Dilema Nggak Kuat Makan Pedas: Dari Dianggap Cupu Sampai Sakit Perut – Terminal Mojok

Dilema Nggak Kuat Makan Pedas: Dari Dianggap Cupu Sampai Sakit Perut

Artikel

Saya termasuk orang yang kurang menikmati cita rasa suatu makanan ketika rasanya terlalu pedas. Iya, saya nggak kuat dengan sensasi pedas. Atas ketidakmampuan saya dalam mentolerir pedas, saya sering kali dibilang cupu oleh beberapa teman. Ada juga yang bilang lemah. Padahal, cupu atau lemahnya seseorang, kan, nggak dilihat dari hal itu. Ya mau gimana, saya memang bisa dibilang nggak biasa makan pedas.

Bukannya nggak mau, tapi, toleransi saya terhadap sensasi pedas memang nggak sekuat banyak teman di sekitar saya. Lha, terus saya harus gimana? Masa harus memaksakan diri, sih? Pernah, sebetulnya. Tapi, malah berujung pada sakit perut. Nggak nyaman. Pedesnya lama hilang. Tenggorokan juga sakit. Hadeeeh.

Beberapa kali ketika sedang makan bersama, teman saya bertanya tentang tingkat kepedasan menu makanan yang saya pesan. Kala itu, saya memesan bakmi di warung pinggiran, “Kamu pesen mienya pedes nggak, Mas?” Untuk cari aman, saya hanya memesan dengan tingkat kepedasan yang sedang. Nggak lama, saya malah mendengar komentar yang julid, “Lemah kamu, Mas. Cupu. Cowok kok nggak kuat pedas.”

Ini sejak kapan ada aturan tidak tertulis kalau cowok harus kuat makan pedas, sih? Bikin susah yang nggak suka makan pedas aja.

Pernah sesekali saya coba memesan makanan yang pedas dengan sambal bejibun pada satu mangkuk bakso yang saya pesan untuk menantang diri. Tapi, karena dasarnya memang nggak kuat makan pedas, akhirnya saya menambahkan banyak kecap. Betul-betul merepotkan untuk bisa beradaptasi dengan rasa pedas—biar nggak dibilang cupu lagi. Walaupun masih pedas, setidaknya ada rasa manis dari kecap. Kecap is my savior.

Saya sendiri sampai dengan saat ini masih kebingungan dan mempertanyakan, kok ada orang yang kuat makan makanan yang pedas banget? Itu caranya gimana? Bawaan lahir gitu? Beberapa teman saya bilang, katanya kalau mau kuat makan makanan pedas, tinggal dibiasakan aja. Tapi, pembiasaannya berapa lama?

Baca Juga:  Pengalaman Spiritual yang Saya Alami Saat Bertemu Rawon Kuah Kecap

Pedas itu selera. Bahkan, saya pun sempat bertanya kepada beberapa teman saya yang kuat sekali makan makanan pedas. Saya kepengin tahu, kalau bisa sih belajar: Gimana caranya mereka bisa tahan dengan rasa yang begitu pedas pada makanan yang mereka cicipi? Dari sekian banyak teman yang saya tanya, mereka mengaku tidak menyukai pedas begitu saja. Mereka, awalnya pun harus beradaptasi. Menyicipi level pedas secara bertahap.

Misal begini, awal mula, ketika makan bakso, banyaknya sambal yang mereka tuang satu atau dua sendok. Jika masih tahan pedasnya, tambah jadi tiga-empat sendok, dan seterusnya, dan seterusnya. Sampai akhirnya teman saya kuat dan terbiasa dengan sensasi pedas dari sambal. Yang harus diketahui, mereka yang kuat makan pedas pun bukan berarti nggak kepedesan ketika makan. Mereka masih huh-hah-huh-hah karena pedasnya sambal, kok. Bedanya lebih tahan aja dan lanjut makan seperti biasa. Setidaknya dibanding saya.

Selain itu, yang kuat makan makanan pedas pun masih rentan sakit perut. Mulut boleh jadi kuat, tapi perut berkehendak lain.

Memang, setelah saya tanya lebih dalam lagi kepada beberapa teman saya, mereka menyukai makanan pedas sejak lama. Setidaknya mulai dari SMP. Tentu perbandingannya begitu jauh dengan saya yang baru saja menjadi penikmat pedas pemula. Itu pun masih perlu pembiasaan dan masih nggak kuat. Perlu cadangan air minum yang lebih banyak pas lagi kepedesan. Setidaknya, kini saya lebih terbiasa menyantap makanan pedas dan tidak lagi dibilang cupu oleh sebagian teman.

Baca Juga:  Meningkatnya Pamor Nasi Goreng Tanpa Kecap di Tangan Selebtwit

Bagi pecinta pedas, makanan memang dirasa kurang enak jika tidak ditambahkan sambal pada setiap hidangannya. Rasanya ada yang kurang jika rasa makanan tidak ada pedasnya sama sekali. Kurang nikmat. Namun, kembali lagi, kalau nggak kuat pedas, nggak perlu dipaksakan. Dan untuk kita yang nggak kuat pedas, baiknya nggak perlu memaksakan. Yang ada malah menyiksa diri.

Terakhir, saya ada sedikit saran, lebih tepatnya mengingatkan kepada teman-teman yang gemar memakan atau mencocol sambal menggunakan tangan. Ingat untuk selalu mencuci tangan setelah makan sambal, ya. Utamanya sih sebelum cebok setelah pipis atau pup. Kalau sampai lupa, kebayang kan gimana-gimananya~

BACA JUGA Petualangan Pemula dalam Menikmati Sambal atau tulisan Seto Wicaksono lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.




Komentar

Comments are closed.