Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Featured

Dosen yang Mengagungkan Jurnal Ilmiah Itu Motivasinya Apa sih?

Sahyul Pahmi oleh Sahyul Pahmi
21 Januari 2020
A A
Dosen yang Mengagungkan Jurnal Ilmiah Itu Motivasinya Apa sih?
Share on FacebookShare on Twitter

Berawal dari keprihatinan saya melihat akun medsos dosen-dosen (setidaknya dosen-dosen saya sendiri) yang rutinitasnya hanya membagikan link-link dan video-video. Sayangnya link yang di-share itu nggak jelas situs dan channelnya, dan kadang tidak sesuai dengan disiplin keilmuannya.

Tidakkah bisa dosen-dosen menulis di beranda medsosnya cukup sesuai kepakarannya? Atau tidakkah mampu dosen-dosen menyusun argumentasi sesuai konsentrasi ilmu yang lebih populer agar mudah dipahami jamaah medsos?

Ketika saya menanyakan hal tersebut, dosen-dosen berujar sedemikian ilmiahnya (baginya), “Saya fokusnya di jurnal, sebab jurnal jelas lembaganya, ada ISSN-nya isinya juga adalah hasil penelitian yang bisa dibuktikan keilmiahannya, kalau medsos kan hanya wadah bersosial di dunia maya.”

Saya garis bawahi kata dosen tersebut, “Kalau sosmed kan hanya wadah bersosial di dunia maya.” Setelah saya garis bawahi, saya coret dan menghapusnya dan menggantinya dengan pernyataan, “Zaman bergerak cepat, tapi cara berpikir masih mandek di situ-situ saja.”

Dari pengalaman saya membuat, mengolah, dan mengadmini berbagai jurnal ilmiah di banyak kampus di Makassar, rata-rata publikasi hasil penelitiannya terbit setiap 6 bulan. Artinya publikasi ilmiah di jurnal hanya 2 kali dalam setahun, belum lagi jika melihat data rendahnya motivasi dosen dalam melakukan penelitian.

Bukan karena saya tidak mendukung adanya publikasi ilmiah di jurnal, akan tetapi, yang harus dipahami terlebih dahulu bahwa sejauh mana hasil-hasil penelitian berdampak besar bagi kehidupan masyarakat? Padahal semua jurnal ilmiah dinaungi oleh lembaga penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Jika boleh saya suuzan kepada publikasi ilmiah tersebut, ia hanyalah sekadar pengguguran salah satu syarat administratif meraih jabatan akademik yang lebih tinggi.

Berarti hasil-hasil penelitian yang dipublikasi di jurnal hanya berputar-putar sampai pusing di lingkup akademik sendiri. Dan mirisnya banyak, kalau tidak bisa disebut banyak sekali mahasiswa yang tidak tahu alamat web jurnal kampusnya sendiri. Mahasiswa saja tidak tahu, apalagi masyarakat. Padahal tujuan suci dari adanya suatu publikasi penelitian ilmiah agar kehidupan masyarakat bisa maju, dan terus berkembang. Cari saja datanya di Google bahwa tak ada negara maju yang tidak berbanding lurus dengan publikasi penelitian ilmiah di kampus-kampusnya yang bisa diimplementasikan dalam masyarakatnya.

Jadi ntahalah apa motivasi dosen yang mengagungkan bukan agung sejagad itu yah, jurnal ilmiah di era 4.0 sekarang ini.

Baca Juga:

Jadi Dosen Setelah Lulus S2 Itu Banyak Menderitanya, tapi Saya Tidak Menyesal

Kritik untuk Kampus: Menulis Jurnal Itu Harusnya Pilihan, Bukan Paksaan!

Padahal, jika dianalisa lebih jauh, sejauh pengalaman saya mengelola web jurnal ilmiah bahwa algortima yang digunakan Google saat ini (karena Googel masih menjadi mesin pencari yang lebih dominan digunakan masyarakat Indonesia), tidak akan mampu mengindex dengan sempurna publikasi-publikasi ilmiah yang ada di jurnal sesuai query-query yang dicari masyarakat di Googel. Kalaupun ada, hanya sedikit bahkan sangat sedikit dan sedikit itu hanya diperoleh oleh jurnal-jurnal ilmiah kampus-kampus besar di Indonesia yang masa terbit jurnalnya lebih sering dalam setahun.

Hal itu terjadi karena web-web jurnal ilmiah memakai CMS Open Journal System yang pada setiap current issue-nya tidak bisa dioptimasi untuk dilakukan teknik SEO onfage maupun offpage. Belum lagi tidak bisa dilakuan SEO gambar serta building link sesuai query yang ditarget. Adapun pengindexan yang bisa Google lakukan hanya bagian judul dan kata kunci yang berada pada abstrak setiap current issue di web jurnal ilmiah.

Verifikasi search console Google agar bisa mengimput peta situs pun tak bisa dilakuan, open grafh share social media juga tak bisa dilakuan, karena itulah terkadang ketika membagikan link edisi jurnal ilmiah hanya akan menampilkan thumbnail logo dari jurnalnya. Bukannya menampilkan cover edisi dari jurnal ilmiah. Dan tak jarang, link-nya ketika di-share hanya tampil notifikasi link rusak.

Sedangkan masyarakat luas, ketika ingin mendapatkan informasi atau wawasan dewasa ini, mereka menghadap kepada Mbah Gugel. Jadi tak ada informasi atau wawasan yang masyarakat dapatkan dari hasil penelitian dosen-dosen tercinta, sebab jurnal ilmiah tidak terindex secara sempurna. Sebab yang mendominasi pencarian query-query hanyalah dari web yang ber-CMS Wordpres yang memakai self hosting dan sudah dioptimasi jurus-jurus SEO termutakhir.

Oleh karena itu tak perlu terlalu mengagungkan jurnal ilmiah, sebab nggak akan diindex dengan sempurna oleh Google. Walaupun ia memakai CMS Open Journal System yang merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan ISSN dan akreditasi. Tapi apalah arti ISSN dan akreditasi jika hasil penelitian yang dosen lakukan tidak berdampak sedikit maupun banyak bagi kehidupan masyarakat.

Lebih baik dosen-dosen ketika telah melakukan penelitian dan mempublikasikan hasilnya di jurnal ilmiah, buatlah juga ringkasannya untuk ditulis di beranda-beranda medsos dengan bahasa yang lebih populer atau mudah dipahami oleh masyarakat banyak. Supaya ekosistem permedia sosialan Indonesia juga sehat. Atau kalau mau, gabung jadi jamaah Mojokiyah, nulis aja di Terminal Mojok. Pasalnya, peringkat Alexa Mojok selalu ramping dan seksi..

Selamat berbahagia, MyLov~

BACA JUGA Maha Benar Dosen dengan Segala Ketelatannya atau tulisan Sahyul Pahmi lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 21 Januari 2020 oleh

Tags: Dosenjurnal ilmiahPenelitian
Sahyul Pahmi

Sahyul Pahmi

Bukan siapa-siapa hanya seseorang yang ingin menjadi kenangan, dan saat ini masih belajar menjadi manusia,

ArtikelTerkait

Dosen Numpang Nama di Jurnal, Vampir Akademik Pengisap Darah Mahasiswa yang Banting Badan demi Kelulusan

Dosen Indonesia Itu Bukan Peneliti, tapi Buruh Laporan yang Kebetulan Punya Jadwal Ngajar

6 Januari 2026
Lulus S2 dan Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, padahal Peluang Jadi Akademisi di Surabaya Nggak Kalah Menarik Mojok.co

Lulusan S2 Masih Dituntut Merantau ke Jakarta oleh Keluarga, Seolah-olah Nggak Ada Harapan Jadi Akademisi di Surabaya

10 Maret 2026
PDKT riset asisten riset mojok

Balada Asisten Riset: Pulang Malu, Tak Pulang Rindu

18 Oktober 2020
Skripsi Molor Bukan Sepenuhnya Salah Mahasiswa, Dosen Juga Terlibat kesalahan dosen terminal mojok.co

Derasnya Polemik Jual Beli Skripsi yang Awet Terus, Payung Hukum ke Mana?

28 Oktober 2019
5 Situs Penyedia Jurnal Ilmiah Gratis yang Wajib Diketahui Pejuang Skripsi terminal mojok.co

5 Situs Penyedia Jurnal Ilmiah Gratis yang Wajib Diketahui Pejuang Skripsi

27 Januari 2022
Dosen Bukan Dewa, tapi Cuma di Indonesia Mereka Disembah

Dosen Perlu Belajar dari Aktivis Kampus, Masa Sudah Jadi Dosen Public Speaking-nya Masih Jelek?

29 Desember 2025
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan Mojok.co

Dear Produser Film “Aku Harus Mati”, Taktik Promosi Kalian Itu Ngawur Bikin Resah Pengguna Jalan

5 April 2026
4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman Mojok.co

4 Alasan yang Bikin User Kereta Api Berpaling ke Bus AKAP, Gratis Makan dan Lebih Aman

7 April 2026
Mobil Honda Mobilio, Mobil Murah Underrated Melebihi Avanza (Unsplash)

Kaki-kaki Mobil Honda Tidak Ringkih, Jalanan Indonesia Saja yang Kelewat Kejam!

5 April 2026
Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

Bus Jaya Utama Indo: Bus Patas Termahal di Jalur Pantura, Nyamannya Tak Seistimewa Harganya, tapi Tetap Layak Disyukuri

8 April 2026
Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Merasa Lebih Dihargai daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” selama Bertahun-tahun Mojok.co

Sarjana Keguruan Pilih Jadi TKW di Taiwan, Lebih Menjanjikan daripada Jadi Guru Honorer dengan Gaji “Imut” Selama Bertahun-tahun

9 April 2026
Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

Stop Menjadikan Kerak Telor Sebagai Ikon Kuliner Betawi karena Memang Tidak Layak dan Terkesan Eksklusif

9 April 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ONHNlaDcbak

Liputan dan Esai

  • Resign Kerja di Jakarta untuk Rehat di Jogja, Menyesal karena Hidup Tak Sesuai Ekspektasi dan Malah Kena Mental
  • Nasi Padang Rp13 Ribu di Jogja Lebih Nikmat dan Otentik daripada Yang Menang Mahal, tapi Rasanya Manis
  • Tinggalkan Pekerjaan Gaji Puluhan Juta demi Merawat Ibu di Desa, Dihina Tetangga tapi Tetap Bahagia
  • #NgobroldiMeta: Upaya AMSI dan Meta Bekali Media untuk Produksi Jurnalisme Berkualitas di Era AI
  • Bangun Rumah Istana di Grobogan Gara-gara Sinetron, Berujung Menyesal karena Keadaan Aneh dan Merepotkan
  • Meminta Dosen-Mahasiswa Jalan Kaki ke Kampus ala Eropa: Antara Visi Elite dan Realitas yang Sulit

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.