Eksploitasi Karya Orang Lain Demi Keuntungan Pribadi

Banyak akun-akun yang kerjanya cuma memposting karya-karya orang lain dalam bentuk kutipan singkat atau bahasa kerennya quotes.

Artikel

Avatar

Akhir-akhir ini saya gelisah. Saking gelisahnya, saya membuka halaman awal buku-buku cetak yang ada di rak buku saya. Semua tulisannya masih sama:

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang

Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

Lalu kegelisahan saya apa? Jadi begini, saya sering menggunakan media sosial terutama Instagram. Di situ, selain berkarya—menulis dengan nama pena—saya juga membaca atau mengamati postingan akun lain—kadang-kadang stalking gebetan, sesekali mantan. hehe

Di akun itu, setiap hari saya berusaha konsisten mem-posting satu atau dua tulisan. Kadang-kadang, saya tulis kata-kata bijak ala saya di story. Tentu, semua postingan sebisa mungkin  saya buat menarik baik dari konten maupun sampulnya—foto. Harapannya, semakin banyak yang tertarik mengikuti akun saya, membaca dan juga membagikan karya-karya saya. Intinya, tulisan saya bermanfaat bagi orang lain.

Sebagai pengkarya, saya senang dong kalau karya-karya saya dibaca—diberi like, walau belum tentu dibaca sih)—diberi komentar—saya lebih suka kritik tapi itu jarang terjadi—atau di-posting ulang. Sering saya senyum-senyum sendiri, merasa bangga karena ternyata ada juga orang yang tertarik atau merasa terinspirasi dengan karya-karyaku. Saya merasa berharga dan berguna sebagai manusia—itu nasihat Pram loh.

Oke, kembali ke persoalan utama. Kegelisahan saya apa? Ada tiga pengalaman pribadi yang kurang lebih esensinya sama. Pertama—karena tulisan saya bagus—anggap saja bagus, setidaknya menurutku pribadi—beberapa followers, yang kebetulan saya follback, sering mengutipnya dan menjadikannya caption di postingan-nya tanpa mencantumkan sumbernya. Saya tidak gila hormat—cuma agak kesal sekaligus lucu saja karena saya melihatnya lewat di beranda.

Orang-orang seperti itu mudah saya maafkan walau tak terlupakan. Kadang-kadang saya beri komentar: “caption­nya nice bro”. Beberapa sadar lalu menghapusnya. Sebagian lagi pura-pura tidak tahu apa masalahnya, dan malah ­­nge-like komentarku. Nah tipe yang kedua ini yang kadang bikin gerah atau memancing emosi. Cuma masih aku maafkan sambil geleng-geleng kepala.

Baca Juga:  Terbakarnya KyoAni dan Isu Plagiat

Kedua. Beberapa akun, sengaja me-repost atau re-upload karya—tulisan—orang yang belum dikenal seperti saya tanpa izin. Semua isi postingan di akunnya, tulisan-tulisan yang dianggap menarik dari banyak orang. Mungkin mereka menganggap: “Ah, orang ini bukan siapa-siapa, paling mereka senang juga karena dibaca oleh ribuan orang.”

Kenyataannya memang banyak yang senang. Bagaimana tidak, followers-nya puluhan bahkan ratusan ribu. Jujur, awalnya saya bahkan sempat senang. Pengikutku tambah karena mereka.  Untuk kegelisahan ini, meski sulit saya berusaha memaafkan. Kalau sudah tidak sanggup, biasanya aku DM secara personal. Saya berikan ceramah singkat—kritik sekaligus sikapku pribadi. Beberapa cuma read pesanku. Memang bikin kesal.

Dan ketiga—ini yang paling berat. Ini butuh solusi dari pemerintah, polisi, para ahli bahkan bila perlu orang pintar. Ini serius. Dari hasil pengamatanku, banyak akun-akun serupa yang kerjanya cuma mem-posting karya-karya orang lain (masih hidup atau sudah mati)—dikenal secara luas—dalam bentuk kutipan singkat atau bahasa kerennya quotes. Tak jarang, saya temukan misalnya kutipan yang sama, misalnya dari Pram, terpampang di lebih sepuluh akun. Yang membedakan satu sama lain, ya cuma tampilannya doang. Isinya sama persis, seratus persen.

Akun-akun itu punya pengikut yang banyak (entah pengikutnya asli atau tidak—yang dibeli dari peternak akun—bukan urusan saya. Intinya, pengikutnya ribuan bahkan ratusan ribu). Saya curiga mereka tidak membaca karya—buku—penulis yang mereka kutip. Mereka hanya berselancar ke akun-akun yang lain.

Saya juga curiga motivasi mereka membuat akun itu. Dengar-dengar, mereka ingin menyebarkankan hal-hal baik—pengetahuan atau ilmu. Sekilas terdengar cukup keren. Tapi benarkah? Saya curiga. Kalau benar seperti itu, kok sering-sering posting iklan ya? Pasti kan dapat uang dari situ. Lalu masalah kalau seseorang cari uang dengan cara seperti itu? Ya tergantung.

Baca Juga:  Isu World War III: Berhenti Jadikan Perang Bahan Guyonan!

Lalu masalahnya apa sehingga saya gelisah? Begini, di awal sudah saya sebutkan tulisan yang tertera di setiap awal buku: “Dilarang… tanpa seizin…”. Nah, apakah pengurus akun-akun tersebut sudah meminta izin sebelum mem-posting atau menyebarkan tulisan yang mereka ambil dari sebuah buku atau karya seseorang?

Masalah berikutnya, bila sudah izin, lalu apakah penulis mendapatkan bayaran seperti layaknya sebuah koran atau media yang memuat tulisan seseorang? Seperti apa kesepakatannya? Sejauh mana kita boleh mem­-posting karya seseorang? Apa ukurannya? Kalau pertanyaan yang ada di kepala diteruskan, tulisan ini jadi terlalu panjang.

Di sinilah letak kegelisahan terbesar saya (Ya anda mungkin menganggapnya biasa saja dan tetap nyenyak saat tidur). Saya sebut kegelisahan karena sudah mengganggu pikiran dan saya tidak bisa menjawabnya. Kegelisahan saya di atas terutama yang ketiga menyangkut persoalan moral dan hukum. Kalau dipikir-pikir, perilaku-perilaku tersebut rentan dengan yang namanya, eksploitasi karya orang lain untuk keuntungan pribadi (di beberapa akun, eksploitasi penderitaan atau aib orang lain untuk menghasilkan uang. Nah, ngeri kan hehe).

Saya tidak anti uang.  Uang itu baik atau tidak tergantung dari cara kita memandang dan menghasilkannya. Uang kita butuhkan untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup. Lagipula, menurutku pribadi uang bukanlah segalanya. Bagi mereka yang punya integritas dan menghargai sebuah nilai (esensi), tentu uang adalah sarana semata bukan tujuan hidup.

---
8


Komentar

Comments are closed.