Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Pojok Tubir

Dokter Tirta Harus Tahu bahwa Pemberantasan Narkoba ala Duterte Sebenarnya Gagal Total

Raynal Payuk oleh Raynal Payuk
25 September 2021
A A
coki pardede narkoba KPI pengalihan isu mojok

coki pardede narkoba KPI pengalihan isu mojok

Share on FacebookShare on Twitter

Saat bicara soal kebijakan terhadap masalah narkoba, kita tentunya tidak hanya bisa melihatnya dari satu aspek saja. Mulai dari aspek hukum, sosiologi, ekonomi, dan tentunya kesehatan, menjadi bagian tidak terpisahkan saat berbicara mengenai kebijakan mengatasi permasalahan penyalahgunaan narkotika. Namun sering kali, banyak pejabat publik memilih hanya melihat permasalahan ini dari perspektif keamanan dan pidana saja. Seolah-olah masalah penggunaan narkoba bakal hilang jika hanya menggunakan pendekatan militeristis atau akrab disebut War on Drugs.

Saat seorang dokter merangkap influencer hadir di salah satu diskusi BNN dan memuji metode pemberantasan narkoba ala War on Drugs, saya cuma bisa mengernyitkan dahi. Ya, saya bicara soal pernyataan Dokter Tirta di salah satu diskusi BNN yang berakhir dengan pujian kepada kebijakan War on Drugs Presiden Filipina Rodrigo Duterte. Dokter Tirta menyatakan bahwa jika kita mengikuti kebijakan ala Duterte, maka masalah narkoba bakal hilang sendiri setelah 20-30 tahun.

Bagi yang kurang familiar, Presiden Duterte dari Filipina terkenal akan kebijakan militeristiknya terhadap permasalahan narkoba. Sudah beberapa kali, Presiden Duterte di hadapan publik blak-blakan bahwa dia tidak segan untuk memerintahkan kepolisian langsung menembak di tempat tersangka narkoba. Sejak Duterte berkuasa, banyak LSM hingga Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) sudah mengindikasikan terjadi pelanggaran hak asasi manusia dalam kebijakan War on Drugs Duterte. Terutama terkait pembunuhan extrajudicial atau eksekusi yang dilakukan tanpa putusan pengadilan oleh kepolisian Filipina.

Tentunya kebijakan populis Duterte bisa dibilang salah satu alasan dia terpilih menjadi Presiden Filipina di saat pertama. Duterte berhasil mengalihkan perhatian dari berbagai permasalahan yang dimiliki Filipina mulai dari kemiskinan, konflik agraria, hingga konflik militer dengan kelompok pemberontak di Mindanao, dan memfokuskannya kepada perang terhadap narkoba. Kebijakan populis Duterte yang seolah-olah bisa menjawab permasalahan kriminalitas di Filipina dalam sekejap membuat banyak yang lupa akan pentingnya rule of law.

Ada alasan mengapa polisi tidak diberi kewenangan layaknya di komik Judge Dredd, di mana mereka menjadi penyelidik, penyidik, jaksa, dan hakim sekaligus. Alasannya adalah agar terdapat pengawasan antara satu kekuasaan pemerintah dengan pemerintah lainnya dalam menegakkan hukum. Bahwa hukuman hanya dijatuhkan setelah melalui pemeriksaan pengadilan berdasarkan bukti yang kuat. Apa bedanya polisi dengan massa jalanan kalau mereka bisa main tembak orang yang diduga penjahat?

Namun, masalah lebih besar dari sekadar hancurnya rule of law di Filipina adalah kebohongan yang diucapkan Duterte bahwa kebijakan War on Drugs-nya itu efektif. Pada awal pemerintahannya, dia mengklaim bisa memberantas narkoba dalam enam bulan. Namun setelah enam bulan, dia meminta enam bulan lagi untuk melanjutkan perang melawan narkobanya. Akhirnya dia mengklaim bahwa perang bakal terus berlanjut hingga akhir masa jabatannya. Sekarang Duterte malah mau mencalonkan diri jadi Wakil Presiden untuk mengakali batasan periode jabatan Presiden di konstitusi Filipina

Jadi kapan narkoba benar-benar hilang di Filipina? Data dari Badan Narkotika Filipina sendiri malah menunjukkan bahwa harga sabu-sabu turun drastis selama pemerintahan Duterte. Kalian yang mengerti teori ekonomi dasar pasti sudah tahu, bahwa harga selalu dipengaruhi permintaan dan produksi. Jika harga turun, artinya produksi sabu-sabu di pasaran malahan meningkat.

Sejarah pun sudah mencatatkan bahwa War on Drugs adalah kebijakan gagal. Istilah War on Drugs sendiri pertama dicanangkan oleh Presiden Richard Nixon dan dipopulerkan oleh Presiden Ronald Reagan untuk menjawab pandemi narkoba di Amerika Serikat. Lewat program ini, Amerika Serikat membiayai militer dan polisi di negara produsen narkoba seperti Kolombia dan Meksiko untuk mengambil kebijakan militeristis dalam menghadapi gembong narkoba.

Baca Juga:

4 Kebohongan Solo yang Nggak Tertulis di Brosur Wisata

Untuk Warga Surabaya, Stop Menormalisasi Bayar Parkir kepada Juru Parkir di Toko Atau Minimarket yang Bertuliskan ‘Parkir Gratis’!

Hasilnya? Jumlah pengguna narkoba di Amerika Serikat tidak berkurang. Sejak genderang perang terhadap narkoba ditabuhkan, sudah ada 31 juta warga Amerika Serikat yang ditangkap menggunakan narkoba. Artinya satu dari sepuluh penduduk Amerika Serikat ketahuan menggunakan narkoba. Jika menggunakan statistik terbaru, 46 persen narapidana di penjara federal dipidana karena narkoba berdasarkan data Badan Pemasyarakatan Amerika Serikat.

Malahan War on Drugs membantu menciptakan sistem korup penjara-penjara di Amerika Serikat. Di mana sebelum era 1980-an, mayoritas penjara dikelola Pemerintah Federal atau Pemerintah Negara Bagian. Namun, pertambahan ribuan narapidana pengguna narkoba non-pelaku kekerasan membuat banyak negara bagian mulai memprivatisasi penjara.

Perusahaan pengelola penjara ini lalu mengambil keuntungan bukan hanya dari dana bantuan pemerintah dan spekulasi saham, tapi juga dari tenaga kerja upah murah dari para narapidana. Mereka dibayar kurang dari 1 persen UMR nasional Amerika Serikat dan dipergunakan oleh perusahaan pengelola penjara untuk bekerja bahkan di luar penjara. War on Drugs di Amerika Serikat pun akhirnya cuma berakhir sebagai ladang cuan bagi para pengusaha korup untuk mendapatkan keuntungan dari buruh upah murah.

Lalu bagaimana dengan negara Amerika Latin yang dulu juga ikut terlibat dalam proyek War on Drugs Amerika Serikat? Mantan Presiden Kolombia Cesar Gaviria pernah membuat opini di New York Times untuk memperingatkan Duterte akan bahaya siklus kekerasan dari War on Drugs. Dulu Cesar Gaviria pernah mengerahkan militer pada era pemerintahannya untuk melawan Kartel Medellin di bawah pimpinan Pablo Escobar.

Namun, Presiden Kolombia itupun akhirnya ditampar kenyataan pahit. Seberapa keras dia berusaha membasmi Kartel Medellin dengan militer, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kemiskinan, minimnya akses kesehatan, hingga sistem pemerintahan korup adalah faktor utama yang membuat gembong narkoba berkuasa. Berapa banyak militer dikirim Pemerintah Kolombia, Kartel Medellin bisa merekrut lebih banyak suporter dan tentara dari elemen termiskin Kolombia dengan iming-iming uang. Berapa banyak uang yang digelontorkan Pemerintah Kolombia ke kepolisiannya, Pablo Escobar bisa memberi lebih banyak lagi uang sogokan ke anggota kepolisian.

Bahkan setelah Pablo Escobar mati ditembak tim kepolisian Kolombia dengan bantuan intelijen Amerika Serikat, masalah narkotika tidak selesai di Kolombia. Kartel Medellin langsung digantikan oleh Kartel Cali. yang bahkan menjadi kartel narkoba lebih besar daripada Kartel Medellin. Lalu apa yang terjadi setelah pimpinan Kartel Cali ditangkap? Mereka digantikan oleh Kartel Norte de Valle di Kolombia dan Kartel Sinaloa di Meksiko yang menggantikan Kartel Cali sebagai pemasok narkoba nomor satu ke Amerika Serikat. Begitulah siklus perang melawan narkoba ala Amerika Serikat yang berhasil menghancurkan satu kartel untuk digantikan dengan kartel lain.

Sekarang Cesar Gaviria yang merupakan anggota Komisi Global untuk Kebijakan Narkoba bersama banyak mantan pemimpin dunia lainnya memperingatkan Duterte bahwa dia melakukan kesalahan sama yang dilakukan Kolombia. Bahwa War on Drugs hanya akan menyisakan banyak jenazah warga sipil tak berdosa tanpa menyelesaikan masalah narkoba yang akan terus berulang. Tanpa menyelesaikan akar masalah penggunaan narkoba, War on Drugs tidak lebih siklus kekerasan yang terus berulang tanpa ada solusi.

Jadi, Bung Tirta, sampe sini sudah paham?

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 24 September 2021 oleh

Tags: kartel medellinmiliteristiknarkobapemberantasan narkobapilihan redaksirodrigo dutertewar on drugs
Raynal Payuk

Raynal Payuk

Mantan Pers Kampus Dalam Pencarian Jati Diri dan Pekerjaan. Saat ini menjadi seorang pemikir yang sedang berusaha memecahkan paradoks tertua umat manusia

ArtikelTerkait

Wahai Pria, Ini 5 Cara Pakai Skincare biar Muka Nggak Burik Terminal Mojok.co

Wahai Pria, Ini 5 Cara Pakai Skincare biar Muka Nggak Burik

8 Februari 2023
8 Rekomendasi Kopi Sachet yang Bikin Mata Melek Semalaman untuk Belajar, Kerja, Atau Melawan Oligarki

8 Rekomendasi Kopi Sachet yang Bikin Mata Melek Semalaman untuk Belajar, Kerja, Atau Melawan Oligarki

13 Februari 2025
5 Mobil yang Perlu Dihindari di Jalan Raya selain Pajero dan Fortuner demi Keselamatan Diri Sendiri

5 Mobil yang Perlu Dihindari di Jalan Raya selain Pajero dan Fortuner demi Keselamatan Diri Sendiri

28 Agustus 2024
Kuliah di Jurusan Manajemen 8 Semester, Setelah Lulus Baru Sadar kalau Jurusan Ini Nggak Layak Dipilih

Kuliah di Jurusan Manajemen 8 Semester, setelah Lulus Baru Sadar kalau Jurusan Ini Nggak Layak Dipilih

15 Mei 2025
Bojong, Daerah Terbaik untuk Menepi di Tengah Kota Magelang yang Kian Menyebalkan Mojok.co

Bojong, Daerah Terbaik untuk Menepi di Tengah Kota Magelang yang Kian Menyebalkan

21 Juli 2024
Sejarah Heroin: Berawal dari Obat Batuk, Berakhir Menjadi Barang Terkutuk

Sejarah Heroin: Berawal dari Obat Batuk, Berakhir Menjadi Barang Terkutuk

25 Agustus 2022
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

Sisi Gelap Dosen Swasta yang Jarang Dibicarakan Orang

12 Januari 2026
Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

Nasib Warga Dau Malang: Terjepit di Antara Kemacetan Kota Wisata dan Hiruk Pikuk Kota Pelajar

17 Januari 2026
6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet Mojo.co

6 Warna yang Dibenci Tukang Bengkel Cat Mobil karena Susah dan Ribet

13 Januari 2026
Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan Pembayaran QRIS ke Pembeli  Mojok.co

Dear Konsumen, Jangan Mau “Ditipu” Warung yang Mengenakan Biaya Tambahan QRIS ke Pembeli 

17 Januari 2026
5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang Mojok.co

5 Hal yang Perlu Diperhatikan Pemula Sebelum Ikut Kelas Pilates selain Persiapan Uang

12 Januari 2026
Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

Meski Bangkalan Madura Mulai Berbenah, Pemandangan Jalan Rayanya Membuktikan kalau Warganya Dipenuhi Masalah

17 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=ne8V7SUIn1U

Liputan dan Esai

  • 2016 bagi Milenial dan Gen Z adalah Tahun Kejayaan Terakhir sebelum Dihajar Realitas Hidup
  • Brownies Amanda Memang Seterkenal Itu, Bahkan Sempat Jadi “Konsumsi Wajib” Saat Sidang Skripsi
  • Kengerian Perempuan saat Naik Transportasi Umum di Jakarta, Bikin Trauma tapi Tak Ada Pilihan dan Tak Dipedulikan
  • Pascabencana Sumatra, InJourney Kirim 44 Relawan untuk Salurkan Bantuan Logistik, Trauma Healing, hingga Peralatan Usaha UMKM
  • Luka Perempuan Pekerja Surabaya: Jadi Tulang Punggung Keluarga, Duit Ludes Dipalak Kakak Laki-laki Nggak Guna
  • Bagi Zainal Arifin Mochtar (Uceng) Guru Besar hanya Soal Administratif: Tentang Sikap, Janji pada Ayah, dan Love Language Istri

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.