Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Film Horor Pendakian Gunung Bikin Ilmu Pendakian Gunung Seakan Nggak Ada Gunanya

Karina Londy oleh Karina Londy
21 Februari 2025
A A
Film Horor Pendakian Gunung Bikin Ilmu Pendakian Gunung Seakan Nggak Ada Gunanya

Film Horor Pendakian Gunung Bikin Ilmu Pendakian Gunung Seakan Nggak Ada Gunanya

Share on FacebookShare on Twitter

Film horor pendakian gunung seakan-akan meludahi semua ilmu safety pendakian gunung yang ada, sebab semua direduksi jadi “melanggar pantangan” semata

El Capitan. Tebing karst paling terkenal di Taman Nasional Yosemite. Banyak orang pasti familiar dengan bentuknya karena pernah menjadi default wallpaper desktop Macintosh. Musim panas 2017, di kaki tebing itu berdiri Alex Honnold. Seorang pemanjat yang oleh sebagian besar orang dianggap gila karena ingin memanjat tebing setinggi 900 meter itu tanpa pengaman apa pun. Sedikit aja ada kesalahan hingga terjatuh artinya sama dengan mati.

Menyertainya adalah pasutri Jimmy Chin dan Elizabeth Chai, sepasang sutradara tersohor dalam dunia petualangan. Jimmy telah memasang banyak kamera di berbagai sudut tebing agar dapat merekam tarian mematikan Honnold tanpa membuatnya gugup. Mereka paham betul, bisa saja kamera mereka merekam momen kematian pemanjat elit tersebut. Namun ajal belum menjemput Honnold hari itu. Setelah pemanjatan nyaris 4 jam, dia berhasil menjadi satu-satunya orang yang mencapai puncak El Capitan tanpa pengaman dan Jimmy beserta timnya sukses mengabadikan pencapaian yang langka itu. 

Dokumentasi itu kemudian diolah menjadi sebuah film berjudul “Free Solo” yang membahas arti kehidupan dan kematian. Pada Emmy Awards 2019, film itu menang dalam 7 kategori. Prestasi yang belum pernah diperoleh sama film pemanjatan mana pun sebelumnya. Dan tentu, nggak akan pernah diperoleh sama film pendakian yang jual mistisme belaka bikinan berbagai production house Indonesia belakangan ini.

Gempuran film horor pendakian gunung dua tahun terakhir

Aku nggak perlu sebut merek. Kalian tahu film horor apa aja yang aku maksud. Selama dua tahun ini paling nggak ada 4 film horor tentang pendakian gunung dan itu semua nyinggung mistisme. Seakan nggak ada hal menarik lain yang bisa dibahas dari sebuah petualangan. Malu nggak sih, sama Sherina. 

Beberapa sih mem-branding diri kalau film mereka mengandung pesan moral yaitu nggak boleh menyepelekan aturan setempat atau nggak boleh ke gunung tanpa persiapan. Tapi itu semua ketutupan sama gambar jurik jumbo di posternya. Alias, tetap aja jualanan utamanya adalah setan-setanan. 

Serius deh, semua film horor yang aku maksud punya plot yang sama. Pokoknya suatu gunung angker ini punya pantangannya tersendiri dan kalau ngelanggar pantangan bakal bikin setannya marah lalu pendakinya jadi kena sial. Hentikanlah pembodohan ini. Maksudku, sejak kapan dah setan punya emosi? 

Mistisme adalah kearifan lokal, bukan bahan komersial belaka

Aku nggak bermaksud mengolok-olok mitos dan kepercayaan lokal lho. Sama sekali nggak ada niat begitu. Jadi konsepnya tuh (sebenernya) gini: yang dijaga adalah perasaan masyarakat lokalnya, persetan dengan perasaan dedemitnya.

Baca Juga:

Nonton Film Horor di Mall “Mati”: Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

Saya Muak dengan Industri Film Horor yang Hanya (Bisa) Mengeksploitasi Budaya Jawa Seolah-olah Seram dan Mistis

Para pendaki dengan karakter paling skeptis pun mesti mengikuti aturan warga setempat. Bahkan, sampai ikut ritual adat sebelum masuk hutan jika memang diharuskan. Percaya atau nggak itu terserah. Tapi sebagai pendatang, tentu ada adab yang wajib kita jaga.

Mengangkat topik kepercayaan lokal yang menyerempet mistisme ke layar hiburan juga bukan sesuatu yang salah. Terutama jika dilakukan dengan cara-cara yang baik. Aku cuma bermasalah sama film yang ngebawa narasi bahwa pendakian gunung itu horor. Soalnya di dalamnya pasti ada doktrin bahwa kecelakaan di gunung itu karena campur tangan dedemit. Lah, kok manusianya lepas tangan, sih?

Kematian pendaki bermula dari kurangnya persiapan, nggak ada urusan sama setan

Meski pendaki harus tetap menghargai mistisme lokal, tapi bukan berarti perhatiannya jadi fokus ke situ aja. Jangan sampai pendaki-pendaki pemula malah lebih ngapalin pantangan daripada mempelajari jalur. Ujung-ujungnya rawan tersesat dan kalau itu beneran terjadi, malah nyalahin jurik daripada introspeksi diri. 

Norman Edwin mencatat bahwa pada tahun 1970-an, penyebab utama petaka di gunung adalah tersasar dan si pendaki kurang persiapan. Kalau saja salah satunya dicoret, maka kemungkinan selamat masih besar. Contohnya, anggota pencinta alam tulen pun masih sangat mungkin tersasar. Tapi karena paham ilmunya, dia pasti menggunakan pakaian yang sesuai dengan medan dan di ranselnya pasti selalu ada bekal yang cukup serta perlengkapan bermalam yang layak. Simpelnya, 3 pokok kebutuhan dasarnya sebagai manusia tetap terpenuhi sehingga dia bisa mikir buat cari jalan keluar.

Lima puluh tahun berlalu namun statistik APGI masih menyampaikan hal yang serupa: penyebab tertinggi kematian di gunung adalah hipotermia dan tersasar. Lagi-lagi tersasar. Bayangkan jika doktrin penyebab tersasar adalah karena bisikan setan itu dilestarikan sama film horor pendakian gunung. Aku rasa 50 tahun mendatang statistiknya nggak akan jauh berbeda. 

Kurang-kurangin lah film horor pendakian gunung ini

Penyebab tersasar ya karena pendaki nggak paham jalur. Atau lebih tepatnya, kelewat angkuh untuk nggak mempersiapkan diri agar kenal dengan jalur. Opsi lain adalah karena pendaki memaksakan diri padahal kelelahan sehingga dia nggak bisa melihat medan dengan jelas. Intinya, kalau kita melepaskan bayang-bayang mistisme dari pendakian gunung, kita akan lebih efisien dalam mendeteksi penyebab yang logis sebagai upaya mencegah celaka.

Soalnya nggak bisa tuh dalam perencanaan resiko pendakian, tertulis “gangguan dedemit di 1400 mdpl” dan mitigasinya adalah “sebut namaku 3 kali, Bento Bento Bento, ASIK!”

Nggak lucu kan? Maka dari itu, kurang-kurangin lah film horor pendakian gunung ini. Musnahkan, kalau bisa. Terlalu counter narrative dari edukasi yang diberikan kelompok-kelompok pencinta alam dan pemandu petualangan soalnya. Film pendakian non-mistis akan laku juga kok, jika digarap dengan bagus. 5 Cm dan Petualangan Sherina jadi buktinya. Jadi, tolong putar otak dikit lagi ya wahai para filmmaker Indonesia! Kepadamu keselamatan pendaki bangsa ini kutitipkan.

Penulis: Karina Londy
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Menyoal Larisnya Konten Horor Pendakian Gunung dan Nyinyiran pada Konten Romantismenya

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Februari 2025 oleh

Tags: Film Hororilmu pendakian gunungpendakian gunung
Karina Londy

Karina Londy

Lulusan komunikasi yang bekerja di industri penerbangan. Fotografer dan pegiat olahraga alam bebas. Pengelola taman baca swadaya di Jakarta Timur.

ArtikelTerkait

film horor

Solusi Aman Menonton Film Horor Thriller Bagi Orang-Orang yang Kagetan

7 Oktober 2019
Kok Bisa ya Ada Orang Takut Ibadah Gara-gara Nonton Film Horor? Nggak Masuk Akal!

Kok Bisa ya Ada Orang Takut Ibadah Gara-gara Nonton Film Horor? Nggak Masuk Akal!

27 Oktober 2023
4 Rekomendasi Film Horor Underrated dengan Tingkat Kengerian Tinggi

4 Rekomendasi Film Horor Underrated dengan Tingkat Kengerian Tinggi

27 Mei 2022
Film Horor Terbaik dalam 10 Tahun Terakhir Terminal Mojok

Film Horor Terbaik dalam 10 Tahun Terakhir

30 Desember 2022
Nonton Film Horor di Mall Mati Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

Nonton Film Horor di Mall “Mati”: Pengalaman Unik di Mall Hermes Place Polonia Medan

3 November 2025
Alasan Saya Lebih Suka Menonton Film Horor Penuh Jump Scare Terminal Mojok

Alasan Saya Lebih Suka Menonton Film Horor Penuh Jump Scare

12 Desember 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Rindu Kota Batu Zaman Dahulu yang Jauh Lebih Nyaman dan Damai daripada Sekarang Mojok.co apel batu

Senjakala Apel Batu, Ikon Kota yang Perlahan Tersisihkan. Lalu Masih Pantaskah Apel Jadi Ikon Kota Batu?  

10 April 2026
Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi Mojok.co

Becak Motor Malioboro Jogja Memang Unik, tapi Ogah kalau Harus Naik Lagi 

8 April 2026
Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial yang Cerdas Mojok.co

Pilih Hyundai Avega Bekas Dibanding Mobil Jepang Entry-Level Baru Adalah Keputusan Finansial Paling Cerdas

7 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Omong Kosong Slow Living di Malang: Pindah Kerja Berniat Cari Ketenangan Malah Dibikin Stres, Nggak Ada Bedanya dengan Jakarta
  • Kuliah Jurusan Sepi Peminat Unsoed Purwokerto, Jadi Jalan Wujudkan Mimpi Ortu karena Tak Sekadar Kuliah
  • Bangun Rumah Tingkat 2 di Desa demi Tiru Sinetron, Berujung Menyesal karena Ternyata Merepotkan
  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.