Terminal Mojok
Kirim Tulisan
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Film
    • Sinetron
    • Anime
    • Musik
    • Serial
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Kecantikan
    • Game
    • Gadget
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Terminal Mojok
Kirim Tulisan
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
  • Gaya Hidup
  • Kunjungi MOJOK.CO
Home Artikel

Dilema Mahasiswa yang Kuliah di IAIN Tapi Rasa STAIN

Nina Fitriani oleh Nina Fitriani
8 Oktober 2019
A A
stain

stain

Share on FacebookShare on Twitter

“Mbak, kuliah di mana?”

“Pekalongan, Pak.”

“Oh, STAIN?”

“Hehe, iya itu.” Padahal dalam hati—yaelah Pak, udah ganti IAIN sejak tiga tahun lalu. Tapi yang keluar cuma cengiran aja. Mau nyolot begitu takut dosa. wqwq

Kurang lebih begitu, percakapan yang sering terjadi antara bapak-bapak dan ibu-ibu jika mereka bertanya kuliah di mana. Ya gimana lagi, sejak dulu mereka kenalnya STAIN, mau berubah jadi IAIN atau UIN sekalipun, di hati mereka ya tetap aja STAIN forever.

Jadi buat mahasiswa yang kuliahnya di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri pasti mengalami hal semacam ini. Mereka manut-manut saja, mau dibilang apapun yang penting kuliah. Karena kadang dijelaskan pun, bapak-bapak dan ibu-ibu tydac juga paham. Apa boleh buat, buang tenaga aja, kan?

Seperti kejadian beberapa hari lalu, ada seorang ibu yang bertanya kuliah di mana. Karena mood sedang bagus-bagusnya untuk menjelaskan panjang kali lebar kali tinggi, akhirnya tak jawab, kuliah di IAIN Pekalongan. Dahi ibu paruh baya itu berkerut, analisis simple-nya bingung, aneh, ragu, lucu, ih emang ada. Perasaan hanya ada STAIN, Unikal, STIE, STIKES, STIMIK.

Karena tidak kunjung paham, akhirnya saya menyerah dan menyebut, STAIN, Bu. Dulu namanya memang STAIN, tapi sekarang sudah jadi IAIN. Baru sang ibu mengangguk tahu.

Baca Juga:

Betapa Dangkal Cara Berpikir Mereka yang Menganggap Jadi IRT Adalah Aib

Honda CRF, Motor Sok Gagah dan Menyebalkan yang Semoga Saja Segera Lenyap dari Jalanan

“Kalau STAIN paham, kalau IAIN nggak tau.” Si ibu berujar begitu. Lalu kembali bertanya lagi, “Kenapa ganti IAIN, Mbak? Padahal kan lebih enak ngomong STAIN daripada IAIN. Toh sama saja.”

Siapa yang tidak gemas mendengar pertanyaan si ibu yang begitu? Rasanya ingin cium pipi kanan dan kirinya dengan penuh kasih sayang ehhh, tidak jadi. hehe

Saya jelaskan sedikit. Menurut UU nomor 12 tahun 2002 tentang Pendidikan Tinggi dijelaskan bahwa Institut merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam sejumlah rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, institut dapat menyelenggarakan pendidikan profesi (pasal 59 ayat 3).

Sedangkan Sekolah Tinggi merupakan Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan dapat menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu rumpun Ilmu Pengetahuan dan/atau Teknologi tertentu dan jika memenuhi syarat, sekolah tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan profesi (pasal 59 ayat 4).

Berdasarkan bunyi UU di atas, dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara STAIN dan IAIN terletak pada kata satu rumpun ilmu pengetahuan (untuk STAIN) dan sejumlah rumpun ilmu pengetahuan (untuk IAIN).

Rumpun ilmu pengetahuan yang dimaksud di sini tentu saja adalah ilmu keislaman yang menjadi napas dalam Perguruan Tinggi Keagamaan Islam, di mana terdiri atas Tarbiyah, Syariah, Ushuludian, Adab dan Dakwah.

Artinya adalah alih status dari STAIN menjadi IAIN juga membawa dampak pada rumpun ilmu pengetahuan yang cakupannya lebih luas lagi, dalam hal ini seperti bertambahnya jurusan baru yang sebelumnya tidak ada. Seperti misalnya jurusan Pendidikan Bahasa Inggris atau Pendidikan Matematika dan lain sebagainya.

Selain itu, ketika menjadi IAIN, struktur kelembagaannya pun berubah. Tidak ada lagi Ketua atau Pembantu Ketua (PK), melainkan berganti dengan Rektor dan Wakil Rektor. Tidak ada lagi ketua program pendidikan (prodi), namun sudah berganti menjadi ketua jurusan (kajur).

Hal paling kentara dan nyata terasa dari perubahan alih status ini adalah terdapat pada pembayaran uang kuliah tunggal (UKT) bagi mahasiswa. Ketika masih STAIN, per semeter mahasiswa masih ada yang bisa menikmati UKT di bawah satu juta rupiah, berbeda jauh dengan mahasiswa baru yang masuk ketika sudah alih status ke IAIN.

Jadi buat ibu-ibu dan bapak-bapak sekalian, bagi yang sering mengatakan STAIN dan IAIN sama saja, tolong diresapi tulisan ini baik-baik. Memang benar sih, STAIN atau IAIN sama-sama perguruan tinggi, tapi tetap saja, kedua hal itu beda jika ditinjau dari berbagai sisi.

Pemahaman perbedaan ini penting bagi kami—mahasiswa yang kuliah di IAIN rasa STAIN—biar tidak dilema lagi ketika ditanya orang-orang.

“Mbak, kuliah dimana?”

“IAIN, Pak.”

“Oh, IAIN tho.”

Biar begitu yang keluar, bukan lagi percakapan seperti tulisan paling atas. (*)

BACA JUGA Sastra Pesantren Kekinian: Jangan Cuma Bahas Kasih Tak Sampai atau tulisan Nina Fitriani lainnya.

Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara ini ya.

Terakhir diperbarui pada 8 Oktober 2019 oleh

Nina Fitriani

Nina Fitriani

Alumnus UIN Gusdur yang bertumbuh di LPM Al Mizan. Saat ini bekerja sebagai karyawan kantoran. Hobi membaca buku, menonton drama, traveling, serta berdiskusi terkait isu-isu pemerintahan dan kebijakan publik

ArtikelTerkait

Ingin Menjadi Minky Momo Setelah Dewasa

Betapa Enaknya Menjadi Minky Momo Ketika Dewasa

13 Maret 2020
Alasan Saya Kecewa deangan Stasiun Palur Karanganyar Mojok.co

Alasan Saya Kecewa dengan Stasiun Palur Karanganyar

14 November 2023
Kendaraan Plat F Adalah Maut, Musuh Bersama Pengendara Se-Jadetabek!

Kendaraan Plat F Adalah Maut, Musuh Bersama Pengendara Se-Jadetabek!

29 Juli 2024
5 Rekomendasi Manhwa Terbaik yang Nggak Boleh Dilewatkan

5 Rekomendasi Manhwa Terbaik yang Nggak Boleh Dilewatkan

28 Oktober 2024
persebaya

Persebaya Bukan AC Milan, Surabaya Bukan Napoli

20 Juni 2020
Sorowajan, Daerah Langganan Ngopi dan Diskusi Ndakik-ndakik Mahasiswa UIN Jogja

Sorowajan, Daerah Langganan Ngopi dan Diskusi Ndakik-ndakik Mahasiswa UIN Jogja

17 April 2023
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

Kuliah di UT Sudah Paling Benar, Belajarnya Nggak Instan tapi Terstruktur dan Nggak Bikin Manja

29 Januari 2026
Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

Pengendara Mobil Nggak Usah Ikut-ikutan Lewat Jalan Tikus, Kalian Nggak Diajak!

31 Januari 2026
Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan Padahal Tarif Mahal, Bukan Bebas Hambatan Malah Jadi Terhambat

Tol Trans Sumatera Kayu Agung–Palembang Bikin Istigfar: Jalan Berlubang, Licin, Minim Penerangan padahal Tarif Mahal~

30 Januari 2026
Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

Pengalaman Menginap di Bobocabin Pacet Mojokerto: Tenang dan Nyaman, tapi Nggak Cocok buat Penakut

28 Januari 2026
Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang (Foto milik Hammam Izzudin)

Kopi Klotok Jogja Tidak Buka Cabang karena Fenomena Ndeso Itu Mewah Tidak Bisa Ditiru

26 Januari 2026
Air Terjun Tretes Wonosalam, Bukti Jombang Nggak Miskin Wisata Alam Mojok.co

Jombang Lantai 2: Sebutan Baru Wonosalam buat Menantang Pacet di Wisata Pegunungan

27 Januari 2026

Youtube Terbaru

https://www.youtube.com/watch?v=e8VJPpjKf2Q

Liputan dan Esai

  • Misi Mulia Rumah Sakit Visindo di Jakarta: Tingkatkan Derajat Kesehatan Mata dengan Operasi Katarak Gratis
  • DLH Jakarta Khilaf usai Warga Rorotan Keluhkan Bau Sampah dan Bising Truk dari Proyek Strategis Sampah RDF
  • Fakta Pahit soal Stunting. Apabila Tidak Diatasi, 1 dari 5 Bayi di Indonesia Terancam “Bodoh”
  • Indonesia Hadapi Darurat Kualitas Guru dan “Krisis Talenta” STEM
  • Kisah Pelajar SMA di Bantul Melawan Trauma Pasca Gempa 2006, Tak Mau Kehilangan Orang Berharga Lagi
  • Ironi Jogja yang “Katanya” Murah: Ekonomi Tumbuh, tapi Masyarakatnya Malah Makin Susah

Konten Promosi



Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Tulisan
Ketentuan Artikel Terminal
Kontak

Kerjasama
F.A.Q.
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Nusantara
  • Kuliner
  • Kampus
    • Pendidikan
  • Ekonomi
  • Teknologi
  • Olahraga
  • Otomotif
  • Hiburan
    • Anime
    • Film
    • Musik
    • Serial
    • Sinetron
  • Gaya Hidup
    • Fesyen
    • Gadget
    • Game
    • Kecantikan
  • Kunjungi MOJOK.CO

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.