Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Gaya Hidup

Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik

Muhamad Iqbal Haqiqi oleh Muhamad Iqbal Haqiqi
3 Juli 2022
A A
Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik diet plastik

Ecobrick, Memberi Kesempatan Kedua pada Sampah Plastik (Pixabay.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Ecobrick adalah salah satu solusi mengurangi efek limbah plastik, sekaligus memberi kesempatan kedua pada sampah-sampah plastik

Buang sampah pada tempatnya atau jangan buang sampah sembarangan merupakan nasihat yang sering kita dengar. Namun untuk saat ini, nasihat itu dirasa kurang relevan, bahkan sudah tidak relevan.

Bila ditelaah secara lebih radikal, nasihat ini justru manifestasi dari sikap manusia yang hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikannya. Ini relevan karena buang sampah pada tempatnya malah menambah beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) apabila tidak ada kesadaran kolektif dalam diri manusia untuk mencoba menekan volume sampah yang digunakan. Maka dari itu, menurut saya, sampah dan buang, menjadi dua frasa yang sudah tidak semestinya selalu disandingkan dalam satu kalimat perintah.

Salah satu jenis sampah yang punya dampak serius bagi lingkungan dan manusia adalah sampah plastik. Masih ingat dengan viralnya bungkus Indomie yang tidak terurai maski sudah terombang ambing selama 19 tahun di lautan? Itu baru satu plastik yang naik ke permukaan. Tentunya masih ada plastic-plastik lain yang punya pengalaman terombang-ambing di laut lebih lama dari bungkus Indomie itu. Situasinya akan sangat mengkhawatirkan jika si plastik-plastik ini sampai ditelan oleh hewan-hewan laut seperti Ikan yang biasanya kita konsumsi.

Direktorat Pengelolaan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menyebutkan bahwa sampah plastik membutuhkan 20 hingga 500 tahun untuk terurai. Plastik macam sedotan es teh yang biasanya ada di warteg atau angkringan, itu paling cepat terurai setelah 20 tahun dibiarkan. Bayangkan bagaimana bumi begitu tersiksa dengan anasir-anasir macam plastik sampai puluhan hingga ratusan tahun.

Sampah plastik juga tidak boleh dibakar. Ketika membakarnya, tanpa disadari terjadi pelepasan sejumlah zat berbahaya ke udara, seperti karbon monoksida, dioksin dan furan, volatil, serta partikel lainnya. Zat-zat tersebut sangat rawan untuk tubuh manusia karena bila terpapar secara terus menerus, paparan zat tersebut dapat memicu tumbuhnya sel kanker. Tak hanya itu, hasil pembakaran tentunya mengandung emisi karbon dioksida yang berpotensi untuk menipiskan lapisan ozon.

Nah, kalau sudah begitu, apa yang harus dilakukan? Menyalahkan orang-orang yang menciptakan plastik? Tentu tidak kan. saya sendiri menyadari sepenuhnya bagaimana kehidupan manusia saat ini sulit lepas dari plastik, semua aspek kehidupan manusia saat ini banyak yang membutuhkan plastik, terutama pada kehidupan sosial dan ekonomi.

Ecobrick hadir menawarkan solusi dengan memberikan kesempatan kedua bagi sampah plastik untuk lebih dihargai dan bermanfaat. Secara bahasa, “eco” dan “brick” artinya bata ramah lingkungan. Disebut “bata” karena mulanya, ecobrick dibuat untuk menambah pasokan batu bata untuk pembuatan pondasi rumah. Ide ini dicetuskan oleh Russell Maier yang seorang warga Kanada bersama istrinya, Ani Himawati yang berasal dari Indonesia.

Baca Juga:

Ketika Ibu Rumah Tangga Bisa Membeli Rumah dari Mengumpulkan Sampah

Wajar Ada Orang yang Mau Keluar Duit Ratusan Juta demi Masuk Polisi, karena Polisi Amat Dihormati di Lingkungan, Tak Peduli Pangkatnya Apa

Pasangan suami istri ini sangat menyadari bahaya sampah plastik bagi kesehatan dan dampak buruknya terhadap lingkungan. Butuh proses panjang hingga keduanya berhasil menemukan metode paling efektif dan aman untuk mengurangi sampah plastik, yaitu ecobrick.

Ecobrick adalah botol plastik yang diisi padat dengan limbah plastik dengan standarisasi berupa berat, spesifikasi botol, dan plastik yang sudah diatur oleh badan pengembangan ecobrick dunia, yaitu Gobrick.

Cara membuatnya pun mudah. Kalian tinggal kumpulkan sebanyak mungkin sampah-sampah berbahan plastik seperti bungkus Indomie, snack, kantong plastik, sedotan. Cuci bersih dan keringkan plastik-plastik itu. Kemudian potong kecil-kecil dan masukan ke dalam botol Aqua atau sejenisnya. Tekan sampah plastik ke dalam botol menggunakan kayu bambu atau sejenisnya yang panjangnya berukuran 30 cm. Botol plastik yang digunakan biasanya berukuran 330 – 1500 ml dan membutuhkan plastik setengah hingga satu karung untuk satu botol. Ini untuk memastikan ecobrick bisa dihasilkan dengan padat dan kuat.

Sampah-sampah plastik di dalam ecobrick ini akan tersimpan sehingga tidak perlu dibakar, menggunung, atau tertimbun di TPA. Metode ecobrick memungkinkan kita untuk tidak menjadikan plastik menjadi bagian dari industrial recycle system yang dalam prosesnya sangat boros energi. Ecobrick juga menjaga bahan-bahan plastik tersebut untuk tidak melepaskan CO2 yang pada akhirnya akan menyumbang pemanasan global.

Setiap botol ecobrick yang sudah jadi dapat digunakan dan disusun sebagai pengganti batu bata untuk pembuatan rumah, sebagai bahan dasar untuk membangun gapura, kursi, bahkan taman. Di beberapa daerah, sudah mulai diinisiasi desa ecobrick dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara aktif.

Ecobrick adalah solusi, itu benar, tapi perlu menjadi gerakan nasional, terutama bagi masyarakat perkotaan karena menjadi penyumbang konsumsi plastik terbanyak. Malu dong sama orang desa, yang sudah banyak menginisiasi soal lingkungan padahal bukan menjadi penyumbang sampah plastik.

Mari mulai memberikan kesempatan kedua pada sampah plastik melalui ecobrick. Dengan ecobrick kita memiliki kesempatan untuk mengubah pengorbanan ekosistem dalam mencerna plastik. Kita dapat mengubah plastik menjadi bermanfaat bagi masyarakat dan ekosistem setempat. 

Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 3 Juli 2022 oleh

Tags: ecobrickkerusakanlimbahLingkunganSampah Plastik
Muhamad Iqbal Haqiqi

Muhamad Iqbal Haqiqi

Mahasiswa Magister Sains Ekonomi Islam UNAIR, suka ngomongin ekonomi, daerah, dan makanan.

ArtikelTerkait

deli serdang bandara kediri bandara adi soemarmo boyolali mojok

Dilema Proyek Bandara Kediri: Ekonomi Lancar, tapi Lingkungan Jadi Ambyar

10 Juni 2021
Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia Terminal mojok

Galon Sekali Pakai, Efektif Tingkatkan Sampah Plastik di Indonesia

11 Februari 2021
promo

Diet Plastik Memang Baik, Tapi Godaan Promo GoFood dan GrabFood Susah Dilawan!

15 Oktober 2019
Masalah yang Menyertai Peternakan Babi di Boyolali: Limbah yang Tidak Diolah Maksimal, serta Masalah Lain yang Sama Peliknya

Masalah yang Menyertai Peternakan Babi di Boyolali: Limbah yang Tidak Diolah Maksimal, serta Masalah Lain yang Sama Peliknya

10 Januari 2025
Wajar Ada Orang yang Mau Keluar Duit Ratusan Juta demi Masuk Polisi, karena Polisi Amat Dihormati di Lingkungan, Tak Peduli Pangkatnya Apa

Wajar Ada Orang yang Mau Keluar Duit Ratusan Juta demi Masuk Polisi, karena Polisi Amat Dihormati di Lingkungan, Tak Peduli Pangkatnya Apa

11 Januari 2025
Dilema Pabrik di Purbalingga: Meningkatkan Kesejahteraan, Menghajar Lingkungan

Dilema Pabrik di Purbalingga: Meningkatkan Kesejahteraan, Menghajar Lingkungan

1 November 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan Mojok.co

Gerbong KRL Khusus Perempuan Malah Nggak Aman untuk Perempuan

6 Februari 2026
Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib Mojok.co

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

1 Februari 2026
4 Menu Mie Gacoan yang Rasanya Gagal, Jangan Dibeli kalau Nggak Mau Menyesal seperti Saya

Tips Makan Mie Gacoan: Datanglah Pas Pagi Hari, Dijamin Rasanya Pasti Enak dan Nggak Akan Kecewa

1 Februari 2026
Aturan Kereta Api Bikin Bingung- Bule Tenggak Miras Dibiarkan (Unsplash)

Pengalaman Naik Kereta Api Segerbong dengan Bule yang Membawa Miras Membuat Saya Mempertanyakan Larangan Ini

5 Februari 2026
Harga Nuthuk di Jogja Saat Liburan Bukan Hanya Milik Wisatawan, Warga Lokal pun Kena Getahnya

Saya Memutuskan Pindah dari Jogja Setelah Belasan Tahun Tinggal, karena Kota Ini Mahalnya Makin Nggak Ngotak

3 Februari 2026
Petaka Terbesar Kampus- Dosen Menjadi Joki Skripsi (Pixabay)

Normalisasi Joki Skripsi Adalah Bukti Bahwa Pendidikan Kita Memang Transaksional: Kampus Jual Gelar, Mahasiswa Beli Kelulusan

4 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Ironi TKI di Rembang dan Pati: Bangun Rumah Besar di Desa tapi Tak Dihuni, Karena Harus Terus Kerja di Luar Negeri demi Gengsi
  • Self Reward Bikin Dompet Anak Muda Tipis, Tapi Sering Dianggap sebagai Keharusan
  • Gen Z Pilih Merantau dan Tinggalkan Ortu karena Rumah Cuma Menguras Mental dan Finansial
  • Lasem Lebih Terkenal daripada Rembang tapi Hanya Cocok untuk Wisata, Tidak sebagai Tempat Tinggal
  • Mahasiswa KIP Kuliah Pertama Kali Makan di AYCE: Mabuk Daging tapi Nelangsa, Kenyang Sesaat untuk Lapar Seterusnya
  • Ormas Islam Sepakat Soal Board of Peace: Hilangnya Suara Milenial dan Gen Z oleh Baby Boomers

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.