Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Nusantara

Duka di Balik Gemerlap Toko Kelontong Madura

Abd. Muhaimin oleh Abd. Muhaimin
5 Februari 2023
A A
67 kosakata bahasa madura

Karapan Sapi di Madura. (Dani Daniar via Shutterstock.com)

Share on FacebookShare on Twitter

Pekan lalu, toko kelontong Madura kembali ramai diperbincangkan setelah akun Instagram Habib Husein Jafar Al-Hadar mengunggah foto belio sendiri yang sedang berada di balik etalase toko kelontong Madura, tentunya dengan pom mini khas di depannya. Lantas konten tersebut banyak dikomen, di-share dan di-repost, setelah disusul dengan konten video belio dengan tema yang sama.

Rekam kesuksesan, kegigihan, maupun keunikan orang Madura telah banyak dimunculkan dengan video dan tulisan (baik tentang solidaritas tanpa batas mereka bahkan hingga watak keras yang menjadi stigma). Tapi, tahukah kleyan, man-teman, bahwa di balik manis gula yang mereka cecap, ada asam garam yang mereka telan. Saya sebagai orang Madura tulen sedikit tahu mengapa mereka memilih mengadu nasib di perantauan.

Minim pendidikan

Maksud saya dengan pendidikan di sini adalah pendidikan umum, bukan (ilmu keagamaan) pesantren, yang dalam realitasnya banyak lapangan pekerjaan membutuhkan latar pendidikan sebagaimana yang saya maksud. Seperti Manajemen, Ilmu Komunikasi, Ekonomi, Ilmu Hukum Dan Politik, dll.

Meskipun tidak dapat dimungkiri bahwa saat ini sudah banyak perguruan tinggi yang berdiri, khususnya di Sumenep semisal Instika, STKIP PGRI, Wiraraja, dan yang terbaru Uniba, serta beberapa yang tak begitu dikenal. Namun, adanya fasilitas pendidikan tersebut tidak terlalu membantu terhadap perkembangan Pendidikan di Madura, meski tidak mutlak semuanya.

Biaya pendidikan yang mahal, sedang orang tua tidak mampu membiayai, menjadikan para generasi muda Madura memilih bekerja saja daripada melanjutkan sekolah. Ditambah lagi muncul statement yang mengatakan, “Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika akhirnya jadi nelayan dan petani?” Ini memang nyata dan fakta, bahwa sarjana muda di Madura akhir-akhir ini malah bingung mau kerja apa. Dan merantau adalah pilihan praktis dan ekonomis untuk menghindari hal itu.

Dalam ini, saya sedikit mengusulkan kepada pelbagai lembaga pemberi beasiswa untuk selektif lagi memilih para awardee-nya, terlebih kepada mereka yang tidak mampu dalam hal biaya. Semisal LPDP yang memiliki program beasiswa afirmasi, setidaknya Madura dimasukkan lah kepada wilayah yang bisa mendapat beasiswa tersebut. Atau supaya tak difitnah membawa kepentingan pribadi, saya usulkan juga daerah lain dengan problem serupa yang wajib dicek ulang oleh pengelola Lembaga LPDP. Akhem.

Sosial dan budaya

Selain pendidikan yang minim, baik dalam segi biaya atau mindset berpikir, faktor lain yang membuat orang Madura memilih hidup di tanah rantau adalah sosial dan budaya. Pertama, secara sosial orang Madura mulai dirasuki gaya hidup yang tinggi. Tentunya, perkembangan pesat teknologi informasi dan (katanya) imbas dari dibangunnya Jembatan Suramadu menjadi alasan inti.

Lagi-lagi ini imbasnya kepada generasi muda Madura. Mayoritas mereka mulai enggan lagi bertani, melaut, atau menjadi kuli di tanah sendiri. Teman-teman sekelas saya banyak yang langsung gas berangkat ke Malaysia, Arab Saudi, Jakarta, Bali dll. Katanya dengan bekerja di kota besar, meskipun toh sama-sama menjadi kuli, penjaga toko klontong, tukang sate, tukang sapu jalanan, penghasilannya lebih menjanjikan daripada di Madura. Mereka biasanya mengambil 3 hingga 5 tahun sebelum akhirnya kembali ke kampung halaman; dan tidak lama setelah itu mereka akan kembali lagi ke tanah rantau sebab uang yang dikumpulkan sudah habis, dan terus begitu berulang-ulang.

Baca Juga:

13 Kosakata Bahasa Madura Paling “Menjebak” dan Perlu Diperhatikan Pendatang yang Baru Belajar

Di Sumenep Tidak Terjadi Invasi Barbershop, Diinjak-injak Sama Pangkas Rambut Tradisional

Untuk kalangan tua juga tak ketinggalan, biasanya alasan mereka sepele, “Agar sama seperti tetangga-tetangga yang hidupnya kaya.” Mungkin ini sebagian kecil, tapi sungguh ini benar-benar ada. Saya sendiri pernah mendengarnya. Meski setelah tulisan ini rampung, saya tidak menyempatkan diri untuk mencari artikel penelitian tentang gengsi orang Madura, setidaknya orang-orang jenis ini di daerah-daerah lain pun juga ada.

Kedua, dari segi budaya atau tradisi. Di Sumenep ada satu desa yang mayoritas penduduknya bekerja di Bali, tradisi tersebut diturunkan ke anak-anak mereka. Meski mereka hanya bekerja di perusahaan ayam potong, tapi penghasilan mereka lumayan tinggi. Saya beberapa kali menyambangi daerah tersebut, ada teman yang tinggal di sana. Rumah-rumah penduduk sudah bak perumahan elit di Jakarta, bertingkat-tingkat dan mewah. Tapi, jika kalian pergi ke sana tak banyak kalian jumpai muda-mudi hingga dewasa, yang ada hanya orang-orang sepuh yang lanjut usia. Sepi. Sebagian besar penduduknya memilih menetap di Bali.

“Ye, beremma pole, Cong!”

Untuk yang terakhir ini, saya sudah sentil sedikit sebelumnya, yaitu tentang gengsi orang Madura. Manusia memiliki kecenderungan ingin diakui oleh kelompoknya, berbagai hal bisa dilakukan untuk kepentingan itu. Bahkan ia rela berkorban biaya dan tenaga agar dicap sama dan tak dikucilkan sesama. Akhirnya, karena tidak ada biaya yang mendukung, mereka rela berutang entah berapa jumlahnya, yang penting mereka bisa eksis dan narsis.

Di kemudian hari mereka akan menyesal dan kelimpungan untuk mengembalikan utang yang sudah menumpuk itu, maka merantau menjadi solusi cepat mereka.

Selain masalah gengsi juga ada yang memang murni tidak mampu; baik karena bangkrut atau hasil panen yang begitu di luar ekspektasi. Sedikit demi sedikit mereka memberanikan diri berutang kepada kerabat atau tetangga mereka. Dan ujung-ujungnya bakal merantau juga untuk menutupi lubang-lubang utang yang menganga.

Beberapa waktu lalu, saya bertanya kepada tetangga mengapa memilih bekerja di luar pulau sedang di sini masih banyak hal yang bisa dibuat pekerjaan dan menghasilkan uang. Tapi, dengan selega perut mereka menjawab, “Ye, beremma pole, Cong! Otang la bannyak. Atanih malolo tak cokop.” (ya, mau bagaimana lagi, Nak! Utang sudah banyak. Mau Bertani tidaklah cukup).

Jawaban tersebut terdengar enteng dan asal jawab. Tapi jika ditelisik lebih jauh, ada makna yang tersirat begitu dalam. Di balik kejamnya hidup yang kadang memerihkan hati, ada sikap berani bertindak dan menerima dengan lapang dada terhadap segala konsekuensi yang bakal mereka tanggung. Dan sifat berani, gigih, prinsip teguh dan tidak kenal kata menyerah itulah yang kadang disalah persepsikan dengan sifat keras nan kasar orang Madura.

Salam settong dhere!

Penulis: Abd. Muhaimin
Editor: Rizky Prasetya

BACA JUGA 4 Alasan Orang Madura Bakal Sulit Betah di Singapura

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.
Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok di sini.

Terakhir diperbarui pada 5 Februari 2023 oleh

Tags: kesuksesanmaduraPendidikanperantauUtang
Abd. Muhaimin

Abd. Muhaimin

Alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Magister Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir. Bekerja di Penerbit Erlangga. Asli Sumenep, pemerhati isu sosial dan mahasiswa.

ArtikelTerkait

Guru Honorer Tetap Mengajar dengan Gaji Kecil Bukanlah Pengabdian, Itu Terjebak Keadaan Mojok.co

Guru Honorer Tetap Mengajar dengan Gaji Kecil Bukanlah Pengabdian, Itu Terjebak Keadaan

8 Desember 2023
6 Kuliner Madura yang Cocok untuk Dijadikan Oleh-oleh Terminal Mojok

6 Kuliner Madura yang Cocok Dijadikan Oleh-oleh

7 September 2022
Culture Shock Orang Jogja Saat Merantau ke Surabaya

Culture Shock Orang Jogja Saat Merantau ke Surabaya: Salah Saya Apa kok Dipisuhi Cak Cuk Terus?

5 September 2023
Sentra IKM Bangkalan Madura Proyek Gagal Total, Kalah sama Rest Area BUMDes Burneh

Sentra IKM Bangkalan Madura Proyek Gagal Total, Kalah sama Rest Area BUMDes Burneh

15 September 2024
Harvest Moon Mengajarkan bahwa Kesuksesan Berawal dari Warisan

Harvest Moon Mengajarkan bahwa Kesuksesan Berawal dari Warisan

9 Januari 2023
6 Barang yang Saya Harap Warung Madura Menjualnya Mojok.co

6 Barang yang Seharusnya Dijual Warung Madura

24 Mei 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Julukan “Blok M-nya Purwokerto” bagi Kebondalem Cuma Bikin Purwokerto Terlihat Minder dan Tunduk pada Jakarta

Purwokerto Memang Kota Wisata, tapi Wisatawan Tak Diberi Petunjuk dan Dibiarkan Bingung Mau ke Mana

5 Februari 2026
Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh Mojok.co

Rangka Ringkih Honda Vario 160 “Membunuh” Performa Mesin yang Ampuh

4 Februari 2026
Alun-Alun Jember Nusantara yang Rusak (Lagi) Nggak Melulu Salah Warga, Ada Persoalan Lebih Besar di Baliknya Mojok.co

Jember Gagal Total Jadi Kota Wisata: Pemimpinnya Sibuk Pencitraan, Pengelolaan Wisatanya Amburadul Nggak Karuan 

6 Februari 2026
Banting Setir dari Jurusan Manajemen Jadi Guru PAUD, Dianggap Aneh dan Nggak Punya Masa Depan Mojok.co jurusan pgpaud

Jurusan PGPAUD, Jurusan yang Sering Dikira Tidak Punya Masa Depan

5 Februari 2026
Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau Mojok.co

Batik Air Maskapai Red Flag: Delay Berjam-jam, Kompensasi Tak Layak, dan Informasinya Kacau

5 Februari 2026
Video Tukang Parkir Geledah Dasbor Motor di Parkiran Matos Malang Adalah Contoh Terbaik Betapa Problematik Profesi Ini parkir kampus tukang parkir resmi mawar preman pensiun tukang parkir kafe di malang surabaya, tukang parkir liar lahan parkir pak ogah

3 Perilaku Tukang Parkir dan Pak Ogah yang Bikin Saya Ikhlas Ngasih Duit 2000-an Saya yang Berharga

5 Februari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Lawson Slamet Riyadi Solo dan Sekutu Kopi: Jadi Tempat Ngopi, Jeda selepas Lari, dan Ruang Berbincang Hangat
  • Rayakan 20 Tahun Asmara, Ruzan & Vita Rilis Video Klip “Rayuanmu” yang Bernuansa Romansa SMA. Tayang di Hari Valentine!
  • Nasi Bekal Ibu untuk Saya yang Balik ke Perantauan adalah Makanan Paling Nikmat sekaligus Menguras Air Mata
  • Media Online Tak Seharusnya Anxiety pada AI dan Algoritma 
  • Pengangguran Mati-matian Cari Kerja, Selebritas Jadikan #OpenToWork Ajang Coba-coba
  • Orang Nggak Mau Dijuluki “Sinefil” karena Tahu Itu Ejekan, tapi Tetap Banyak yang Mengaku “Si Paling Film”

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.