Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Eksistensi Gamang Pedagang Asongan di Tengah Demonstrasi

Nasrulloh Alif Suherman oleh Nasrulloh Alif Suherman
10 Oktober 2020
A A
Toko Kelontong Bukan Tempat Penukaran Uang, Tolong Kesadarannya, Hyung warung kelontong mitra tokopedia grosir online terminal mojok.co
Share on FacebookShare on Twitter

Demonstrasi besar-besaran terkait UU Cipta Kerja diikuti oleh banyak golongan yang turun ke jalan: buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota, perempuan, dan berbagai elemen lainnya. Tapi, jika kalian jeli melihat, di tengah kerusuhan massa demonstrasi yang begitu tumpah, ada beberapa pedagang asongan yang masih berjualan. Itulah Indonesia. Mental masyarakat kita di tengah kekacauan memang luar biasa. Walau demonstrasi dimungkinkan berakhir ricuh, jiwa bisnis mereka tidak surut.

Beberapa kali mengikuti dan melihat demonstrasi, saya selalu menemukan pedagang asongan yang berjualan. Dan, tentu saja ada yang beli! Begitulah, namanya demonstrasi pasti haus dan lapar, makanya barang dagangan mereka akan banyak yang laku. 

Mau ada kerusuhan, para pedagang asongan ini santai weh sambil merokok di pinggir jalan. Dari dulu pedagang asongan kita sudah begitu. Saat demo 1998 kalau dilihat dokumentasinya saat rusuh, pasti ada saja pedagang asongan yang santai-santai.

Kenapa pedagang asongan tidak pernah merasa terancam atau khawatir di tengah kerusuhan? Apakah mereka jangan-jangan… wkwkwk, yang pasti inilah alasan-alasan yang saya kumpulkan mengapa mereka sering kali muncul saat demonstrasi besar-besaran. Cangcimen~

#1 Omzet Lebih Besar

Seperti yang saya sudah katakan di paragraf atas, namanya saat demonstrasi pasti haus dan lapar. Para pedagang asongan menjadikan ini kesempatan untuk meraup untung yang sangat dalam, apalagi kalau yang demonstrasi sampai puluhan atau ratusan ribu. Bayangin aja, kalau seperempatnya saja beli ke pedagang asongan, udah untung banyak sekali itu.

Mau itu yang jual minuman, yang jual tisu, yang jual kopi, atau kacang-kacangan pasti laku. Apalagi, kalau di masa sekarang mereka menambah jualan masker dan face shield, pasti lebih laku.  

#2 Jarang Dijadikan Sasaran Kerusuhan

Saat terjadi kerusuhan, saya katakan sekali lagi bahwa pedagang asongan itu jarang sekali menjadi sasaran kerusakan atau kerusuhan. Tidak pernah saya lihat berita tentang sepeda siomay yang jadi sasaran amukan massa, yang ada kan fasilitas negara atau mobil aparat.

Sebab itulah, pedagang asongan bersikap santai saja. Saat demonstrasi RKUHP tahun lalu di depan gedung DPR, saat saya sedang melarikan diri dari tembakan gas air mata, tukang kopi santai saja mengisap rokok di pinggiran jalan. Mungkin bagi abang tukang kopi itu, demonstrasi itu kayak lagi syuting film kali ya? 

Baca Juga:

5 Kejadian Luar Biasa yang Bikin Ospek UIN Gempar dan Viral, Ada Apa dengan UIN (yang Sekarang)?

RUU Kesehatan yang Begitu Tergesa-Gesa: Apa Itu Proses? Apa Itu Asas Keterbukaan?

#3 Pembeli Tidak Hanya dari Pihak Demonstran 

Tidak hanya dari pihak demonstran, pembeli asongan juga berasal dari aparat yang berjaga. Informasi ini saya dapatkan dari pertanyaan iseng-iseng saat “jajan” di sela demonstrasi. Katanya, saat demonstrasi sudah selesai, aparat keamanan biasanya akan beli . Entah beli kopi, siomay, makanan ringan, air putih, atau yang lainnya. Pantas saja, para pedagang asongan ini hadir sebagai pihak yang benar-benar netral. Tujuan mereka murni berdagang, tanpa ada niat lain. 

Mereka terbukti jadi pihak yang paling resisten terhadap serangan. Hadir sejak awal demonstrasi hingga kerusuhan berakhir. Menyaksikan aparat yang kewalahan dan mahasiswa yang kelelahan.

Begitulah, fakta mengapa banyak pedagang asongan yang selalu ada setiap kali demonstrasi terjadi. Mereka cuma rakyat kecil, yang penting adalah perut kenyang dan keluarga bisa makan. Masalah risiko atau tidaknya, yang penting jualan laku dan dapat untung. Apalagi masa pandemi ini, double lah resiko mereka. 

Diakui atau tidak, kehadiran mereka memang dibutuhkan. Dengan berdagang di tengah massa, mereka juga dapat keuntungan yang lebih banyak dibandingkan hari-hari biasa. Demonstrasi bukan hanya momen untuk menyampaikan aspirasi dan menunjukkan solidaritas, melainkan juga ladang penghasilan bagi sebagian orang. Klise memang, kekacauan seperti ini justru jadi kesempatan meraih penghasilan. Belum lagi, risiko bahaya yang terpaksa diabaikan demi sesuap nasi untuk keluarga.

Yang salah siapa? Sebaiknya jawaban pertanyaan ini jadi renungan pihak-pihak yang bersangkutan. Pihak yang melanggengkan sistem-sistem bobrok sehingga mendorong rakyat kecil hidup di tengah kekacauan.

Meski eksistensi mereka gamang, tidak memihak dan tampak tidak mengamini kedua kubu, pedagang asongan rasanya bisa jadi sebaik-baiknya saksi dari berbagai peristiwa yang terjadi.

BACA JUGA Kemiripan DPR dengan Tenryuubito di One Piece dan artikel Nasrulloh Alif Suherman lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya di sini.

Terakhir diperbarui pada 9 Oktober 2020 oleh

Tags: demonstrasiUU Cipta Kerja
Nasrulloh Alif Suherman

Nasrulloh Alif Suherman

Alumni S1 Sejarah Peradaban Islam UIN Jakarta. Penulis partikelir di selang waktu. Sangat menyukai sejarah, dan anime. Kadang-kadang membuat konten di TikTok @waktuselang.

ArtikelTerkait

Pak Polisi, Apakah Demonstran Juga Harus Belajar Jurus Smackdown? terminal mojok.co

Pak Polisi, Apakah Demonstran Juga Harus Belajar Jurus Smackdown?

14 Oktober 2021
senayan

Catatan Kecil dari Senayan

25 September 2019
Diusir dari Kantor Polisi karena Pakai Sandal Jepit. Emang Ada Aturannya? terminal mojok.co

Bagaimana Polisi Seharusnya Menangani Aksi Demonstrasi

3 Oktober 2019
demonstrasi tolak omnibus law uu cipta kerja garut pt chang shan reksa jaya alasan buruh ikut aksi mojok.co

Bertanya Langsung Alasan Buruh Garut Ikut Demo Omnibus Law Cipta Kerja 

9 Oktober 2020
puan maharani dpr Pak RT mojok

3 Alasan Pak RT Saya Lebih Layak Jadi Ketua DPR RI

10 Oktober 2020
reformasidokorupsi polisi gembosi lemahkan mahasiswa pelajar video pengakuan kantor polisi polda metro jaya demonstrasi aksi mojok

Polisi Libatkan Orang Tua untuk Gembosi Gerakan Mahasiswa/Pelajar #ReformasiDikorupsi

28 April 2020
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Jogja Kombinasi Bunuh Diri Upah Rendah dan Kesepian

Beratnya Merantau di Jogja karena Harus Berjuang Melawan Gaji Rendah dan Rasa Kesepian

11 Januari 2026
Jalan Daendels Jogja Kebumen Makin Bahaya, Bikin Nelangsa (Unsplash)

Di Balik Kengeriannya, Jalan Daendels Menyimpan Keindahan-keindahan yang Hanya Bisa Kita Temukan di Sana

13 Januari 2026
Angka Pengangguran di Karawang Tinggi dan Menjadi ironi Industri (Unsplash) Malang

Warga Karawang Terlihat Santai dan Makmur karena UMK Sultan, padahal Sedang Berdarah-darah Dihajar Calo Pabrik dan Bank Emok

12 Januari 2026
Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

Pengendara dengan Refleks Terbaik Itu Ada di Malang, sebab Selalu Dilatih dengan Menghindari Jalanan Berlubang!

11 Januari 2026
Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg Mojok.co

Alasan Orang Luar Jogja Lebih Cocok Kulineran Bakmi Jawa daripada Gudeg

17 Januari 2026
Niatnya Hemat Kos Murah, Malah Dapat Kamar Bekas Aborsi (Unsplash)

Demi Hemat Ratusan Ribu, Rela Tinggal di Kos Murah yang Ternyata Bekas Aborsi

12 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri
  • Gotong Royong, Jalan Atasi Sampah Menumpuk di Banyak Titik Kota Semarang

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.