Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup Personality

Fenomena Sejak Ada Kata Baper, Kata Maaf Semakin Susah Diucapkan

Utamy Ningsih oleh Utamy Ningsih
14 Juli 2019
A A
baper

baper

Share on FacebookShare on Twitter

Sebagian besar dari kita tentu sudah tidak asing dengan kata baper. Kata baper itu sendiri adalah singkatan dari (ter)bawa perasaan. Dalam situasi tertentu, baper bisa digambarkan sebagai keadaan saat seseorang merasa tersentuh hatinya ketika membaca, mendengar, atau menyaksikan suatu kejadian. Sementara pada situasi yang lain, kata baper digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu serius menanggapai sesuatu hingga mudah tersinggung. Nah, kata baper dalam situasi yang kedua lah yang ingin saya bahas dalam tulisan ini.

 “Ya…gitu aja baper”

“Ah…baper banget sih, akutu cuma bercanda kali”

Dua kalimat di atas adalah contoh kalimat yang mungkin sering sekali kita dengar belakangan ini. Kalau boleh dibilang, kalimat di atas adalah penggambaran dari fenomena sejak ada kata baper, kata maaf jadi semakin susah diucapkan. Ya, ketika apa yang terucap ternyata menyakiti orang lain, alih-alih merasa bersalah lalu minta maaf, sebagian orang malah lebih gampang untuk menganggap orang lain yang terlalu baper. Hmm…

Banyak yang bilang, seharusnya kalau sudah bersahabat lama atau saling akrab satu sama lain, mau diejek atau di-bully seperti apa pun, dia tidak akan baper atau tersinggung. Harusnya sudah pahamlah bahwa hal tersebut sekadar bercandaan saja.

Benarkah begitu? Bagi saya pribadi sih tidak juga. Persahabatan yang baik adalah persahabatan yang saling mengerti satu sama lain. Kadang, justru sebagai sahabat, kita dong yang harus mengerti mana yang pantas untuk dijadikan bahan bercanda mana yang tidak. Enak banget bisa bebas nge-bully karena berlindung di balik kata, “kita kan sahabat,”

Disadari atau tidak, pada dasarnya setiap orang itu memang punya persepsi dan pandangan yang berbeda-beda. Hal yang biasa saja menurut kita, bisa jadi malah adalah sesuatu hal yang sensitif bagi orang lain. Tidak bisa kita menggunakan apa yang ada dalam diri sendiri untuk menilai orang lain. Setidaknya, begitu yang saya yakini. Jika ada yang tidak sepakat, bebas-bebas saja.

Saya sendiri sejauh ini ketika ngumpul dengan teman atau sahabat, saya akan santai-santai saja ketika ada yang mencela hidung saya yang mancung ke dalam alias pesek. Akan tetapi, bagi salah satu teman saya, mencela atau menjadikan hidungnya yang minimalis sebagai bahan bercandaan, sama saja dengan menabuh genderang perang. Pada mulanya dia mungkin hanya akan membalas dengan senyum kecut, tapi jika dia sudah meminta berhenti lantas masih terus-terusan diejek, dia akan memilih diam. Diam dalam waktu yang sangat lama sampai susah untuk diajak ngumpul lagi.

Baca Juga:

Low Maintenance Friendship: Tipe Pertemanan Dewasa yang Minim Drama, Cocok untuk Orang-Orang Usia 30 Tahunan

Orang Jakarta Baperan: ‘Aku-Kamu’ Dikira PDKT, padahal Itu Panggilan dalam Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

Mungkin ada yang akan berpikir, masak gitu aja marah? Lah pada kenyataannya kita memang punya batas rasa sensitif yang beda-beda. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, hal yang menurut kita biasa saja bisa jadi adalah hal yang sensitif—yang bisa membuat tersinggung—bagi orang lain.

Kalau dilakukan sekali, masih bisa dimaklumi lah yah. Mungkin terbawa suasana. Saking bahagianya bisa ngumpul lagi, jadi khilaf atau kelepasan dalam bercanda. Tetapi, jika sudah ditegur lantas masih dulang? Ya kelewatan namanya. Apalagi kalau ternyata, sudah tidak merasa bersalah, tidak mau minta maaf, malah menuduh orang lain yang baper lagi. Huuuuu…malu woyy malu.

Itulah mengapa saya menganggap persahabatan yang baik adalah persahabatan yang saling mengerti satu sama lain. Sahabat yang baik adalah sahabat yang tahu batasan. Saya sendiri menaganggap, kita tidak akan pernah tahu apa yang bisa membuat kita tersinggung sampai pada saat ada orang yang melakukan atau mengucapkan apa yang bisa membuat kita tersinggung.

Saya tidak berani menganggap diri saya tidak gampang baper atau tidak gampang tersinggung hanya karena melihat ada orang lain yang tersinggung karena masalah yang menurut saya sepele. Bukan tidak mungkin nantinya saya yang akan tersinggung karena sesuatu yang menurut orang lain ah cuma gitu doang.

Selanjutnya, jika berbicara tentang kata maaf, tidak bisa saya mungkiri juga, meskipun kita sudah sangat akrab dengan kata maaf, pada kenyataanya meminta maaf bukanlah hal yang mudah—setidaknya bagi sebagian orang. Terutama bagi mereka yang selalu berlindung di balik ucapan “Ya elah, itu sih dianya aja yang baper.”  Ya, meminta maaf itu memang butuh kebesaran hati sih. Banyak yang enggan meminta maaf karena ego atau gengsinya yang terlalu besar.

Nah, kembali lagi soal hidung minimalis teman saya. Dia sendiri sadar, dia tidak bisa menerima kalau yang dijadikan bahan bercandaan adalah kondisi fisiknya yang satu itu. Oleh karena itu, dia selalu membatasi diri untuk tidak terlalu akrab dengan orang yang suka menjadikan kondisi fisik sebagai bahan bercandaan. Loh, nanti risikonya jadi bakalan kekurangan teman dong. Menurutnya sih, dia lebih baik punya sedikit teman tapi bisa saling menghargai dan saling mengerti daripada punya banyak teman tapi tiap ngumpul harus selalu dia yang dianggap gampang baper. Sederhananya, dia lebih memilih mencegah daripada mengobati.

Ya, apa pun itu—terlepas dari siapa pun yang menjadi objek—bagi saya pribadi, kondisi fisik memang tidak layak untuk dijadikan bahan bercanda. Namanya kondisi fisik kan sesuatu yang diberikan Tuhan, mosok dijadikan bahan bercanda. Nggak sopan tahu~

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2022 oleh

Tags: BaperBullyhubunganMaafnorma sosialPertemanansopan santun
Utamy Ningsih

Utamy Ningsih

Suka Membaca, Belajar Menulis.

ArtikelTerkait

gebetan

Mungkinkah Nembak Gebetan dengan Tingkat Keberhasilan Sampai 99,99%? (Lanjutan)

1 Agustus 2019
13 reasons why

Membayangkan Emile Durkheim dan Max Weber Berseteru Memperdebatkan Serial ’13 Reasons Why’

11 Juni 2019
pekerja seni

Kritik dan Komentar Itu Biasa: Pekerja Seni Kok Baper?

21 Oktober 2019
mak comblang

Berkurangnya Fungsi dan Peran Mak Comblang Pada Masa Kini

13 Juni 2019
ambyar

Ambyar: Mengubah Ingatan Lama Menjadi Deraian Air Mata

30 Juli 2019
pacaran beda agama

Tidak Mudah Meminta Putus Pasangan yang Pacaran Beda Agama

8 Juli 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

Kartu kredit, contoh terbaik bahwa dunia hanya ramah sama orang kaya

3 Agustus 2026
Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

Nasib Stasiun Tegalluar, stasiun megah, tapi jauh dari peradaban, kalah ramai dari Padalarang

5 Agustus 2026
Jalan Alternatif Jogjakarta-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

Jalan alternatif Jogja-Purworejo tidak boleh dianggap remeh, tanjakan dan turunan yang panjang bisa merenggut nyawa

2 Agustus 2026
5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen seperti saya saat merantau ke kota Mojok.co

5 hal yang paling dirindukan orang Kebumen saat merantau ke kota

7 Agustus 2026
Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

Pengalaman mencoba roti subuh yang lagi viral di Semarang: cukup sekali coba saja, nggak mau lagi-lagi

3 Agustus 2026
Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

Jombang memang nggak punya pantai, tapi senja pinggir Sungai Brantas sukses bikin iri warga kabupaten tetangga

5 Agustus 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=76Rp5owBnpc


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.