Waktu masih semester awal, tepatnya sekitar semester tiga, saya pernah mengalami satu pengalaman akademik yang sampai sekarang masih membekas. Ada seorang dosen yang sangat antusias bahkan cenderung ambisius dalam mendorong mahasiswanya untuk melakukan publikasi jurnal.
Secara konsep, dorongan ini terdengar sangat ideal. Publikasi identik dengan kualitas akademik, reputasi ilmiah, dan prestise institusi. Namun di balik narasi besar itu, ada satu realita yang sering luput dibicarakan secara terbuka tentang biaya dan kesiapan mahasiswa.
Sebagai mahasiswa semester tiga, saya berada pada fase transisi. Kami baru mulai mengenal metodologi penelitian, belajar menulis akademik dengan struktur yang benar, serta memahami etika ilmiah secara mendasar. Menulis artikel ilmiah saja masih terasa berat, apalagi harus memahami proses publikasi yang panjang dan kompleks mulai dari submit, review, revisi berulang, hingga akhirnya artikel dinyatakan layak terbit.
Namun pada saat yang sama, kami sudah diminta untuk melakukan publikasi jurnal dengan alasan “untuk kebutuhan nilai”.
Publikasi jurnal itu tidak murah, sama sekali tidak
Saya mulai mempertanyakan arah kebijakan tersebut. Publikasi jurnal terutama di jurnal berbayar bukanlah sesuatu yang murah. Biayanya bisa mencapai ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Bagi mahasiswa, nominal ini bukan sekadar angka. Itu adalah uang makan satu bulan, biaya kos, ongkos transportasi, atau bahkan kiriman orang tua yang jumlahnya terbatas. Idealisme akademik yang seharusnya murni justru berbenturan langsung dengan kondisi ekonomi mahasiswa.
Situasi menjadi semakin ganjil ketika dosen tersebut juga meminta namanya untuk menjadi penulis pertama. Di atas kertas, ini terlihat menguntungkan bagi dosen tersebut karena mahasiswa yang harus mengeluarkan biaya serta secara substansi, harusnya menjadi penulis pertama berarti bertanggung jawab penuh atas isi artikel, metodologi, validitas data, hingga etika publikasi. Sedangkan dosen tersebut hanya menyuruh mahasiswanya tanpa adanya kontribusi.
Untuk mahasiswa semester awal, tuntutan ini jelas tidak sebanding dengan kapasitas dan pengalaman yang dimiliki.
Sebagai mahasiswa, saya berada dalam posisi yang serba sulit. Menolak berarti ada rasa takut nilai akan terpengaruh atau dianggap tidak kooperatif. Mengikuti berarti harus siap menanggung beban biaya, tekanan akademik, dan tanggung jawab ilmiah yang belum sepenuhnya dipahami. Akhirnya, banyak mahasiswa yang memilih ikut bukan karena siap, tetapi karena terpaksa. Publikasi pun berubah menjadi target administratif, bukan lagi sarana pembelajaran ilmiah yang sehat.
Proses harusnya tetap yang jadi utama
Padahal, jika ditarik ke hakikat pendidikan tinggi, proses belajar seharusnya lebih diutamakan daripada hasil instan. Mahasiswa seharusnya dibimbing untuk memahami logika penelitian, membangun cara berpikir kritis, dan menguasai teknik penulisan ilmiah secara bertahap. Ketika publikasi dijadikan syarat nilai di semester awal, ada risiko besar lahirnya budaya asal jadi, sekadar memenuhi kewajiban tanpa pemahaman yang utuh.
Dorongan publikasi ini sering dibungkus dengan narasi “demi masa depan mahasiswa”. Saya tidak menampik bahwa publikasi jurnal memang penting untuk rekam jejak akademik, terutama bagi mereka yang ingin melanjutkan studi atau berkarier di dunia riset. Namun konteks dan timing tetap menjadi kunci. Mahasiswa semester tiga masih berada pada tahap membangun fondasi, bukan pada tahap menunjukkan output akademik tingkat lanjut.
BACA JUGA: Pengalaman Publikasi Artikel di Jurnal Ilmiah: Ternyata Ada Sisi Gelapnya!
Di sisi lain, saya juga memahami bahwa dosen hidup dalam sistem yang menuntut produktivitas. Publikasi jurnal menjadi salah satu indikator kinerja dosen dan institusi. Tekanan sistemik ini nyata. Namun persoalannya muncul ketika beban tersebut dialihkan kepada mahasiswa tanpa dukungan yang memadai, baik dalam bentuk pendampingan intensif maupun bantuan finansial. Yang terjadi bukan kolaborasi, melainkan ketimpangan relasi akademik.
Setahu saya, kebijakan publikasi ilmiah di banyak perguruan tinggi sejatinya dirancang sebagai alternatif pengganti skripsi, bukan sebagai kewajiban di semester awal atau alat pemenuhan nilai mata kuliah. Publikasi seharusnya menjadi opsi bagi mahasiswa yang sudah siap secara akademik, bukan kewajiban massal yang diterapkan tanpa melihat kesiapan individu.
Harus adil!
Jika kampus memang ingin mendorong budaya publikasi sejak dini, maka tanggung jawabnya juga harus dibagi secara adil. Kampus perlu menyediakan jurnal internal gratis, skema subsidi biaya publikasi, hibah penelitian mahasiswa, serta pendampingan metodologis yang intensif. Tanpa itu semua, dorongan publikasi hanya akan menjadi beban tambahan yang tidak proporsional.
Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa tidak semua kebijakan yang terdengar akademis otomatis berpihak pada mahasiswa. Publikasi jurnal memang penting, tetapi waktu, metode, dan bebannya harus disesuaikan dengan tahap perkembangan akademik mahasiswa. Jangan sampai semangat meningkatkan reputasi institusi justru mengorbankan kesehatan mental dan stabilitas finansial mahasiswa.
Sebagai mahasiswa, saya tidak menolak publikasi. Saya justru melihat publikasi sebagai tujuan akademik yang baik jika ditempatkan pada waktu yang tepat. Namun publikasi seharusnya lahir dari kesiapan, bukan paksaan. Dari pemahaman, bukan ketakutan akan nilai. Dari proses belajar yang matang, bukan dari tekanan sistem.
Penulis: Intan Permata Putri
Editor: Rizky Prasetya
BACA JUGA Publikasi Artikel: Saya yang Begadang, Dosen yang Dapat Nama
Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




















