Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Hiburan Musik

Era Kaset: Era Dengan Pengalaman Terbaik Musisi dan Pendengarnya

Iqbal AR oleh Iqbal AR
29 Agustus 2019
A A
era kaset

era kaset

Share on FacebookShare on Twitter

“Hari gini emangnya masih ada yang denger musik dari kaset? Udah digital kali,” Kalimat-kalimat seperti ini sering keluar dari orang-orang yang melihat saya dan beberapa teman masih menikmati kaset. Iya, menikmati kaset. Terutama saya, setahun belakangan ini mulai mengumpulkan lagi rilisan-rilisan musik dalam bentuk kaset. Ya memang kebanyakan rilisan-rilisan dari musisi lawas, tapi nggak sediki juga musisi-musisi baru yang merilis karyanya dalam bentuk kaset.

Kejayaan era kaset memang sudah habis. Tahun 90-an hingga awal 2000 bisa dibilang masa kejayaan kaset. Hampir semua musisi merilis karyanya dalam bentuk kaset. Produksinya juga nggak terlalu mahal, jika dibandingkan dengan produksi plat (piringan hitam) saat itu. Memang kalau dibandingkan, kualitasnya agak jauh beda, sih. Tapi setidaknya karyanya bisa sampai ke seluruh lapisan penggemar, lah. Saya juga seenggaknya masih kebagian era kaset juga. Aseekk!

Masuk ke millennium kedua, kaset sudah mulai digeser oleh CD. Selain kualitasnya lebuh baik, dan lebih mahal tentunya, CD bisa mengakomodasi ruang artwork dan kolom lirik lagu yang lebih leluasa. Meskipun saat itu juga nggak banyak yang punya pemutar CD. Rata-rata mereka masih pakai pemutar kaset, mau itu dari radio, atau dari Walkman. Tapi ketika itu, kaset masih jadi pilihan pertama, meski perlahan tenggelam.

Kenapa awalnya saya bisa balik lagi ke kaset, adalah ketika saya nonton film remake Galih dan Ratna. Di film tersebut, Galih diceritakan sebagai pemuda yang suka musik dan kebetulan punya toko kaset. Agak-agak vintage gitu, lah, pokoknya. Ratna ini malah sebaliknya. Dia ini pemudi yang kekinian banget, dan serba digital. Berbanding terbalik dengan Galih yang lawasan banget anaknya.

Hingga ada satu percakapan yang membuat saya jatuh cinta lagi sama kaset. Ketika Ratna tanya, “apa enaknya mendengarkan musik lewat kaset? Enak juga digital, mp3, bisa langsung dengar lagu favorit.” Lalu Galih menjawab dengan bijak, “Kalau kaset, kita pasti dengar dari awal. Nggak bisa di-skip. Nah, ketika sampai pada lagu favorit kita, pasti ada rasa bangga di situ.” Booomm! Meskipun saya nggak langsung paham dengan perkataan Galih, saya tahu maksudnya.

Perkataan Galih di film itu banyak benarnya. Misalnya kita suka sama band Sheila On 7, dan memutar kaset album pertamanya, album self-titled. Lagu favorit kita adalah lagu “Dan” yang ada di trek keenam. Kalau kita memutar pakai kaset, kan kita harus dengar dari awal, mulai dari lagu “Tertatih.” Nah, ketika sudah sampai lagu “Dan” ada rasa bangga ketika lagu ini dimainkan. Ketika lagu “Dan” selesai, nggak mungkin dong kita langsung matikan. Pasti penasaran dengan lagu-lagu setelahnya.

Belum lagi urusan artwork kasetnya. Di era kaset, artwork ini sangat diperhatikan oleh musisi. Bisa dibilang, artwork ini adalah representasi dari album tersebut. Makanya, nggak ada istilah “Don’t judge a cassette by it cover.” Sebaliknya, impresi pertama pendengar, atau penikmat lagu yang akan beli kaset ya dari covernya dulu, dari artworknya. Kalau artwork-nya keren, bisa jadi musiknya juga keren dan banyak diminati. Kalau artwork-nya buruk, ya jangankan musiknya, orang saja nggak minat lihat, apalagi beli.

Saat ini, beberapa kelompok, atau kolektif sudah mulai memopulerkan lagi kaset-kaset ini. Bisa dilihat dari gelaran Cassette Store Day yang tiap tahun digelar di hampir tiap kota besar di Indonesia. Selain jadi ruang untuk jual beli, gelaran ini juga sebagai edukasi bahwa era kaset masih belum habis. “Main” kaset itu juga masih menyenangkan. Harganya juga terbilang murah, kecuali kalau kaset-kaset yang “rare” atau yang “special edition”, itu baru mahal.

Baca Juga:

Susu Tunggal, Susu yang Bikin Nostalgia Masa Kecil Warga Blitar

Indomie Kuah Comfort Food Saat Musim Hujan, No Debat!

Memang agak ribet ketika masuk ke perawatannya. Ya namanya kaset pita, ya harus rajin-rajin dibersihkan, biar nggak rusak. Kalau kaset yang jarang dibersihkan, jadinya berdebu dan mempengaruhi kualitas suaranya. Kadang ada yang putus-putus, atau ngak jernih suaranya. Paling apes ya rusak total, nggak bisa dimainkan. Intinya, sih, sering-sering dibersihkan saja.

Tapi ya balik lagi, di era sekarang, ketika semuanya sudah serba digital, apa yang bisa diharapkan dari kaset? Ngapain juga repot-repot beli kaset, beli pemutarnya, repot-repot membersihkan, memutar roll-nya pakai pensil, kalau dengan gadget kita bisa memutar lagu apapun. Nggak perlu putar dari awal, dong.

Ya mau nggak mau memang begitu. Tapi setidaknya dengan punya kaset, atau rilisan fisik apapun itu, kita punya hak milik. Katakan beli satu kaset seharga 30-40 ribu, maka kaset itu jadi milik kita sepenuhnya. Berbeda dengan layanan musik digital, yang sebenarnya sistemnya sewa. Meskipun dengan 50 ribu per bulan kita bisa dengar lagu apapun, tapi kita juga harus bayar lagi bulan berikutnya. Nggak ada kepemilikan penuh. Apa itu namanya kalau bukan sewa? (*)

BACA JUGA Jangan Pergi Ketika Didi Kempot Sudah Nggak Tenar Lagi atau tulisan Iqbal AR lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 Januari 2022 oleh

Tags: era kasetkejayaanMasa Lalumusik indonesianostalgia
Iqbal AR

Iqbal AR

Penulis lepas lulusan Sastra Indonesia UM. Menulis apa saja, dan masih tinggal di Kota Batu.

ArtikelTerkait

7 Benda Masa Lalu yang Baunya Khas Banget, Bikin Nostalgia Terminal Mojok

7 Benda Masa Lalu yang Baunya Khas Banget, Bikin Nostalgia!

24 Januari 2023
bedak MBK pengganti deodoran terminal mojok

Eksistensi MBK, si Bedak Lawas Pengganti Deodoran Terbaik Sepanjang Masa

28 Maret 2021
merawat kenangan

Merawat Kenangan Melalui Helm Ala Generasi 90-an

3 September 2019
5 Jajanan Mi Jadul Terbaik yang Sebenarnya Nggak Baik-baik Amat terminal mojok

5 Jajanan Mi Jadul Terbaik yang Sebenarnya Nggak Baik-baik Amat

22 Oktober 2021
copet

Copet Dapat Beraksi Di Mana Saja, Waspada Terhadap Segala Modusnya

8 Agustus 2019
masa lalu

Mahasiswa Sekarang dan Romantisme Masa Lalu yang Bikin Kesel

30 September 2019
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja Mojok.co

Terima kasih Gresik Sudah Menyadarkan Saya kalau Jogja Memang Bukan Tempat Sempurna untuk Bekerja

3 April 2026
UMK Cikarang Memang Tinggi, tapi Biaya Hidup di Cikarang Tetap Murah, Jogja Can't Relate! scbd

Jika Harus Menjalani Sepuluh Ribu Kehidupan, Saya Tetap Memilih Jadi Pekerja Cikarang ketimbang Kakak-kakak SCBD

5 April 2026
Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

Jangan Bilang Kudus Kota Sempurna kalau Tiap Lampu Merah Masih Dikuasai Badut dan Manusia Silver

8 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

Ringroad Jogja Butuh JPO, sebab Pejalan Kaki Juga Butuh Rasa Aman dan Berhak untuk Merasa Aman

7 April 2026
7 Indikator Purwokerto Salatiga Daerah Terbaik di Jawa Tengah (Unsplash)

Purwokerto Tidak Butuh Mall Kedua, Setidaknya untuk Sekarang

7 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • PNS Lebih Pilih Tetap Pergi ke Kantor saat WFH, Takut Tergiur “Godaan” Kelayapan Malah Berujung Gagal Hemat BBM
  • Sumbangan Pernikahan di Desa Menjebak dan Bikin Menderita: Maksa Utang demi Tak Dihina, Jika Tak Ikuti Dicap “Ora Njawani”
  • Mahasiswa Sudah Muak dengan KKN: Tak Dapat Faedah di Desa, Buang-buang Waktu untuk Impact Tak Sejelas kalau Magang
  • Ikut Seleksi CPNS di Formasi Sepi Peminat sampai 4 Kali, setelah Diterima Malah Menyesal karena Nggak Sesuai Ekspektasi
  • Kerja Tahunan Cuma Bisa Beli Honda Supra X 125 Kepala Geter di Umur 30, Dihina Anak Gagal tapi Jadi Motor Tangguh Simbol Keluarga Bahagia
  • Meninggalkan Hidup Makmur di Desa, Memilih Pindah ke Perumahan demi Ketenangan Jiwa: Sadar Tak Semua Desa Cocok Buat Slow Living

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.