film 'Stand By Me Doraemon 2' Menunjukkan Semua Orang Pasti akan Berubah – Terminal Mojok

Film ‘Stand By Me Doraemon 2’ Menunjukkan Semua Orang Pasti akan Berubah

Artikel

Avatar

Yang tetap di dunia ini hanyalah perubahan. Artinya, tidak ada yang tetap di dunia ini, kecuali perubahan itu sendiri. Hal itulah yang sepertinya ingin disampaikan dalam film Stand By Me Doraemon 2.

Gambar-gambar dari cuplikan trailer film Stand By Me Doraemon 2 yang bakal tayang di bioskop pada 2 Februari 2021 itu sedang menjadi bahan pembicaraan warganet. Bahkan tokoh-tokoh dalam film Stand By Me Doraemon 2 sempat jadi kata-kata kunci (keywords) yang populer bahkan trending di Twitter.

Banyak netizen yang membahas mengapa rambut Suneo yang tadinya hitam runcing jadi berwarna pirang dan kribo seperti kremesan ayam di film Stand By Me Doraemon 2? Ada juga yang membahas kok bisa-bisanya Shizuka menikah dengan Nobita, bukan dengan Dekisugi yang lebih pintar dan tampan.

Well, kalian yang bertanya-tanya soal ini, apakah kalian tidak pernah menemukan ada teman perempuan kalian sewaktu kecil yang tadinya gendut dan berkulit gelap, tapi setelah dewasa jadi langsing dan kulitnya putih mulus? Atau teman laki-laki kalian sewaktu kecil yang tadinya cupu dan kuper, tapi setelah dewasa jadi terlihat terlihat modis dan gaul? Atau juga teman-teman kecil kalian lainnya yang tadinya kumal, dekil, dan mukanya selalu tampak kotor, tapi setelah dewasa jadi berpenampilan necis, bersih, dan tampak rajin merawat diri?

Itu baru dari sisi penampilan. Belum dari karakter dan nasib hidupnya.

Saya pribadi pernah punya teman kecil yang tadinya alim dan baik sekali, tapi ketika dewasa jadi pemakai narkoba, suka seks bebas, dan gabung geng motor yang suka begal pengendara lain. Sebaliknya, ada juga teman kecil lainnya yang tadinya sering diremehkan dan bahkan sama sekali tidak diperhitungkan, tapi setelah dewasa jadi lebih sukses dan kaya dibanding teman-teman lainnya termasuk saya.

Ada pula saya, yang sewaktu kecil dianggap cemerlang karena sering menang lomba ini-itu, mulai dari Lomba Siswa Berprestasi, Olimpiade Sains, hingga Porseni, kini jadi orang yang biasa-biasa saja. Prestasi-prestasi saya sewaktu kecil itu tidak mampu membawa saya berkarier dengan benar di bidang sains, olahraga, ataupun seni. Disebut sukses sangatlah tidak layak, dibilang medioker bener banget.

Saya sama sekali tidak sukses dalam karier, apalagi setelah adanya pandemi Covid-19 yang ikut mempengaruhi kondisi keuangan dan kebijakan tempat terakhir saya bekerja. Ya, hal semacam ini memang terjadi pada banyak orang. Namun, tidak pada banyak teman saya lainnya, termasuk teman-teman kecil saya yang dulu tidak diperhitungkan banyak orang itu.

Jadi, melihat Suneo yang dulu merupakan anak mami menyebalkan yang nggak asyik sekali tapi kini terlihat seperti pemuda gaul, ataupun melihat Nobita yang dulu cupu, malas, dan bodoh tapi kini bisa menaklukkan hati Shizuka, itu bukanlah perkara yang luar biasa bagi saya.

Wajar saja toh kalau Suneo berubah jadi pemuda gaul kribo yang mewarnai rambutnya. Wajar juga toh kalau Nobita kecil yang dulu selalu gagal menarik perhatian Shizuka kini jadi pemuda berkelas yang tak lagi malas dan bodoh makanya dia bisa menikahi Shizuka.

Semua orang berhak berubah dan pasti berubah. Jangan terlalu kaget atau merasa kecewa karena perubahan itu.

Seorang filsuf Yunani kuno bernama Herakleitos pernah mengatakan, “Nothing endures but change.” Tidak ada yang tidak berubah kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan itu mutlak. Tentu. Pasti. Niscaya. Bahkan abadi. Akan terus terjadi.

Sang penyair Kahlil Gibran pernah bilang juga bahwa ketidak pemanenan manusia adalah seperti ayat-ayat yang ditulis di atas permukaan sungai. Aliran sungai berubah terus-menerus. Maka kita janganlah kaget atau heran misalnya orang yang pernah kita kenal dekat dan baik sebelumnya, ternyata kemudian berubah perlakuannya kepada kita. Jangan marah atau menyesal pula jika misalnya orang yang pernah kita kagumi, ternyata kemudian mengecewakan kita. Termasuk pula jika orang yang berubah tersebut adalah diri kita sendiri.

Ada teman saya misalnya pernah curhat bahwa dulu dia sangat mengagumi seorang musisi yang begitu bagus dalam menulis lirik lagu bahkan lagu yang ia buat untuk istrinya. Namun, si teman kemudian kecewa setelah musisi tersebut selingkuh dan meninggalkan istrinya demi menikahi wanita lain, lalu lirik-lirik lagu baru yang dibuatnya jadi murahan, dan kata-kata yang ia sampaikan jadi penuh kebencian dan teori konspirasi terutama setelah ia masuk ke dunia politik.

Juga ada teman lain yang mencak-mencak karena merasa salah telah memilih presiden yang tadinya ia pikir merakyat dan cinta lingkungan karena pernah hidup susah dan merupakan sarjana Kehutanan. Namun, ternyata kini lebih terlihat mementingkan elite oligarki, “mendukung” pengerusakan lingkungan demi bisnis, dan bahkan mendukung upaya melumpuhkan pemberantasan korupsi dengan berbagai peraturan dan kebijakan yang dikeluarkannya.

Saya bilang pada teman yang satu bahwa janganlah kaget dan menyesal pernah mengidolakan musisi tersebut karena dulu dia memang pernah bagus berkarya dan lagu-lagu lamanya yang cemerlang tetaplah abadi. Saya katakan juga pada teman yang lain janganlah kaget dan menyesal pernah memilih presiden itu karena dulu mungkin saja ia memang benar-benar merakyat dan bisa jadi merupakan pilihan terbaik dari yang ada kala itu.

Hanya saja, manusia kan memang makhluk yang selalu berubah sewaktu-waktu. Bisa berganti penampilan atau sikap setiap harinya, atau bahkan tiap detiknya.

Jangankan manusia seperti Suneo dan Nobita yang berubah. Bahkan robot musang seperti Doraemon pun berubah. Tahukah kalian bahwa sebenarnya dulu tubuh Doraemon berwarna kuning dan memiliki daun telinga? Iya, bukan berwarna biru dan tanpa daun telinga seperti sekarang ini, lho.

Nah, jadi kalian jangan kaget lagi ya kalau banyak calon wakil rakyat yang pas kampanye bilang akan selalu mendengar aspirasi rakyat, tapi setelah memegang jabatan mereka jadi mendadak tidak punya telinga semua. Ya, anggap saja mereka cuma robot musang berbulu ayam. Idih, sereeem.

BACA JUGA Menerka Alasan Dekisugi Nggak Ada di Foto Pernikahan Nobita Shizuka

Baca Juga:  Kebiasaan Orang Indonesia Saat Janjian: Menyebut Waktu Salat sebagai Waktu untuk Bertemu
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.
---
8


Komentar

Comments are closed.